Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 21



George memicingkan matanya menatap Gabby yang mendadak berubah menjadi lembut. Bahkan wajahnya semakin cantik dihiasi sedikit senyuman.


“Apa?” Ada rasa penasaran yang dirasakan oleh George, mengapa seorang Gabby Gabriella sampai memohon dengannya.


Gabby menggigit bibir bawahnya. Sial! Aku mempertaruhkan harga diriku hingga harus memohon dengannya.


Tingkah Gabby tak lepas dari pengamatan George. Sial! Mengapa aku bergairah melihat itu.


Keduanya hanya berani mengucapkan dalam hati masing-masing.


“Apa kau bisa berjanji dulu untuk menepatinya?” Gabby harus memastikannya agar pria itu benar-benar tak akan mengingkari.


George mengedikkan bahunya. “Katakan saja!” Nada tegas terdengar begitu jelas.


Gabby menegakkan badannya lalu menghela nafas perlahan. “Jangan katakan pada papaku jika aku pingsan.”


Makin penasaran saja George. “Kenapa?”


Kenapa? Tak mungkin kan aku mengatakan padanya bahwa aku akan mendapatkan hukuman jika fisikku lemah? Dan pingsan? Itu salah satu bentuk kelemahan fisik. Bahkan ini adalah pertama kalinya aku pingsan.


Tidak, Gabby tak bisa mengatakan betapa kerasnya didikan Lord hingga ia memilih hidup sendiri daripada bersama papanya.


“Sudahlah, jangan banyak tanya. Cukup kau tak perlu memberitahu pada papaku!” Gabby sudah kembali pada mode galaknya lagi.


“Apa begini caramu memohon pada seseorang?” tegur George tanpa mengalihkan pandangannya dari Gabby.


Gabby menghembuskan karbondioksida melalui mulutnya secara kasar. Ia sudah berfikiran jika dirinya harus memohon bersimpuh di kaki pria dingin itu dengan berurai air mata penuh belas kasihan.


Cih! Tak sudi! Memohon dengan pria itu saja sudah menginjak-injak harga dirinya, apa lagi sampai bersimpuh seperti seorang budak.


“Ya! Beginilah caraku. Jika kau tak ingin membantuku yasudah, memang kau itu pria yang tak bisa diandalkan. Bahkan hal sepele seperti ini pun kau sepertinya tak bisa melakukannya.” Angkuh, wanita itu sangat angkuh dan menantang dalam pengucapannya.


Ia menunggu respon dari George, apakah sesuai dengan dugaannya atau tidak.


“Oke, aku tak akan mengatakannya pada papamu. Tapi itu tak gratis.” Tepat sekali dengan prediksi Gabby.


“Berapa imbalan yang kau minta?” tanya Gabby. Berapapun akan ia berikan asalkan nominalnya masih dalam batas wajar.


George diam, ia berfikir sejenak. Wajahnya sungguh tak berubah, ketika otaknya bekerja pun tetap saja datar.


“Pijat tubuhku hingga aku tertidur.” George memang merasakan ototnya sudah mulai membutuhkan relaksasi.


Gabby memutar-mutar matanya untuk berfikir. Dia fikir akan imbalan berupa uang yang diminta. Ternyata dirinya salah.


“Oke, deal. Tapi setelah selesai ku pijat, kau harus berjanji padaku tak akan memberitahukan pada papaku jika aku pingsan.”


Gabby dan George tak bersalaman layaknya orang-orang ketika melakukan sebuah kesepakatan. Keduanya malah saling melipat kedua tangan di dada dan sedikit menyentakkan dagunya ke atas sebagai tanda persetujuan mereka.


“Kau tunggu disini, aku akan membersihkan tubuhku.” Geroge belum sempat mandi selepas dari pantai ia langsung mengurus Gabby yang tak sadarkan diri dan keluar mencari obat serta makan untuk wanita itu.


George masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Gabby menunggu dengan merebahkan tubuhnya di sofa.


Hingga lima belas menit kemudian, George pun keluar hanya menggunakan celana pendek dan membiarkan tubuh bagian atasnya tereskpose.


“Pakai bajumu! Badan tak ada bagus-bagusnya seperti itu kau pamerkan.” Bohong sekali wanita itu berucap. Dalam hatinya mengagumi, namun lisannya berkata lain.


Dia akan besar kepala jika mendapatkan pujian.


George memilih tak menanggapi. Kakinya mengayun ke arah ranjang.


“Cepat pijat!” Saat ini George sudah tidur dengan posisi tengkurap.


Gabby mencebikkan bibirnya. Ia naik ke atas ranjang dengan kasar hingga tubuh George sedikit naik turun seperti naik trampolin.


Tangan yang sering digunakan untuk mendesain itu mulai bergerilya pada pundak, punggung, dan kaki George silih berganti.


Lama sekali Gabby memijat, karena George tak kunjung tertidur. Hingga ia harus mengerjapkan matanya berkali-kali saat kelopaknya begitu lengket ingin menutup.


Satu jam tak terasa, Gabby sampai tak sadar jika George sudah tertidur. Karena tak berselang lama, tubuhnya ikut tumbang di samping George.