
Dua minggu kemudian, Gabby sudah diperbolehkan untuk pulang. Kondisinya pun sudah membaik. Beruntung hanya kepalanya saja yang mengalami pendarahan, tulang-tulang di kaki, tangan, dan anggota tubuhnya masih bisa berfungsi seperti sedia kala.
Lord yang mengetahui jika Gabby dan Marvel tinggal di apartemen sewaan pun memutuskan untuk mengajak Gabby tinggal di kartelnya. Ia sungguh tak ingin putrinya terlibat semakin jauh dengan mantan mafia obat-obatan terlarang dan jual beli organ ilegal itu. Jika hanya berteman, Lord tak masalah. Ia juga ingin yang terbaik untuk putrinya.
Sehingga, Marvel tinggal sendiri di apartemen yang ia sewa itu. Ia tak bisa menolak permintaan Lord saat mengajak Gabby untuk pulang. Kedudukannya kurang tinggi. Ia hanya calon suami yang belum resmi menjadi suami, sedangkan Lord adalah orang tua Gabby.
Lord merasa pusing dengan putrinya yang keras kepala. Tak bisa mengerti maksud permintaannya. Ia tak bisa terus menerus membiarkan putrinya yang teguh dengan pendiriannya itu. Ia mengajak Davis dan George untuk membantunya memikirkan jalan keluar.
Dan, di sinilah ketiga pria itu berada. Ruang bawah tanah Cosa Nostra. Meja bundar dengan tiga kursi yang melingkar menjadi tempat mereka berbincang.
“Ada apa kau mengajak kami berkumpul?” tanya George langsung pada intinya.
“Bagaimana perasaanmu dengan Gabby, anakku?” Lord balik mengajukan pertanyaan.
Kedua pria beda generasi itu saling berpandangan dengan tatapan yang serius.
“Masih sama,” jawab George singkat.
Davis yang mendengar jawaban sahabatnya itu, berdecak sebal. “Sama apa? Kau itu jika suka katakan suka, jika tidak katakan tidak. Jangan menjawab dengan kalimat yang ambigu!” Saking kesalnya, dia bahkan menendang kursi yang diduduki oleh George.
“Ya masih sama, memang perasaanku dengannya ada yang berbeda? Bukankah dari dulu aku pernah mangatakan pada kalian tentang hal itu? Bahkan aku sudah mengatakan pada Lord jika aku siap menjadi menantunya, apa itu kurang jelas?”
Tangan Davis dan Lord sudah mengepal ingin melayangkan tinjuan untuk pria kaku di hadapan mereka itu. Namun sayang, mereka hanya menggebrak meja bersamaan.
“Kau menyukainya?” Lord dan Davis bertanya bersamaan.
George mengangguk sebagai jawaban.
“Mungkin.” George mengedikkan bahunya.
“Haish ....” Davis dan Lord mengangkat kedua tangan mereka di udara dengan gigi mereka yang saling bergemelatuk kesal mendengar jawaban George.
“Jika cinta katakan cinta, jika tidak katakan tidak. Apa susahnya mengatakan satu kata itu!” dengus Davis.
“Memangnya harus mengatakan kata itu? Apa kau pernah mendengar aku mengatakannya? Untuk apa aku mengobralnya, mengatakannya. Aku lebih suka membuktikannya, lebih nyata,” elak George membela dirinya.
“Cukup!” Lord melerai pertikaian antara Davis—menantunya dan George—calon menantu yang dia inginkan.
George dan Davis diam tak melanjutkan adu mulut mereka.
“Intinya, kau menyukai Gabby dan kau mencintainya?” Lord kembali memastikan permasalahan hati pria kaku itu.
George mengangguk. “Bisa dikatakan seperti itu.”
“Oke, permasalahannya adalah, kenapa kau diam saja saat Gabby ingin menikah dengan Marvel? Kau seolah tak terusik dengan keputusan orang yang kau cintai itu,” tanya Lord.
George memandang Davis dan Lord bergantian. Kedua orang itu serius sekali dengan tatapan tajam khas mereka.
“Lalu aku harus bagaimana? Dia sudah menentukan pilihan.”
Desahan frustasi keluar dari mulut Lord dan Davis. Keduanya mengacak-acak rambut mereka masing-masing. Sangat kesal oleh jawaban George.