Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 62



“Kunci!” Kini George dengan terpaksa harus mengintimidasi Gabby. “Jangan salahkan aku jika mencari benda itu sendiri dan memegang sesuatu yang tak ingin tersentuh,” ancamnya.


Ingin sekali Gabby menonjok wajah pria di hadapannya itu. Tapi tangannya justru masuk ke dalam saku celananya untuk mengambil benda yang diminta oleh George. “Nih!” Tak ikhlas dia memberikannya.


George mengambilnya. “Jika kau berikan sedari tadi, pasti tak akan membuang waktu kita,” omelnya. “Kau, mau duduk di situ menikmati wajah tampanku selama perjalanan, atau kau mau pindah sendiri ke belakang?” tanyanya.


“Kau pasti akan mengerjaiku lagi, kan? Jika aku duduk di belakang?” tuduh Gabby yang belajar dari pengalaman beberapa hari yang lalu saat di Bali.


“Oh ... jadi kau memilih duduk di tangki depan? Kau ingin merasakan pelukanku? Kau ingin tubuh kita saling bersentuhan? Apa kau lupa jika motormu ini motor gede yang membuat pengendaranya harus mencondongkan tubuh agak ke depan? Aku sih tak masalah jika kau menginginkan hal itu, tapi kau harus bertanggung jawab jika kita akan berakhir di kamar hotel,” ujar George menakut-nakuti.


Pletak!


Sentilan cukup keras Gabby layangkan pada kening George yang ternyata berotak mesum. “Otakmu liar!” hinanya dengan kesal.


Gabby pun memilih turun, ia tak mau sungguh berakhir di kamar hotel. Dilihat dari cara George, sepertinya pria itu sedang mencoba mengambil hatinya kembali. Gabby ingin melihat sejauh mana usaha pria itu untuk mendapatkannya. Ia pun akhirnya duduk di jok belakang yang lebih tinggi posisinya dibandingkan bagian depan.


George mulai menghidupkan motornya. Tanpa helm, wajahnya serasa ditampar oleh angin yang berhembus.


Gabby duduk dengan tegap di belakang, tak ada keinginan sedikitpun dirinya untuk berpegangan dengan George.


George melirik dari kaca spion. Dengan tangan kirinya, ia menarik paksa tangan Gabby yang berada di atas lutut wanita itu. Ia lingkarkan tangan Gabby ke perutnya. “Pegangan, aku tak ingin kau jatuh lagi,” selorohnya.


Apa otaknya terbentur? Kenapa dia jadi semanis ini?


“Menurut saja, aku sedang mencoba mengambil hatimu,” pinta George dengan sedikit menengok ke belakang sebentar, lalu pandangannya fokus lagi ke depan.


Gabby akhirnya menurut, ia membiarkan tangan sebelah kirinya berpegangan pada jas yang dikenakan oleh George.


“Aku seperti berboncengan dengan manekin jika kau hanya diam saja,” kelakar George. Maksudnya, ia ingin tangan Gabby yang satunya juga ikut memeluknya, tapi wanita itu tetap meletakkan tangan kanannya di atas lutut. Hingga membuat George lagi-lagi harus menarik tangan itu dan menautkan kedua tangan Gabby di atas perutnya.


“Nikmati keromantisan ini, aku tidak tahu bagaimana caranya berbuat romantis untuk menyentuh hatimu.”


Gabby menghembuskan nafasnya. Ia mencoba menerima usaha yang dilakukan oleh George. Meskipun ia ingin membentengi hatinya agar tak mudah luluh.


Tak ada perbincangan antara keduanya, Gabby diam seperti patung. Namun tangannya perlahan mengendur tak lagi memeluk George, ia memilih berpegangan pada jas sisi kanan dan kiri.


Bukankah George memintanya untuk berpegangan bukan memeluk? Itulah sebabnya George tak menarik kembali tangan Gabby, selagi wanita itu masih mau berpegangan padanya.


Sesekali George mengucek matanya yang terkena debu jalanan. Hal itu tak luput dari penglihatan Gabby. Karena tak menggunakan helm, membuat partikel-partikel kecil itu mudah masuk ke dalam matanya. Apa lagi jalan yang ia lewati bukan jalan raya, ia sengaja memilih jalan yang tak akan berpapasan dengan polisi lalu lintas.


George berhenti sejenak ketika kedua matanya sudah tak kondusif lagi untuk berkendara. “Maaf, mataku perih.”


Gabby merasa kasian dengan George. Ia pun melepaskan helmnya dan langsung memakaikannya pada George. Tanpa sepatah katapun ia keluarkan.