
George tak memaksakan untuk Gabby kecil menerima gelangnya. Mereka terus berbincang hingga keduanya merasa memiliki masalah hidup yang sama. Rasa nyaman yang tercipta saat itu juga membuat Gabby kecil akhirnya menerima gelang pemberian George.
“Sini, biar aku pakaikan,” tawar George meminta Gabby kecil mengulurkan tangannya.
“Kakak ini harus banyak belajar biar pintar, mana muat gelang kakak aku pakai! Tanganku kecil dan gelang itu besar,” kelakar Gabby kecil. “Ni, lihat.” Ia memasukkan gelang berukuran untuk anak dewasa ke dalam tangannya dan menurunkan tangannya hingga gelang itu terjatuh.
George terkekeh, lalu tangannya mencubit gemas pipi Gabby kecil. “Kau sungguh pintar,” pujinya.
“Baru sadar? Kemana saja sedari tadi, kak?” Gabby kecil menyombongkan dirinya.
Bahagia, itulah yang dirasakan George saat itu. Kesedihannya menguap sudah ketika bertemu dengan Gabby kecil.
“G2, kau dimana? ayo pulang!” teriakan yang berasal dari arah belakang mereka menghentikan obrolan keduanya.
George dan Gabby kecil melihat ke arah sumber suara. Terlihat seorang anak laki-laki kecil dan beberapa bodyguard berjalan mencari Gabby.
“Ck! Dasar pengganggu!” gerutu Gabby kecil.
“Kau dicari, apa dia kakakmu?” tanya George penasaran.
Gabby kecil menggeleng. “Bukan, dia temanku sedari kecil, dia itu pengacau!” Wajahnya kesal, kesenangan yang baru saja menghiasinya langsung berubah saat itu juga.
“Kau di sini rupanya, ayo pulang!” ujar Marvel saat ia berada di hadapan Gabby. Matanya teralihkan pada George. “Kau siapa?” tanyanya ketus dengan wajah yang terlihat tak suka.
Marvel hanya menatap tangan George tanpa membalasnya. Membuat George mendengus dan menarik kembali tangannya yang menggantung di udara.
“Ayo pulang! Jangan bermain dan berbicara dengan sembarang orang!” ajak Marvel menarik paksa Gabby. Ia tak suka melihat Gabby memiliki teman pria selain dirinya. Apa lagi ia melihat Gabby dan George sempat tertawa bersama dari kejauhan. Membuatnya tak suka dengan George.
“Aku pulang dulu, kak. Sampai bertemu lagi,” pamit Gabby melambaikan tangannya. “Aku pasti akan cepat besar,” celotehnya. Lalu mengikuti langkah kaki Marvel dan bodyguard Marvel.
George tersenyum dan melambaikan tangannya pada Gabby.
Sejak hari itu, George langsung kembali ke Amerika. Mencoba mendaftarkan beasiswa dan bekerja part time untuk menghidupi kebutuhan hidupnya. Ia sungguh memutus hubungan kepada orang tuanya. Ia ingin kedua orang tuanya sadar akan kesalahan mereka dan merasa kehilangan.
George tak pernah kembali ke Finlandia dalam kurun waktu yang sangat lama. Hingga akhirnya ia berfikiran gadis kecil itu tak akan mungkin mengingatnya, sebab mereka tak pernah bertemu lagi. Dan janjinya, ia beranggapan hanya sebuah angin lalu saja yang tak mungkin gadis kecil itu mengingatnya. Ia pun akhirnya menjalin asmara dengan Cathrine.
...Flashback off...
...........
“Dulu dia begitu lucu menggemaskan dan bijak, sekarang sudah menjadi gadis dewasa yang galak dan angkuh.” George terkekeh mengingat perbedaan wanita yang sama dengan umur yang berbeda. “Apa karena aku tak langsung mencarinya dan melupakannya hingga ia menjadi segalak dan seangkuh itu?” gumamnya.
Setelah lama ia duduk di pinggir danau, George pun memutuskan untuk pulang. Ia tak akan menyerah untuk mendekati Gabby. Janjinya akan ia tepati bagaimanapun caranya, meskipun akan sulit meyakinkan Gabby bahwa dirinya menyesal pernah menganggap sebuah janji dengan anak kecil hanyalah angin lalu saja.