Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 38



George terus berjalan di belakang Gabby. Matanya tak henti-hentinya memandangi punggung Gabby yang sedikit terlihat dan bagian tubuh yang tercetak jelas lekukannya.


Jika biasanya tubuh Gabby tak pernah terlihat sexy, kini wanita itu benar-benar seperti itu. Kebaya yang begitu ketat menampilkan betapa besar ukuran milik Gabby.


“Gila! Apa yang kau fikirkan! Kenapa liar sekali otakku!” George merutuki dirinya sendiri.


Gabby menghentikan langkahnya untuk menikmati setiap bangunan adat di sana. Begitupun George, juga ikut berhenti.


George tak pernah melepaskan pandangannya dari Gabby. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, mengeluarkan ponselnya. Ia hidupkan kamera belakangnya dan membidik Gabby yang sedang memperhatikan warga setempat melakukan doa dengan sesaji khas warga Bali.


Jepret!


Bodohnya pria itu lupa mengaktifkan mode diam untuk ponselnya dan tak mematikan lampu flash, membuat Gabby menyadari jika tengah di potret.


Gabby langsung menghampiri George dengan wajah tak suka. “Kau mengambil fotoku diam-diam?” hardiknya.


“Tidak, siapa juga yang mau mengambil fotomu,” elak George.


“Oh ya? Coba ku lihat ponselmu.” Gabby menengadahkan tangannya meminta benda pipih itu.


“Coba saja ambil jika berani,” tantang George. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya. Pasti tak akan mungkin berani Gabby mengambilnya.


“Kau menantangku?”


George menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban. “Jika kau mau ponselku, ambil sendiri.”


Gabby yang tertantang pun mendekati George, jarak mereka bahkan hanya sejengkal. Wangi dari tubuh keduanya menyeruak ke indera penciuman mereka. Wangi yang mungkin akan selalu mereka rindukan nantinya beserta dengan perdebatan mereka setiap harinya.


Gabby menatap tajam menusuk kedua mata George. Wajahnya sangat serius. “Jangan salahkan aku jika barangmu tak sengaja tersentuh olehku!” ancamnya.


Shit! Mendengar ancaman itu sudah membuat otak George kemana-kemana.


Sebelum Gabby menggapai benda yang dicari. George yang ingin menghentikan fikiran liarnya mulai menggerakkan tangan dan sudah menyerobot untuk mengambil ponsel itu lalu menyembunyikannya di balik badan. “Ambil jika kau bisa.”


“Kau curang! Hapus fotoku, aku tak senang ada orang lain mengambil fotoku diam-diam, apa lagi itu kau!”


“Sudah ku katakan, aku tak memotretmu!” sanggah George.


“Jika memang benar seperti itu, maka perlihatkan padaku!”


“Ambil sendiri dan lihat sendiri jika kau bisa!”


Keduanya saling keras tak ada yang mau kalah hanya karen sebuah ponsel dan sebuah foto.


“Jika terbukti kau memotretku, awas kau!”


Gabby kembali melangkah mendekati George, ia lingkarkan tangannya pada tubuh George untuk mengambil ponsel yang berada di genggaman belakang pria itu.


Sebelum tergapai, George menaikkan tangannya ke udara. Reflek Gabby langsung melompat untuk mengambil ponsel karena tangan George yang panjang dan tubuh yang lebih tinggi membuat Gabby tak sampai jika hanya menjinjit.


Brug!


Gabby yang sulit menyeimbangkan dirinya karena pakaian ketat yang digunakan membuatnya terhuyung dan keduanya jatuh dengan posisi Gabby berada di atas George. Pandangan keduanya bertemu, bahkan George bisa merasakan sesuatu yang empuk menempel di dadanya yang terbalut kaos.


Degub jantung George tak karuan, dan itu dirasakan oleh Gabby. Hembusan nafas hangat dan kulit yang semakin memanas pun dirasakan juga oleh wanita itu.


Gabby menyunggingkan senyum mengejek. “Kau sedang menahan gairah dan kau mengatakan bahwa tak akan tergoda dengan wanita sepertiku?” Ia tertawa terbahak-bahak semakin mengejek George.


Mendengar itu, George langsung mendorong tubuh Gabby agar menyingkir dari tubuhnya. “Cih! Percaya diri sekali kau!”