Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 134



Marvel yang menunggu lama di ruang tamu pun akhirnya masuk ke dalam kamar Gabby. Sebab, sudah lima belas menit wanita itu tak juga keluar.


“Apa ada yang hilang?”


Gabby langsung membalikkan tubuhnya dengan menyimpan kertas ucapan dari George di balik tubuhnya.


“Tidak ada,” jawab Gabby.


Marvel semakin mendekat. Merasa ada yang janggal dengan Gabby. Seolah sedang menyembunyikan sesuatu.


“Apa yang ada di balik tubuhmu?”


“Tidak ada. Ayo, kita sepertinya harus menyewa apartemen untuk tempat tinggal atau membeli baru. Sepertinya di sini sudah tak aman.” Gabby mencoba mengalihkan pembicaraan dan mengajak Marvel keluar. Ia mendekat dan menyentuh tubuh Marvel agar berbalik.


Namun, Marvel tak menurut begitu saja. Ia justru melihat dari samping kepala Gabby. Postur tubuhnya lebih tinggi daripada Gabby. Ia melihat ada kertas yang tergeletak di atas meja.


“Tunggu sebentar.” Perlahan, Marvel menggeser tubuh semampai itu agar tak menghalangi jalannya. Ia meraih kertas itu.


“Jangan, jangan dibaca,” cegah Gabby. Ia hendak mengambil kertas itu, namun Marvel memutar tubuhnya membelakangi Gabby.


Gabby mencoba mengambilnya dengan melingkarkan tangannya pada tubuh Marvel.


“Kau mau memelukku?” goda Marvel. Ia justru mengunci kedua tangan Gabby dengan tangan kirinya.


Gabby meronta ingin melepaskannya, namun Marvel tak mengizinkan hingga ia selesai membacanya.


Marvel terlihat memucat setelah membaca. Ada rasa takut dan tidak percaya diri setelah membaca itu.


Dia bahkan menyelam hingga ke dasar demi mengambil benda yang sangat disayangi oleh Gabby. Berarti dia juga mencitai Gabby. gumam Marvel.


Kuncian tangannya mulai ia lepas. Gabby langsung menyambar surat dari George itu.


“Sudah ku katakan jangan membacanya, aku tak ingin kau terlalu berpikiran macam-macam. Kau baru saja sembuh,” jelas Gabby seraya menyimpan kertas itu ke dalam laci.


“Itu tak penting, untuk apa kita membahas orang lain? Kau tenang saja, aku tak akan merubah keputusanku.” Gabby mencoba menenangkan Marvel.


“Sungguh?”


Gabby mengangguk.


Marvel langsung merengkuh tubuh semampai itu dengan suka cita. Gabby pun membalasnya, tak lupa tangannya mengelus punggung Marvel. “Kau jangan terlalu banyak berpikir yang negatif, tanamkan jiwa positif dalam dirimu.”


...........


“Aku akan ke kampus hari ini, karena aku berhenti menjalankan project di perusahaan Diora, aku harus mengumpulkan tugas akhir seperti mahasiswa biasa. Aku ingin cepat lulus,” ujar Gabby pada Marvel saat mereka selesai sarapan.


Semalam, Gabby dan Marvel memutuskan untuk menyewa apartemen. Satu untuk berdua. Hanya untuk sementara waktu saja. Mereka juga tak tidur di kamar yang sama. Karena kondisi apartemen Gabby yang sepertinya tak aman, dan kediaman Marvel pun sudah lama dijual oleh Marvel.


“Aku akan mengantarmu,” tawar Marvel. Ia sudah siap hendak mengambil kunci mobilnya.


“Tidak perlu, aku hanya sebentar.” Gabby menolak dengan halus.


“Baiklah, segera pulang. Kita harus mengurus segala keperluan pernikahan kita. Kita juga harus meminta restu pada Papamu dan mendiang orang tuaku.”


Gabby mengangguk. “Aku pergi dulu.” Ia pun meninggalkan Marvel sendirian.


...........


Setelah mengumpulkan tugas akhirnya pada dosen pembimbingnya, Gabby melajukan kembali kendaraan roda empatnya. Hummer H1 berwarna hitam yang gagah itu.


Entah kenapa, ia berhenti di depan gedung milik Diora yang berseberangan dengan gedung tempat George bekerja. Tanpa ia tahu, bahwa George sudah dipindahkan untuk mengelola perusahaan milik Diora.


Gabby menatap gedung pencakar langit itu. “Apa mereka hidup bahagia setelah kepergianku? Apa Diora sudah melahirkan?”


Saat dia bergumam sendiri, ia melihat mobil George keluar dari perusahaan milik Diora. Gabby yang melihat laju kendaraan itu begitu kencang, langsung mengikutinya karena penasaran.