
Gabby enggan membuka matanya untuk melihat siapa yang duduk di sampingnya. Dari wangi yang menyeruak ke indera penciumannya pun ia sudah tahu siapa orangnya. Ia sudah hafal dengan wangi itu, karena seringnya mereka bertemu.
George tak membuka suaranya, meskipun ia tahu wanita di sampingnya hanya berpura-pura. Ia meletakkan sebuah papperbag kecil di atas paha Gabby.
Gabby yang merasakan ada sesuatu di pahanya, langsung membuka mata untuk melihatnya. Ia menengok ke samping di mana George tengah memandang ke depan. “Apa ini?”
“Buka saja.” tegas George tanpa mengalihkan pandangannya.
Gabby mulai melihat isi papperbag itu. Matanya berbinar, ia melepas kaca mata hitamnya yang sedari tadi ia pakai itu. Ia ingin memastikan apakah benda itu sungguh miliknya atau bukan. Setelah diamatai, ternyata benar. Itu adalah ponselnya.
Gabby yang senang karena cincin peninggalan Mamanya ketemu pun reflek memeluk George dengan erat. “Terima kasih.” Air mata bahagianya menetes begitu saja.
George membalas pelukan itu dengan senang hati. Menepuk-nepuk pundak Gabby untuk menguatkan wanita itu.
Setelah beberapa saat, Gabby mulai mengurainya. Duduk kembali seperti semula. Ia berdehem untuk mengurangi kecanggungan yang ia buat barusan. Ia ingin memukul kepalanya sendiri yang tiba-tiba memeluk George tanpa izin.
Apa yang kau lakukan Gabby! Kau seperti wanita murahan saja, main peluk-peluk pria! Gabby mengumpati dirinya sendiri.
George mengamati Gabby yang terlihat berkali-kali berdehem dengan pipi yang memerah. “Apa kau senang?” tanya George.
Gabby mengangguk. “Sangat. Apa kau yang mengambilnya?” Ia mengunci manik mata tajam itu.
“Hm.” George mengangguk.
“Kapan?”
“Saat aku meninggalkanmu dengan Marvel di parkiran itu.”
“Jadi, kau meninggalkanku untuk mencari ponselku?” Gabby ternyata sudah salah paham. Ia kira, George tak perduli dengannya, ternyata tidak.
“Hm.”
“Karena aku ingin,” jawab George.
Ternyata aku salah, ku kira dia melakukan itu karena mencintaiku hingga rela menyelam ke dasar laut. Gabby berdialog dengan hatinya sendiri dengan menelan kekecewaan.
Dua manusia yang tengah saling menatap satu sama lain itu tak berkedip sama sekali, seolah tengah menyelami kedalaman pikiran satu sama lain. Hingga suara deheman dari arah belakang, menggangu suasana yang sedang tegang itu. Davislah pelakunya.
“Sudah tatap-tatapan saja kalian berdua, tak sekalian mengucap janji suci juga? Selagi kita masih di cathedral,” seloroh Davis saat ia dan istrinya semakin mendekat ke arah kursi George dan Gabby.
“Jika dia mau, aku akan langsung mengurus segala keperluannya.” George menanggapi ucapan Davis itu. Namun matanya tetap mengunci manik indah milik Gabby.
Gabby membuang pandangannya ke sembarang arah. Ia tak ingin jantungnya kian memacu tak terkendali. Mengirup oksigen dengan hidungnya, lalu mengeluarkan perlahan dari mulutnya untuk menetralisir perasaannya yang semakin membingungkan ini.
Ucapan George itu serius. Ia bahkan siap jika harus menikah dengan Gabby saat ini juga, tapi ia tak akan memaksa Gabby.
Diora dan Davis mulai duduk berdampingan di kursi yang masih satu deret dengan Gabby dan George.
Diora mengamati tampilan sahabatnya dari atas hingga bawah. Bahkan mata sembab itu pun tak lepas dari pengamatannya.
“Gab,” panggil Diora.
“Hm?” Gabby menengok sebentar ke sumber suara, lalu kembali seperti semula. Ia belum kuat menatap Diora jika teringat tatapan penuh kasih Papanya kepada Diora beberapa hari yang lalu.
“Apa kau habis menangis?” tanya Diora yang penasaran. “Apa kau tak setuju dengan pernikahan ini?” Ia menyimpulkan dari pakaian yang digunakan Gabby, serba hitam. Seolah menggambarkan hati yang sedang berduka.