Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 27



George mengendarai motornya kembali ke Pantai Pandawa setelah ia membeli obat untuk luka di apotik terdekat.


Pria itu merasa bersalah, entah mengapa nalurinya ingin mengobati luka yang dibuat akibat perbuatan sengajanya.


Segera memarkirkan kendaraan roda dua itu ke tempat yang teduh ketika sampai di tempat tujuannya.


Kakinya melangkah ke arah pantai. Matanya mengedar mencari orang yang ingin dia obati.


Tak ada, George tak melihat batang hidung wanita yang sudah membuatnya selalu menghianati pendiriannya.


Wanita yang selalu membuat mata ingin melihat ke arahnya, tangan yang selalu ingin menyentuhnya meskipun selama ini dilakukan dengan cara kasar, wanita yang selalu membuat naluri mengarah kepadanya, dan membuat mulut selalu ingin berbicara dengannya meskipun hanya sebuah perdebatan belaka.


George juga tak paham mengapa dirinya seperti itu.


Ingin sekali George bertanya dengan Davis dan Diora yang sedang menikmati deburan ombak di kaki mereka. Namun diurungkan, ia tak ingin pasangan suami istri itu berfikir yang aneh-aneh tentangnya jika terlihat memperhatikan orang lain, karena itu bukanlah sifatnya.


George memilih mencari sendiri menyusuri dari ujung hingga ke ujung, dan akhirnya dia melihat sesosok wanita yang ia cari tengah duduk termenung sendirian menatap nanar ke arah hamparan air.


Kakinya reflek mengayun ke arah dimana Gabby berada.


“Kau! Kenapa kau ke sini?” Gabby terperanggah ketika George langsung duduk di sampingnya.


George memilih diam, ia tak menanggapi. Diraihnya tangan yang terlihat terluka. Ia langsung mengeluarkan kapas dan alkohol untuk membersihkan luka itu. Setelah dirasa bersih, ia mengeluarkan plester untuk menutup lukanya.


Gabby mematung ketika mendapat perlakuan dadakan yang membuatnya begitu terkejut. Pria yang selalu membuatnya naik darah tiba-tiba lembut kepadanya dengan mengobati lukanya. Matanya tak lepas dari sosok George, bahkan ia tak berkedip.


George sadar jika dirinya tengah diamati. “Jangan menatapku, kau bisa jatuh cinta jika menatapku!” peringatnya.


Gabby langsung membuang pandangannya asal dan menarik tangannya yang dipegang oleh George. “Cih! Tak ada dalam kamusku untuk jatuh cinta, apa lagi denganmu!”


George memberikan kantong plastik berisi obat luka luar kepada Gabby. “Lanjutkan sendiri, tadi aku hanya memberikan contoh tahap-tahap yang perlu kau lakukan. Aku tak ingin kau salah paham ketika aku melakukan hal itu padamu.”


Gabby mengambil plastik itu dengan kasar. “Tak perlu kau mengatakannya, aku juga tahu jika kau tak mungkin melakukan kebaikan pada orang lain. Mustahil!” semburnya.


Lagi pula, untuk apa dia mengatakan itu padaku? Batin Gabby.


“Aku hanya tak ingin kau sampai jatuh cinta padaku karena hal itu, sebab aku tak akan mungkin jatuh cinta padamu.” George semakin memperjelas maksud perkataannya.


“Dih! Percaya diri sekali kau, bahkan kau adalah orang yang paling aku benci di dunia. Jika di dunia ini hanya ada satu pria dan itu kau, aku tak akan sudi jatuh cinta denganmu. Lebih baik aku hidup sendiri daripada terjebak dengan pria dingin, ringan tangan, dan bermulut sampah sepertimu!” Gabby terpancaing emosinya.


Mengapa rasanya sakit mendengar langsung dari mulut pria ini jika dia tak mungkin jatuh cinta padaku. Meskipun aku tahu dia sudah memiliki wanita, tapi rasanya begitu nyeri mendengar secara langsung. Hei! Ingat Gabby, kau memang orang yang tak pantas mendapatkan cinta dari siapapun.