Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 183



Gabby mencakar, menarik rambut George dan Marvel. Ia tak perduli yang mana suaminya dan mana Daddy dari anak yang ia kandung. Semuanya mendapatkan serangan dari wanita yang sedang berjuang untuk melahirkan itu.


George ingin sekali mengusap kening Gabby, mengecupnya, membisikkan kata-kata yang bisa menguatkan Gabby. Namun apa boleh buat, ia bukan suaminya. Sakit ... rasanya tak terdefinisikan.


George hanya bisa melihat Marvel yang melakukan semua itu. Bisa mendampingi Gabby di dalam ruangan itu saja sudah membuat hatinya lega.


Suara tangisan bayi mulai terdengar di ruang bersalin itu. Bayi mungil yang masih merah itu sedang digendong oleh Dokter yang membantu persalinan.


“Selamat, anak anda laki-laki,” ujar Dokter. Ia lalu memberikan bayi mungil itu ke perawat untuk mendapatkan penanganan selanjutnya.


George bahagia melihat anak pertamanya dengan Gabby. Lalu ia beralih menatap wanita yang terkulai lemas dengan menitikan air mata bahagia. Uh ... lagi-lagi ia harus menahan dirinya. Ia ingin mengecup kening Mommy dari anaknya, mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena sudah rela mempertahankan buah hatinya.


Namun ia hanya bisa mengucapkan, “selamat, kau wanita terhebat yang pernah ada di dalam hidupku. Terima kasih telah melahirkan anakku.” Air matanya menetes bersamaan dengan ulasan senyum tipisnya.


Gabby masih menangis haru, ia hanya mengangguk memberikan jawaban. Ia sedang tak bisa berkata apa-apa. Rasanya begitu campur aduk. Sakit, senang, semua bercampur menjadi satu.


George hanya bisa berdiri tegak di sana. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Memandangi wanita yang ia cintai sedang berada di dalam dekapan sang suami. Seharusnya ia bisa melakukan itu, jika takdir sedang tak ingin menertawakannya seperti saat ini.


...........


Gabby sudah dipindahkan ke ruang rawatnya. Ia juga sudah istirahat setelah melahirkan. Rasanya lelah dan sangat menguras tenaga.


Anak Gabby dan George lahir dengan sehat dan sempurna. Wajahnya tampan seperti Daddynya.


Sekarang bayi itu sedang ada di dalam gendongan Marvel. Wajah pria itu sangat bahagia seolah sedang bersama anak kandungnya.


George hanya melihat kebersamaan keluarga kecil itu dari sofa yang ia duduki. Ia tak ingin merusak kebahagiaan Marvel yang mungkin sebentar lagi tak bisa merasakan hal itu.


“Ayo kita berfoto,” ajak Gabby.


Seperti biasa, wanita itu sesungguhnya sangat senang mengabadikan momen kebersamaan. Baginya, itu adalah kenangan untuk dikenang di masa depan.


George mengangguk dan berdiri. Ia memotret Gabby, Marvel, dan bayinya terlebih dahulu. Lalu ia bertukar posisi dengan Marvel. Dan berujung dengan mereka berfoto berempat.


Hasilnya bagus semua dan terlihat bahagia. Tak ada yang memasang wajah sedih.


Polisi yang mengantarkan Marvel, masuk untuk menjemput tahanannya. “Waktu anda habis,” ujarnya.


Marvel mengangguk mengerti. Ia mencium bayi mungil itu dan memberikannya kepada Gabby. “Aku harus kembali, kau harus terus sehat untuk merawat anakmu,” ujarnya mengelus rambut istrinya. Lalu ia meninggalkan kecupan di kening Gabby.


Gabby mencoba tak menitikan air matanya, walau ia merasa sedih. Entahlah, ia tak paham dengan perasaannya dengan Marvel. Yang jelas, Marvel adalah suaminya. “Hati-hati, jaga dirimu baik-baik di sana.” Ia mengusap pipi suaminya sebelum pergi meninggalkannya.


Marvel mengayunkan kakinya untuk keluar ruangan. Ia berhenti sejenak di hadapan George. Ia mengulurkan tangannya. “Terima kasih, kau sudah banyak membantuku.”


George membalas uluran tangan itu. “Aku hanya ingin membagi kebahagiaan untukmu,” balasnya.


Marvel mengangguk. “Kau orang baik, semoga hidupmu selalu dilimpahkan kebahagiaan oleh Sang Pencipta.”


George hanya mengangguk menanggapinya.


“Kau sudah tahu kan tanggal eksekusiku?” tanya Marvel.


“Sudah,” balas George.


“Aku ingin kau datang dengan anakmu juga. Aku ingin melihatnya juga sebelum menghembuskan nafas terakhirku,” pinta Marvel.


“Akan ku usahakan.”


Marvel lalu dibawa oleh polisi untuk kembali ke tahanan.


Gabby hanya bisa melihat kepergian suaminya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Hari ini rasanya sedang campur aduk semuanya.


George mendekati anaknya. Ia mengambil alih dari tangan Gabby. Ia menggendongnya dan mengecupnya dengan penuh cinta.


Sampai detik ini, George tak berani mengecup Gabby. Ia cukup sadar diri akan posisinya.


...........


...Maafin ya, aku beberapa hari ini ga balesin komen kalian. Aku fokus nulis, mau cepet tamatin cerita ini. Sehari udah up 10 part padahal, tapi kok ga tamat-tamat perasaan....