Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 132



Satu bulan berlalu, Lord dan George tetap tak menemukan ke mana Gabby pergi. Jejaknya sama sekali tak ditemukan. Bahkan mencari tiket penerbangan, kapal, hingga kereta api pun tak ada nama Gabby dan Marvel.


Selama itu juga, Lord dan George hanya tidur selama beberapa jam saja. Mereka terus mencari Gabby. Setidaknya, mereka tahu jika Gabby masih hidup atau mati. Tak seperti saat ini yang tak tahu bagaimana kabarnya.


Anak buah Marvel pun tak ada yang bisa mereka temukan. Seolah ditelan bumi semua kehidupan Marvel itu.


“Aku akan memantau perkembangan persidangan Sanchez. Jika dia memiliki bukti tentang Marvel ataupun orang-orang yang berada dibawah kekuasaan Marvel, kita harus segera menemukan Gabby. Aku tak ingin dia terlibat dalam masalah,” ujar Lord.


Mereka berdua sungguh frustasi mencari di mana perginya Gabby dan Marvel. Hampir seluruh Finlandia mereka kelilingi, tapi tak mendapatkan hasil apapun.


...........


Sementara itu, di Pappilanhieta, masih berada di Negara Finlandia. Sebuah pulau kecil yang berada di tengah sungai Torne, perbatasan antara Finlandia dan Swedia.


Gabby sangat senang tinggal di sana. Lingkungan yang asri dengan hamparan rerumputan hijau dikelilingi oleh pepohonan hijau yang menjulang tinggi, air sungai yang begitu jernih membuatnya sangat tenang dan melupakan hidupnya yang pelik.


Sebuah bangunan yang kokoh di pulau itu, tempat Marvel menjalani penyembuhan putus dari obat zat adiktif. Sudah satu bulan lamanya Marvel berada di dalam ruangan kaca yang tebal dan sulit dipecahkan itu, karena demi keamanan pasien di sana juga. Bahkan barang-barang di dalam ruangan Marvel, semuanya tak ada yang tajam.


Gabby melihat Marvel yang masih meringkuk di atas kasur dengan tubuh yang terus gemetaran, mengigil, matanya pun terlihat sangat sayu seperti orang yang tak sehat. Terkadang, dia juga melihat Marvel mengalami sakaw yang di matanya terlihat sangat menyakitkan. Hatinya terasa teriris melihat perjuangan pria itu.


“Sebesar itu perjuanganmu, bagaimana bisa aku tak menghargaimu,” gumam Gabby.


“Mungkin, satu atau dua bulan lagi. Jika kondisinya mulai membaik, kita akan melakukan tahap rehabilitasi nonmedis,” ujar terapis yang menemani Gabby untuk melihat Marvel.


Keesokan harinya, Gabby kembali ke gedung rehabilitasi. Setiap pagi, ia yang akan mengantarkan makanan untuk Marvel. Terapis sudah memperingatkan Gabby, jika Marvel masih sangat sensitif dan bisa mengamuk kapan saja. Sehingga Gabby harus hati-hati. Bahkan sedikit sentuhan pun bisa terasa sakit oleh orang yang sedang menjalani putus obat.


Klek!


Pintu itu terbuka, Gabby mengulas senyumnya saat Marvel melihat ke arahnya. Tubuh pria jangkung itu sangat memprihatinkan, lemas seolah tak bertenaga, tak seperti biasanya Gabby melihat Marvel.


“Sarapanmu.” Gabby ikut duduk di lantai bersama dengan Marvel yang tengah menekuk kedua kakinya dan memeluk kaki itu.


“Sakit ...,” rintih Marvel mengiba. Bahkan ia sampai menangis karena tubuhnya yang begitu terasa menyakitkan, rasa sakit yang tak terdefinisikan, bahkan tak pernah ia rasakan sebelumnya.


“Sabar, inilah konsekuensi yang harus kau hadapi, kau harus kuat melawannya. Sekarang, kau makan dulu. Aku akan menyuapimu.”


Marvel mengangguk mengiyakan. Gabby mulai memegang sendok plastik itu dan mengambil makanan di piring plastik itu. Semua barang yang digunakan haruslah aman dan tak membahayakan.


Dengan telaten, Gabby menyuapi Marvel. Sesekali Gabby bercerita dan memberikan motivasi pada Marvel agar terus memiliki semangat untuk sembuh.


“Ayo kita menikah, setelah kau sembuh,” ujar Gabby saat makanan di piring itu telah habis. Ia ingin memberikan semangat dan motivasi kepada Marvel agar terus berjuang. Lagi pula, tak ada alasan juga untuknya tak membalas cinta Marvel.


Marvel mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Gabby. Entahlah, ia seolah belum bisa mencerna apa yang disampaikan oleh Gabby. Marvel hanya terdiam tanpa menanggapi.


Gabby juga memahaminya, memang seperti itu adanya, kondisi Marvel ada kalanya tak bisa merasakan kebahagiaan.