Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 111



Setelah membeli motor dengan harga sepuluh kali lipat tanpa memperdulikan surat-surat lain, yang penting motor, kunci, helm, dan surat tanda nomor kendaraan saja. Lagi pula, ia tak akan memakainya untuk keseharian. George tak langsung bergegas menuju tempat di mana Gabby berada. Ia justru mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Lord.


“Ada apa?” Lord langsung bertanya maksud George menelfon dirinya.


Meskipun George merasa geram dengan Lord karena mengingat penjelasan Marvel saat di telfon tadi, ia berusaha untuk tak menunjukkannya saat ini. Mungkin nanti. “Kau punya nomor ponsel Marvel?”


“Punya, memangnya kenapa?”


“Kirimkan padaku sekarang juga!”


“Memangnya ada urusan apa kau dengannya?”


“Tak perlu banyak bertanya, kirimkan saja! Aku tunggu sekarang juga!” George langsung mematikan secara sepihak.


Tak berselang lama, George mendapatkan notifikasi berupa pesan. Lord mengirimkan apa yang diminta oleh George.


George segera menghubungi Marvel.


Marvel yang mendapatkan panggilan telefon itu pun tak langsung mengangkatnya karena dari nomor yang tak ia kenal. Namun, karena ponselnya terus berdering hingga lebih dari tiga kali, ia pun mengangkatnya. Pasti penting jika sampai sebanyak itu.


“Siapa?” Marvel berbicara dengan sedikit berteriak karena ia sedang di atas motor yang melaju sehingga suaranya seolah terbang terbawa angin.


“George.”


“Hei manusia pelit! Katakan padaku di mana Gabby, kau membuatku memutari seluruh kota, padahal kau tahu di mana dia berada.” Marvel langsung mencecar George, menodongnya agar memberitahu letak wanita yang ia cintai itu.


“Baru saja aku akan memberitahumu! Pergi ke dermaga sekarang juga, Gabby berada di sana. Siapapun yang sampai di sana duluan, segera cegah jika Gabby melakukan hal yang membahayakan. Kita tak tahu apa yang ada di pikirannya, meskipun dia terlihat kuat, tapi kita tetap harus berjaga-jaga,” jelas George.


George tak memikirkan bahwa Marvel adalah saingannya, yang terpenting adalah Gabby tetap dalam pengawasan di saat hatinya sedih.


George melihat lokasi Gabby lagi sebelum ia memasukkannya ke dalam saku jas nya. Ia menghidupkan mesin motornya dan melaju menuju dermaga.


...........


Dua sepeda motor dengan model yang berbeda, sampai di dermaga secara bersamaan. Keduanya memarkirkan kendaraan itu sembarangan.


Marvel dan George turun dari motor, helm mereka dilepas. Menyunggar rambut masing-masing untuk merapikannya.


“Berikan kuncimu padanya,” perintah Marvel pada George, ia menunjuk Mark. “Biar dia yang mengurus motormu,” imbuhnya kemudian.


George melihat ke arah Mark, orang yang dilihat pun menatap ke arah George.


“Tangkap!” George melemparkan kuncinya.


Untungnya, Mark berhasil menangkapnya.


Dua pria yang seharusnya sedang bersaing itu, kini tengah menjalankan misi yang sama. Mencari Gabby. Keduanya mengesampingkan persaingan mereka.


Pria dengan tatto di tangannya dan pria berpakaian rapi layaknya orang kantoran itu mengayunkan kaki mereka bersamaan, dengan langkah yang cepat. Mereka menuju tepian dermaga.


“Mudah.” George mengeluarkan ponselnya melihat titik Gabby berada. “Dia ke tengah laut!” serunya.


Marvel melirik untuk melihat juga. “Kau memasang pelacak?”


George menjawab dengan anggukan kepala.


“Di mana kau meletakkannya?” Marvel mulai ingin tahu.


“Rahasia!”


“Dasar pelit!”


“Sekarang, bukan waktunya untuk berdebat!”


George menyewa dua motor boat untuk mempercepat sampai ke titik Gabby berada.


“Kau bisa mengendarainya, kan?” George bertanya seraya memakai pelampung untuk menjaga keselamatannya.


Marvel nampak ragu untuk menjawab. Ia tak suka dengan laut, pernah naik motor boat saja tidak, apa lagi mengendarainya. Ia menjawab dengan gelengan kepala kecil.


George memutar bola matanya. “Percuma aku menyewakanmu. Kau di sini saja, biar aku yang menyusulnya.”


“Aku ikut!” paksa Marvel.


Dari pada semakin lama berdebat, akhirnya George membiarkan Marvel untuk memboceng di belakangnya.


“Kau bawa ini, dan arahkan padaku pada titik berwarna merah itu.” George menerangkan pada Marvel seraya memberikan ponselnya. Setidaknya, Marvel ada gunanya ikut bersamanya.


George mulai melajukan motor boat, terpaan angin ditambah percikan air mulai membasahi tubuh.


Marvel memberikan arahan dengan suara yang berteriak karena berlomba dengan suara angin laut, ombak, dan mesin.


Marvel melawan ketidaksukaannya dengan laut, karena ia sesungguhnya tak bisa berenang. Sehingga menjauhi tempat yang berbau air.


Motor boat itu semakin mendekati titik.


“Sepertinya itu.” Marvel menunjuk sebuah speed boat.


Speed boat dengan dua kursi tanpa penutup di atasnya.


Dari jarak lima ratus meter, George dan Marvel dapat melihat seorang wanita sedang berdiri di ujung speed boat yang tak dinyalakan mesinnya. Berdiri tegak seolah siap menceburkan diri ke dalam lautan.


George semakin menarik tuas gas, mempercepat lajunya.


“Gabby ...!” George dan Marvel kompak berteriak memanggil saat ...


Byur ...