Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 168



Bau yang sangat tak Gabby sukai mulai terendus oleh wanita itu. Bau rumah sakit. Lagi-lagi ia membuka matanya di tempat yang seharusnya sudah meregang nyawanya. Tapi, dia selamat lagi. Kenapa takdir begitu membuatnya bingung. Dia ingin mati, ingin menyudahi hidupnya, dan ingin hidup bahagia di alam sana. Sekeras apapun keinginan Gabby, jika Tuhan belum menghendaki, maka tak akan terjadi.


Gabby diam dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia terus memandangi langit-langit ruangan itu. Lalu ia beralih melihat seseorang yang tengah tertidur dengan memegang tangannya. Ia tersenyum.


“Kenapa hidupku harus berada diantara dua pilihan yang sulit?” gumam Gabby. Ia menarik tangannya yang mulai terasa kesemutan karena digunakan sebagai bantal oleh kepala orang yang menjaganya sepanjang malam.


“Kau sudah bangun?” tanya George saat merasakan ada pergerakan tangan.


Gabby mengangguk sebagai jawaban. “Kenapa aku tak jadi mati? Aku lelah dengan hidupku.” Air matanya lagi-lagi keluar. “Aku juga ingin hidup bahagia seperti yang lainnya, sekali saja. Meskipun hanya sebentar, setidaknya aku pernah merasakan kebahagiaan,” keluhnya dengan melihat plafon.


“Kenapa kau ingin mati? Ada nyawa yang harus kau jaga sekarang.” George mengusap lembut perut Gabby yang masih rata.


Gabby melihat pergerakan tangan itu, lalu ia beralih menatap George. “Apa maksudmu?”


George mengulas senyumnya. Tangan kirinya ia gunakan untuk memberikan sentuhan lembut di pipi wanita yang ia cintai, dan tangan kanannya tetap mengelus perut rata itu. “Kau hamil, memasuki lima minggu,” jelasnya.


Tangan Gabby yang terinfus mulai menyentuh perutnya. “Hamil?” gumamnya.


George mengangguk membenarkan. “Anak kita,” ujarnya senang.


Gabby terdiam sejenak, ia menitikan lagi air matanya untuk kesekian kalinya. “Bagaimana bisa? Kita hanya melakukannya sekali dan aku pengkonsumsi obat tidur,” lirihnya dengan suara yang tercekat.


“Tak ada yang tak mungkin, jika Tuhan menghendaki,” ujar George lembut. Kedua tangannya terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut.


George mengeluarkan sapu tangannya. Ia menyeka air mata Gabby. “Kenapa kau menangis? Apa kau tak bahagia?” tanyanya.


Gabby menggeleng. “Aku bahagia, tentu saja aku senang diberikan kepercayaan untuk mengandung. Tapi—” Tenggorokannya semakin tercekat, ia tak kuat melanjutkan bicaranya.


George sudah siap mendengar kelanjutannya. Ia menaikkan sebelah alisnya. “Tapi apa?”


Gabby membasahi bibirnya yang terasa kering dengan menjulurkan lidahnya. “Bagaimana perasaan Marvel? Dia suamiku, tapi aku hamil dengan pria lain.”


George menghembuskan nafasnya pelan. “Aku sudah pernah mengatakannya padamu saat kau memilih Marvel sebagai suamimu. Inilah yang aku takutkan, dan sungguh terjadi sekarang. Aku pernah berkata padamu jika kau bisa saja hamil anakku, tapi kau tak mempercayainya.”


Gabby menatap George lagi dengan matanya yang berkaca-kaca. “Kau menyalahkanku?”


Pria itu menggeleng. “Tidak, aku hanya menghindari hal seperti ini terjadi. Aku hanya tak ingin semuanya menjadi rumit.”


“Aku hanya tak ingin menyakiti siapapun. Aku tak ingin menyakiti hati Marvel yang sudah berjuang melawan rasa sakit untuk putus dari narkoba. Aku melihat semua perjuangannya.” Gabby menyentuh pipi George. “Maaf, karena aku tak memilihmu. Aku sungguh bingung saat itu.”


George menumpuk tangannya dengan milik Gabby yang berada di pipinya. Ia memberikan usapan lembut pada punggung tangan itu. “Lalu, kau lebih memilih menyakiti hatimu sendiri? Kau membuat semuanya yang mudah menjadi rumit. Jika saja waktu itu kau memilihku, semua tak akan seperti ini. Kita bisa menyatukan cinta kita.” Tatapannya begitu hangat menenangkan jiwa.


Gabby menggelengkan kepalanya. “Aku tahu rasanya bertepuk sebelah tangan, rasanya diabaikan. Aku tak ingin membuat orang lain merasakan hal itu karena diriku.”


“Kau mengatakan jika Papamu egois? Tapi kau lebih egois. Kau mementingkan perasaan orang lain dan mengabaikan perasaanmu sendiri. Itu sama saja kau egois.”