
“George, apa kehidupanku di masa lalu terlalu banyak dosa? Sehingga kehidupanku saat ini begitu rumit?” keluh Gabby setelah ia menghabiskan makanannya disuapi oleh George.
“Kenapa kau berpikir seperti itu?” George kembali duduk di samping Gabby setelah meletakkan nampan di atas meja.
“Kenapa hidupku tak pernah bahagia? Aku ingin merasakan kebahagiaan, meskipun hanya sekali,” ujar Gabby menatap George.
George menyatukan jemarinya dengan milik Gabby. Lalu ia melemparkan senyumnya yang sangat menawan. “Bukankah kau pernah mengatakan padaku jika bahagia berasal dari diri sendiri?” Ia mengingatkan kembali ucapan Gabby saat kecil.
Gabby terdiam, memang benar apa yang diucapkan oleh George. Ia tak menanggapi lagi. Berkali-kali ia menanamkan kebahagiaan dalam diri sendiri, tapi tetap berujung kepedihan juga yang ia rasakan.
George kembali mengusap wajah Gabby. Ia menyingkirkan anak rambut yang berada di kening wanita itu. “Sekejam apapun duniamu, aku akan mencoba membuatmu bahagia.”
...........
Satu minggu berlalu, selama itu Gabby mendapatkan perawatan di rumah sakit karena tubuhnya yang dehidrasi. Ditambah sedang hamil muda.
George selalu menemani Gabby tanpa libur. Bahkan ia mengambil cuti kerjanya demi menemani Gabby. Ia tak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk dengan wanita yang ia cintai dan calon anaknya.
Saat ini George sedang mengemasi barang-barang Gabby. Segala keperluan wanita itu George yang mengurusi.
Klek!
Gabby menyembul keluar dari kamar mandi, ia baru saja selesai mandi. Ia menghampiri George. “George, aku ingin bertemu Marvel. Aku ingin melihat bagaimana kondisinya,” ujarnya. “Bisa kau mengantarku ke sana?” pintanya kemudian.
George menutup tas jinjing yang berisi segala keperluan Gabby selama di rumah sakit. Ia mengajak Gabby duduk di ranjang pasien.
Pria itu lalu menumpuk tangannya di atas tangan Gabby. “Marvel belum bisa dijenguk. Tapi percayalah, dia pasti akan baik-baik saja.”
“Aku mengkhawatirkannya.”
“Jangan memikirkannya. Aku yang akan mengurusnya, aku akan mencoba membantunya agar tak mendapatkan hukuman berat. Semampuku.”
“Sungguh?”
Gabby mengangguk dan ikut memberikan sentuhan di perutnya. Ia juga tak ingin terjadi hal buruk dengan calon anaknya.
“Sekarang, kita pulang, ya?” ajak George. Ia sudah mengambil tas jinjing Gabby.
Gabby mengangguk memberikan Jawaban.
George melingkarkan tangannya di pundak Gabby. Ia membantu wanita itu berjalan. Ia sangat ingin menjaga Gabby dan calon bayinya.
...........
“Kenapa kita berhenti di sini?” tanya Gabby saat mobil George sampai di apartemen milik George.
George menatap Gabby. “Aku ingin merawatmu dan juga calon anakku, semua akan mudah ku lakukan jika kita tinggal bersama,” jelasnya.
“Tapi, apa kata orang lain? Kau bukan suamiku,” tolak Gabby.
“Tapi, aku Daddy dari bayi yang ada di dalam perutmu,” timpal George. “Kau tak ingin hanya tinggal berdua denganku?” tanyanya kemudian.
Gabby mengangguk. “Aku hanya tak enak, aku wanita bersuami, tapi aku mengandung dari pria lain. Hidupku terlalu rumit.”
George terkekeh dengan keluhan Gabby. “Semua sudah jalan yang kau pilih, kau sendiri yang memperumit sesuatu hal yang harusnya mudah.” Ia mengelus rambut Gabby.
Gabby mendengus dan mengerucutkan bibirnya. Ia lalu mencubit George. “Kau menyalahkan keputusanku?”
George mengaduh karena cubitan itu, namun ia mengangguk memberikan jawaban dari pertanyaan Gabby.
Semakin mengerucut saja bibir wanita itu. Membuat George sangat gemas.
“Jangan memasang wajah seperti itu, aku tak ingin berbuat melampaui batasku jika terus melihat wajahmu yang sangat ingin ku terkam,” kelakar George.