Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 32



Selesai urusan di rumah sakit, Gabby dan George kembali ke villa. Keduanya tak ada perbincangan selama diperjalanan. Hanya terpaan angin jalan yang menampar keduanya.


Gabby segera turun dari motor setelah sampai. Ia hendak menuju kamarnya untuk langsung beristirahat agar tak bersama George yang pastinya akan berujung pertengkaran jika bersama pria itu.


“Ini obatmu.” George memberikan kantung plastik berisi obat yang tadi ia tebus.


Gabby mengambilnya. “Terima kasih.” Meskipun arogan, tapi ia bukan orang sombong yang tak mau mengucapkan dua kata itu.


Gabby langsung berlalu pergi meninggalkan George yang masih menatap kepergiannya.


Di dalam kamar, Gabby hanya tiduran tanpa bisa memejamkan matanya. Biasanya jika sedang seperti saat ini, ia suka membuat konten youtube. Namun MacBooknya tak dibawa.


Gabby memilih membaca komentar-komentar pada postingan videonya. Daripada dirinya tak melakukan apapun dan itu bukanlah kebiasaannya yang senang bersantai tanpa melakukan apapun.


Banyak komentar yang memuji hasil karyanya, bahkan ada yang memuji suaranya yang katanya begitu lembut namun terdengar tegas seperti suara orang yang sangat penyayang terhadap orang lain. Gabby terkekeh ketika suara galaknya dipuji seperti itu.


“Jika mereka tahu asliku, pasti mereka akan ketakutan.”


Jarinya terus menggulirkan layar ponsel, matanya terus membaca satu persatu komentar. Hingga mata dan jarinya terhenti pada sebuah komentar yang menurutnya paling aneh dan melenceng kemana-mana.


“Orang gila! Bagaimana bisa dia itu mengatakan mengagumi dan mencintai orang yang tak pernah menampakkan wajahnya bahkan tak tahu orangnya. Psyco! Bahkan ingin menjadikanku istrinya, dia fikir dia siapa!” decaknya balik mengomentari orang tersebut.


Gabby terus membaca komentar hingga salah satu komentar yang membuat jantungnya mendadak berdetak cepat.


‘Aku tahu siapa kau sebenarnya, bahkan aku mengagumimu sudah sangat lama. Menikahlah denganku atau ku buka jati dirimu yang sesungguhnya kepada para fansmu yang pastinya akan mengusik ketenangan hidupmu yang tak senang menjadi sorotan publik.’


Komentar yang sama dari akun yang sama dengan komentar sebelumnya.


“Tidak mungkin ada yang tahu tentangku! Mistahil!” Gabby terus menampik dan tak percaya begitu saja dengan orang misterius itu. Namun dari komentar itu, ia sedikit terusik. Darimana orang pemberi komentar tersebut tahu jika Gabby tak suka menjadi sorotan publik? Oh mungkin karena dia tak pernah menampakkan wajahnya. Gabby hanya bisa berspekulasi saja.


Ramai sekali di sana, bahkan kursinya pun terlihat penuh.


Gabby masih terus mengayunkan kakinya seraya matanya menelisik setiap bangku. Mencari yang kosong untuk tempatnya makan.


Ada salah satu meja yang bisa digunakan untuk dua orang, namun hanya diduduki oleh satu orang saja. Daripada Gabby harus menuggu ada pengunjung yang menyudahi makan mereka yang entah kapan selesai. Ia memilih untuk duduk di hadapan orang itu.


George, orang yang ada di hadapan Gabby saat ini. Pria itu mengernyit ketika ada orang yang tiba-tiba saja duduk di hadapannya tanpa permisi.


“Jangan salah paham, aku bukan ingin menemani kesendirianmu, tapi tak ada bangku yang kosong. Hanya bangku ini saja yang bisa aku duduki,” ujar Gabby menjelaskan.


George tak menanggapi, ia membiarkan Gabby di sana. Pria itu kembali menatap layar ponselnya yang sedang menampilkan sebuah video.


Gabby pun memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman. Ia memesan makanan yang mengandung santan, cabai yang berlebihan, gorengan, dan minuman yang mengandung alkohol. Ya, Gabby adalah salah satu wanita peminum tanpa banyak orang ketahui.


“Ada lagi yang ingin ditambahkan?” tanya sang pelayan sebelum meninggalkan meja nomor delapan belas itu.


“Sudah, itu saja.” Gabby menutup buku menu dan memberikannya pada pelayan.


George yang mendengar semua pesanan itu nampak diam dan biasa saja. Ia mematikan ponselnya dan meninggalkan Gabby sendirian. Namun tak lama, ia pun kembali lagi.


Gabby biasa saja tak menanggapi atau mengomentari ataupun bertanya.


Tak berselang lama, pelayan pun datang membawakan makanan dan minuman.


“Loh, ini kan bukan pesanan saya,” protes Gabby.


“Tapi di sini tertulis meja delapan belas, nona.” Pelayan itu memperlihatkan sebuah kertas berisi order list meja Gabby.