Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 141



Setelah semalam Gabby salah paham, ia kira Marvel ingin terjun lagi ke bisnis kotor itu. Kini ia bisa bernafas lega karena Marvel hanya belum mengetahui bidang keahliannya.


Semalaman, Gabby mencoba membantu memikirkan pekerjaan untuk Marvel. Mengingat, pria itu tak menempuh pendidikan yang tinggi.


Keduanya kini tengah bersantai di depan televisi, menonton film yang lebih tepatnya tak mereka tonton. Hanya sebagai peramai suasana saja. Mereka justru sedang berdiskusi masalah pekerjaan yang cocok untuk Marvel.


“Kau mau mencoba menjadi youtuber seperti aku? Penghasilan lumayan jika viewers banyak. Memang sulit untuk memulai dan membesarkan nama, tapi jika bertekad dan terus membuat konten yang menarik, kau akan mudah dikenal,” cetus Gabby memberikan ide.


“Apa yang bisa ku buat menjadi konten? Aku tak memiliki keahlian sepertimu yang pandai membuat desain arsitektur.”


Keduanya terdiam, saling memikirkan bidang yang cocok. Gabby memutar bola matanya untuk berpikir.


“Bagaimana jika kau mengupas sebuah teori konspirasi dari peristiwa seram atau kronologi yang sedang panas diperbincangkan? Kau hanya butuh riset dari berbagai sumber, merangkumnya, dan menceritakannya pada semua orang melalui videomu. Jika kau mau, aku akan membantumu belajar mengedit video agar bagus.”


Marvel nampak menimbangnya, dia merasa hal itu bisa dilakukannya dan tak membutuhkan pendidikan tinggi juga. “Aku setuju, kapan kita akan memulainya?”


“Hari ini?” tawar Gabby.


Marvel pun mengangguk setuju. Ia sangat antusias, apa lagi Gabby akan membantunya belajar. Sungguh, ia menyesal kenapa harus sekarang ia berhenti dari bisnis kotor itu dan tak melanjutkan pendidikannya.


“Kita harus membeli keperluanmu dulu. Walaupun aku punya semua, tapi aku juga membutuhkan untuk diriku sendiri. Jadi, kau harus membelinya. Kau memiliki uang, kan?”


Marvel terkekeh dengan pertanyaan Gabby. “Tentu saja aku masih punya. Aku masih punya banyak uang, hanya saja aku tak punya tempat tinggal. Aku meninggalkan semua yang ada kenangan bersama bisnisku dulu.”


“Berapa uangmu?” Gabby penasaran, jika uang Marvel banyak, mengapa tak mencoba membuka bisnis saja.


Marvel pun menyebutkan nominalnya. Hingga mata Gabby terbelalak saat mengetahui jumlahnya.


“Kenapa tak membuka perusahaan saja?” cetus Gabby.


“Aku tak punya bakat dibidang itu. Jika bisnis narkoba, aku baru bisa,” celetuk Marvel.


Tangan Gabby otomatis menyentuh kening Marvel dengan kencang.


“Hilangkan pikiranmu tentang bisnis lamamu itu, kau selalu saja mengingatnya.”


“Iya, maaf.”


“Ya sudah, ayo kita pergi. Kita beli keperluan untukmu menjadi youtuber.” Gabby sudah bangkit dan hendak bersiap.


Namun, Marvel masih diam tak bergerak sedikitpun.


“Apa lagi yang mengusik pikiranmu?”


“Aku tak percaya diri, apa merek mau menontonku? Bahkan aku tak tahu bisa berbicara lancar atau tidak.”


“Kita tak akan tahu jika tak mencobanya.”


Gabby memaksa Marvel agar beranjak. Pria itu masih saja kurang percaya diri.


...........


Setelah membeli keperluan Marvel, Gabby mengajak untuk makan terlebih dahulu. Pilihannya ada di rumah makan khas Eropa yang ada di salah satu ruko pinggir jalan.


Keduanya berbincang terkait pernikahannya yang masih bingung akan dilangsungkan kapan. Namun, Marvel tak ingin lama-lama. Ia ingin secepatnya, sebelum George merebut wanita yang ia cintai itu.


“Bagaimana jika setelah ini kita pergi ke makam orang tuamu untuk meminta restu? Baru kita menemui Papaku,” ajak Gabby.


“Boleh.”


Keduanya kini terdiam karena tak ada yang ingin dibicarakan lagi, makanan pesanan mereka pun sudah datang juga.


Disaat mereka sedang menikmati makanan, tiba-tiba ada seorang pria yang datang menghampiri.