Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 123



Gabby mulai mengulas senyumnya, senyum yang tak dipaksakan lagi. Ia sudah bertekad akan berbahagia atas kebahagiaan orang-orang yang ia sayangi itu.


Kembang api pun habis, kedua pasangan yang saling menautkan bibir mereka pun menyudahinya.


Gabby masih belum memalingkan wajahnya dari langit, ia masih menengadahkan wajahnya untuk menahan air matanya agar tak keluar. Meskipun bibirnya masih mengulas senyum samar, namun matanya tak bisa berbohong.


Entah mengapa ibu hamil yang melihat Gabby dan George hanya diam saja mendadak menginginkan sesuatu.


“Aku ingin melihat Gabby dan George berciuman seperti kami,” celetuk Diora tanpa berpikir, ia hanya mengutarakan keinginannya saja.


Uhuk ... uhuk ...


Gabby langsung terbatuk mendengarnya, ia pun menatap ke Diora. “Apa kau gila!” Melirik sekilas ke arah George yang nampak biasa saja tak merespon keinginan gila Diora.


“Tidak, ini sepertinya keinginan anak-anakku.” Diora memasang wajah puppy eyes nya berharap Gabby mau mengabulkannya.


“Tidak, itu permintaan gila!” tolak Gabby.


“Ku mohon.” Diora menyatukan kedua telapak tangannya.


“G2, dia sedang hamil. Mungkin anaknya memang menginkan itu. Apa sulitnya hanya berciuman saja.” Lord mencoba membantu meyakinkan Gabby agar mau melakukannya.


Gabby beralih menatap tak suka ke arah Papanya. “Apa Papa membelanya? Itu permintaan gila! Mana ada orang mengidam seperti itu!” Ia mulai meninggikan suaranya.


Apa mereka tak memikirkan perasaanku? Jika saja George mencintaiku, aku tak masalah melakukannya. Tapi ini? Dia saja tak jelas perasaannya denganku!


“Papamu benar, nak. Orang hamil memang terkadang permintaannya aneh-aneh. Mama sudah pernah melewati masa itu.” Kini Natalie yang mulai meyakinkan Gabby.


“Kalian semua, gila!” berangnya dengan membentak.


Diora, wanita hamil itu mulai menitikan air matanya. Ia tak pernah melihat Gabby marah dengannya. Biasanya, sahabatnya itu selalu menurutinya dan melindunginya.


“Maaf, jika permintaanku membuatmu kesal. Aku tak tahu mengapa menginginkan hal itu, tiba-tiba saja terlintas keinginan melihatmu dengan George berciuman.” Diora mengusap air matanya yang terus menetes. “Jika kau tak mau, tak apa.”


Gabby memilih membuang pandangannya ke sembarang arah. Sialnya, karena ia terbiasa melindungi Diora, membuatnya tak tahan melihat wanita itu menangis.


“G2!” seru Lord. “Dia kakakmu, apa kau tak bisa mengabulkannya?”


Semakin sengit saja sorot mata itu. Aku juga anakmu! Apa kau tak memikirkannya? Ia hanya bisa tercekat di tenggorokan saja tanpa bisa mengutarakannya. Jangan menangis!


Davis yang tak tahan dengan istrinya yang terus mengeluarkan air mata, dan situasi yang mulai memanas pun nampak membisikkan sesuatu pada George, entah apa yang dibisikkan oleh pria itu.


George beranjak dari duduknya. Ia mendekati Gabby yang membuang mukanya. Bahkan, wanita itu tak melihat saat Davis membisikkan sesuatu pada George.


George berjongkok di hadapan Gabby, mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan wanita itu. Tangannya terulur untuk menyentuh rahang rapuh itu, rahang yang terlihat tengah menahan tangis. Perlahan, George memalingkan pandangan Gabby agar melihat ke arahnya.


Sorot mata keduanya saling mengunci satu sama lain. George melihat mata yang sudah berkaca-kaca itu. Dalam hitungan detik, pria itu mencondongkan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan Gabby.


Gabby mematung tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh George. Ia tak bergerak sedikitpun, ia juga tak menolaknya. Jantungnya sedang berpacu begitu cepat. Oksigen seolah berhenti mengalir ke otaknya.


Waktu seperti berhenti saat itu juga. Lidah George mencoba menerobos masuk saat wanita yang sedang ia nikmati bibirnya itu menganga terkejut. Bermain sendiri sedangkan Gabby tak membalasnya.


Gabby, ia menitikan air matanya. Entah apa yang dipikirkannya hingga cairan bening itu keluar begitu saja.