Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 74



“Jo! Cari tahu tentang janji apa yang pernah pria tengil itu dan Gabbyku buat!” titah Marvel yang baru saja kakinya menyentuh marmer di kediamannya. Ia begitu resah mengingat kata janji ketika ia merusak prosesi lamaran George di Restoran Ravintola.


“Baik, Tuan.” Jo langsung pamit undur diri.


...........


George sampai di apartemennya, ia langsung membersihkan dirinya yang lengket karena keringat bercucuran bercampur dengan debu.


Bathtub jacuzzi berbentuk persegi panjang, sudah siap dengan air panasnya. George merelaksasi tubuhnya yang lelah.


Sebuah gelas dan sebotol champagne menjadi temannya untuk memanjakan diri.


Gelasnya hanya ia putar-putar sedari tadi, tanpa meminum isinya. Pikirannya melayang memikirkan strategi apa yang akan ia lakukan untuk menakhlukkan Gabby. Namun ia terus waspada dengan Marvel. Ia yakin pria itu akan menggunakan cara licik.


“Jika dia licik, maka aku akan lebih licik.”


...........


Sementara itu, Gabby sudah mengkonsumsi obat tidurnya. Ia sudah berselancar di alam mimpinya. Namun, rasanya baru sebentar ia tak sadarkan diri. Padahal sudah tiga jam. Ia harus terganggu dengan dering ponselnya yang berkali-kali berbunyi.


Gabby berdecak kesal, siapa yang menggangu malam-malam seperti ini. Dengan malas, ia menggeser tombol hijau.


“Ha—” Belum sempat suara serak khas bangun tidur itu menyelesaikan kalimatnya, Diora sang penelfon sudah menangis dengan sangat kencang.


“To-tolong aku ...,” ujar Diora membuat Gabby yang mendengarnya langsung tersadar sepenuhnya.


“Kenapa? Kau kenapa? Cepat katakan!” Panik, Gabby begitu panik, takut terjadi hal yang tidak-tidak mengancam keselamatan sahabatnya.


“Su-suamiku ....” Isak Diora membuat suaranya terbata-bata dan tercekat untuk mengatakannya.


Geram! kenapa wanita itu tak langsung saja mengatakan inti dari masalahnya. Kenapa harus setengah-setengah seperti orang gagap. Membuat Gabby begitu penasaran.


“Suamiku tergeletak di lantai, ada busa keluar dari mulutnya ... tolong aku ...,” pinta Diora.


“Apa?” Gabby begitu kaget. “Kirimkan alamat rumahmu, aku akan segera kesana.”


Sembari menunggu lokasi kediaman Diora dan Davis, Gabby langsung menghubungi papanya untuk mencari bantuan. Namun sang papa merekomendasikannya untuk menghubungi George sahabat Davis, karena menurut Lord pria itu yang cocok untuk membantu. Sebab, seluk beluk Davis semuanya George yang mengetahui.


Gabby bercedak, “kenapa harus berurusan dengan pria itu terus.”


Dengan malas, Gabby segera mengganti pakaiannya. Masa bodo dengan gengsi dan harga diri. Langkahnya tergesa-gesa menuju basement. Ia memakai helmnya dan langsung menancap gas menuju ke alamat pria yang begitu dibencinya itu.


Ting ... tong ...


Bel apartemen George terus dibunyikan oleh Gabby. Seolah tak sabar, ia tanpa henti memencetnya. “Lama sekali dia! Apa dia tuli? Atau tak di dalam?” decaknya kesal. “Ku dobrak juga pintunya.”


Gabby sudah bersiap mengambil jarak untuk mendobrak pintu kayu di hadapannya. Mulutnya sudah mulai menghitung hingga tiga. Dan ...


Brug!


Tubuhnya terjatuh di atas George. Pintu itu terbuka, tepat ketika Gabby hendak menuangkan segala kekuatannya.


Buru-buru Gabby menyingkir, sebelum sesuatu yang tertidur akan terbangun. “Kenapa lama sekali kau membukanya!”


“Apa kau tak lihat? Aku baru saja selesai mandi,” jelas George menunjuk bathrobe yang saat ini ia kenakan. “Lagi pula, untuk apa larut malam kau ke tempatku? Apa kau merindukanku?” godanya.


“Dih! Justru aku malas bertemu denganmu.” Gabby pun menyampaikan kepada George tentang kondisi Davis yang ia dengar dari Diora tadi. Daripada pria itu berpikir yang macam-macam dengannya. Lebih baik ia mengutarakan maksudnya.


“Tunggu sebentar.” George langsung beranjak, ia mengganti pakaiannya.