
George diam, ia tak ingin menanggapi apa yang dikatakan oleh Sophie. Namun ia berfikir, apa mungkin benar yang dikatakan oleh Sophie jika dirinya menyukai Gabby?
Rasanya berbeda ketika ia berdekatan dengan Gabby dan mantan kekasihnya. Ketika dengan Cathrine—mantan kekasihnya, ia tak pernah merasakan getaran-getaran aneh. Hanya rasa nyaman karena Cathrine wanita yang penuh perhatian. Bahkan mereka bisa bersama karena Cathrinelah yang mendahului untuk dekat dengan George hingga akhirnya rasa nyaman timbul dengan sendirinya.
Namun ketika dengan Gabby, George merasa seluruh tubuhnya selalu ingin dekat dengan wanita itu. Ia yang tak tahu bagaimana caranya mendekati seorang wanita pun hanya bisa melakukan dengan caranya sendiri. Yang ternyata salah.
Cit ...
George yang melamun karena memikirkan perasaannya pun mengerem mendadak ketika ia hampir saja menabrak seseorang yang akan menyeberang jalan. Beruntung ia menyadarinya, jika tidak, pasti akan ada korban akibat kecerobohannya.
George menggelengkan kepalanya untuk menepis semua yang ada di fikirannya. Ia harus mempertahankan pendiriannya yang tak akan menjalin hubungan dengan wanita manapun kecuali gadis kecilnya.
Mobil melaju lagi hingga suara wanita yang terdengar sangat kaku memberitahukan bahwa telah sampai pada lokasi tujuan. Ya, itu adalah suara dari teknologi penunjuk arah yang ada di mobil George.
“Turunlah,” titah George ketika mobilnya berhenti tepat di depan rumah sederhana yang terlihat rapi dengan balutan cat berwarna putih.
“Terima kasih, tuan. Sudah mengantarkan aku,” ujar Sophie tulus.
George hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.
Sophie segera membuka pintu mobil setelah George membuka central lock nya. Ia langsung keluar dan menutup kembali pintunya dengan hati-hati.
Sebelum melajukan mobilnya, George melirik sekilas ke arah Gabby lagi. Gabby masih dengan posisinya, berpura-pura tidur.
“Sudah ku katakan, jangan memandangku lebih dari tiga detik!” ujar Gabby yang melihat dari balik kacamata hitamnya jika dirinya tengah diperhatikan oleh George.
George tak menanggapi, ia memilih memalingkan wajahnya menatap ke arah depan. Meskipun mulutnya sangat ingin berdebat dengan Gabby, namun ia urungkan ketika mengingat ucapan Sophie.
George menghela nafasnya, ia melajukan kembali mobilnya menuju apartemen Gabby. Ia masih bingung bagaimana caranya bertanya lembut dengan Gabby agar wanita itu mau memberitahukan sesuatu yang mungkin dia tak tahu. ‘Pria ingkar janji’.
Gabby mengernyit heran dengan perubahan George yang mendadak berbicara tanpa nada ketus dan dingin. “Apa?” Namun bukan Gabby namanya jika tak membalas orang yang ia benci dengan ketus.
George berfikir sejenak untuk merangkai kata-kata. “Apa kau mengenalku sebelumnya?” tanyanya.
Gabby menatap George dari balik kacamatanya. Yang hanya terlihat tubuh sampingnya saja. Apa dia sudah mengingatku? Ah apa gunanya juga dia mengingatku sekarang, semuanya percumah. Rasa untuknya sudah ku kubur dalam-dalam.
“Ku rasa aku tak perlu menjawab pertanyaanmu itu, kau seharusnya tahu sendiri jawabannya,” balas Gabby tak mengenakkan.
Sabar!
George bingung ingin bertanya bagaimana lagi dengan Gabby. Ia memilih diam, sepertinya percumah ia mengulik Gabby pun tetap tak akan memberitahu dengan mudah.
“Tolong ke drive thru makanan cepat saji di depan, aku ingin membeli makanan,” pinta Gabby.
Mulut George terkatup tak membantah sedikitpun, ia menurut saja dengan perintah Gabby.
Gabby pun memesan makanan melalui intercom yang disediakan oleh pihak restoran itu.
“Kau mau pesan apa?” tanya Gabby. Ia masih memiliki sedikit rasa sopan untuk berbasa-basi menawari makanan. Ya, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih telah mengantar.
“Terserah kau.”
Tak ada percakapan lagi diantara keduanya. Gabby memesan makanan yang sama dengan apa yang ia pesan, sebab ia pun tak tahu apa selera George.
George melajukan mobilnya setelah selesai memesan melalui intercom. Kini mereka berhenti tepat di samping kasir.
Gabby mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan uang Euro untuk membayar pesanannya. Ia meletakkan dompet pada kursi di sampingnya untuk menerima makanan yang baru saja diberikan oleh pegawai drive thru itu.