Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 107



“Jo!” seru Marvel. “Apa kau gila? Dia itu sainganku! Di saat Gabby sedih seperti saat ini, mana mungkin aku membiarkannya berada di sisi Gabby? Sama halnya aku memberikan hadiah cuma-cuma padanya! Aku tak setuju, seharusnya aku yang ada di sisinya untuk menghiburnya, memberikan pundakku untuknya bersandar menumpahkan segala keluh kesahnya!” tolaknya dengan mengomel panjang lebar.


Jo menatap tuannya dari kaca spion yang menggantung di tengah bagian depan mobil. Memperlihatkan tuannya yang sangat cemas, terus menggigit bibir bawah serta jari, kaki tuannya pun tak berhenti bergerak.


“Tuan, bukankah keselamatan Nona Gabby lebih penting sekarang? Jika tuan masih mengedepankan ego hanya demi persaingan, maka jangan menyesal jika terjadi sesuatu dengan wanita yang tuan cintai itu,” terang Jo.


Marvel berdecak, Jo selalu saja menasehatinya. “Kau menakut-nakuti aku?”


“Tidak, tuan. Tapi hanya membuatmu semakin khawatir saja,” kelakar Jo.


Memang benar apa yang disampaikan Jo tadi membuat Marvel semakin khawatir, bukannya menenangkan. Khawatir jika George mengetahui Gabby dalam kondisi sedih, kemudian saingannya itu menemukan Gabby dan meminjamkan pundak untuk wanita itu.


Marvel menggelengkan kepalanya saat membayangkan Gabby memilih George karena sudah menemani disaat sedih.


“Tidak!” Marvel menolak ide Jo tadi dengan lantang.


“Terserah tuan saja, yang penting aku sudah memberikan masukan. Coba pikirkan baik-baik, sekarang lebih penting mana? Keselamatan Nona Gabby atau ego Tuan Marvel?” Jo menyerahkan keputusan pada tuannya.


Jo hanya bermaksud untuk menghindari kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Jika Tuan George ikut mencari, pasti akan lebih mudah untuk menemukan Nona Gabby. Namun, tuannya itu malah takut saingannya akan semakin lebih unggul dibanding Tuan Marvel.


Tiga puluh menit, mereka masih saja berada di sana. Kendaraan itu tak bergerak sedikitpun.


“Jo, coba kau cek ke depan. Apa penyebab kemacetannya. Kenapa lama sekali dan tak ada yang bergerak!” titah Marvel.


“Baik, tuan.” Jo pun keluar dari mobil, ia berjalan kaki hingga ke depan. Matahari yang terik itu membuat keringatnya bercucuran.


“Di persimpangan lampu merah sana, baru saja terjadi kecelakaan, tuan. Ada truk kontainer terguling hingga menutupi jalan. Sehingga seluruh kendaraan tak bisa melintas,” jelas Jo yang sudah melihat secara langsung kondisi penyebab kemacetan itu.


“Kecelakaan?” Marvel hendak keluar untuk memastikan apakah Gabby terlibat di sana atau tidak, namun sudah dicegah oleh Jo.


“Tuan, seluruh korban sudah dibawa ke rumah sakit.” Ia tahu tuannya sedang ketakutan. Ia tak ingin melihat tuannya mengamuk di tengah jalan, apa lagi sedang tak membawa obat. Ia bahkan tak mengatakan jika salah satu korbannya adalah pengendara sepeda motor.


“Di mana rumah sakitnya?” Marvel bertanya dengan nada tinggi dan memburunya.


“Aku tak tahu, karena sesampainya di sana, tak ada yang tahu informasi itu,” jelas Jo. “Tenanglah tuan, kurasa bukan Nona Gabby korbannya. Aku tak melihat motor Nona Gabby di sana.” Jo tak sepenuhnya berbohong, karena dia memang tak melihat kendaraan korban, sebab terhalang oleh kontainer. Ia juga mengetahui informasi itu dari orang yang berada di sana.


Marvel memukul-mukul kursi di depannya lagi. “Argh ... bagaimana aku bisa tenang? Aku tak ingin hal buruk menimpa wanitaku! Bagaimana aku bisa cepat menemukan dia? Sial! Kenapa harus ada kecelakaan di jalan yang kita lewati!” kesalnya. “Ku harap, sungguh bukan Gabby yang terlibat kecelakaan itu!”


“Namanya musibah, kita tak ada yang tahu. Lebih baik, tuan mempertimbangkan ideku tadi,” balas Jo dengan tegas. Ia ingin tuannya mengesampingkan egonya.


Marvel mencoba berpikir kemungkinan terbaik dan terburuknya jika ia meminta bantuan George.


“Jo, kau hubungi Max, minta dia meretas ponsel Gabby untuk mencaritahu lokasinya, dan minta salah satu anak buahku untuk ke sini menggunakan motor.” Akhirnya Marvel menemukan ide tanpa melibatkan saingannya. Tak mungkin ia menelfon Gabby, karena ia yakin tak akan diangkat.


Jo menepuk jidatnya, kenapa aku lupa jika ada Max yang pandai meretas. gumamnya dalam hati. Ada perasaan tak enak kepada Tuan Marvel karena memberikan ide yang buruk. “Tuan, aku minta maaf,” lirihnya.


Namun Marvel tak menanggapi permintaan maaf itu. Ia menunggu kabar dari Max dengan kondisi yang kacau.