
Hembusan angin lautan di malam hari begitu kencang. Surai yang tengah digerai oleh sang pemilik itu bergerak seirama dengan terpaan udara dingin di sana. Wanita cantik itu masih setia menikmati kesendiriannya. Tangannya mengusap lengannya untuk menyalurkan kehangatan.
Dari arah belakang, George yang baru saja selesai mandi, melihat Gabby yang tengah duduk termenung itu. Ternyata lebih enak melihat wanita itu marah-marah daripada diam seperti saat ini.
Otak jahilnya mulai bekerja. George perlahan melangkahkan kakinya, sebisa mungkin ia tak mengeluarkan suara.
Gabby sungguh tak mendengar langkah kaki pria itu. Bahkan ia tak sadar jika George sudah berada di belakangnya.
Ide gila George yang ingin membuat Gabby kembali galak, mulai ia lakukan.
George melepaskan jaket dengan bulu angsanya. Tanpa aba-aba, Ia menyelimuti Gabby dari belakang dan melingkarkan tangannya pada leher wanita itu, dari balik tubuh Gabby tentunya.
Gabby yang kaget, karena sedang melamun, pun, menengok ke belakang. Dan ...
Cup!
George mengecup pipi wanita itu tanpa permisi. Ia langsung mengurai pelukannya seraya menyunggingkan senyum jahilnya.
Gabby membulatkan matanya. Tentu saja dia terkejut, bahkan pipinya sedikit merona.
“Kau! Kurang ajar sekali denganku!” seru Gabby setelah ia sadar dengan apa yang dilakukan oleh George.
Gabby berdiri hendak mengejar George yang terus berjalan mundur dengan langkah yang lebar.
“Jika kau terus mendekat, maka aku akan melakukan lebih dari tadi,” ancam George. Berhasil membuat kaki Gabby berhenti.
Jempol tangan George mengacung memberikan isyarat 'good' pada Gabby.
“Aku menang!” George menunjuk dirinya. “Dan kau kalah!” Ia pun menunjuk Gabby. “Coba balas aku jika kau bisa,” tantangnya.
Gabby menunduk dengan badan yang agak membungkuk hingga rambutnya terurai menutupi wajahnya. Ia mengumpulkan surai itu menjadi satu, lalu menguncirnya asal. “Kau menantangku?” Ia berucap seraya berdiri tegap dengan mengibaskan rambutnya yang tak rapi itu.
George mengangkat alisnya seolah menantang dan menunggu pembalasan dari Gabby. Ia memberikan isyarat dengan tangannya agar wanita itu maju.
Gabby berlenggak lenggok layaknya model. Namun terlihat kaku dan sungguh tak cocok.
Membuat George terkekeh geli melihatnya. “Kau terlihat seperti orang menahan kencing.” Tawanya meledak hingga perutnya terasa kram.
“Tertawalah selagi kau bisa tertawa!” Gabby terlihat begitu tenang dan tak terbaca akan rencananya.
Saat ia sudah berada di hadapan George dengan jarah satu langkah di depan pria itu. Ia menyunggingkan senyumnya. “Sudah puas tertawanya?” tanyanya saat George sudah mulai berhenti menertawakan dirinya dan kembali pada wajah aslinya.
“Jika belum, apa kau akan menghiburku lagi?”
Gabby mengedikkan bahunya dan tersenyum smirk. “Sekarang giliranku membalasmu!”
George menaikkan sebelah alisnya, ia ingin membaca gerak gerik Gabby untuk menghindari serangan wanita cantik itu. Karena ia yakin, Gabby tak akan membalas perbuatan yang sama seperti dirinya.
George melihat dari ujung kepala hingga kaki. Wajah Gabby sudah merah padam siap menerkamnya, tangan Gabby terkepal dengan kaki yang merapat. Sepertinya ia tahu bagian tubuh mana yang akan digunakan untuk menyerang dirinya. Tangan.
George fokus pada tangan Gabby yang terkepal. Ia akan bersiap-siap untuk menangkis jika tangan itu mulai melayang.
Dengan gerakan cepat, Gabby mengangkat kepalan tangannya hingga sejajar dengan kepalanya. Dan ...
Bugh!
“Argh ...!”