Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 163



Ada hati yang sedang terluka duduk di salah satu bangku dalam Helsinki Cathedral itu. Bangku paling ujung belakang. Hatinya teriris tak mendapatkan cintanya. Ada penyesalan yang teramat dalam didirinya. Menyesal karena terlambat mengatakan cinta pada wanita pujaan hatinya. Menyesal karena terlalu percaya diri jika pembuktian cintanya bisa meluluhkan hati yang keras itu, ternyata salah. Wanitanya juga membutuhkan ungkapan cinta.


George sangat menyesal setelah mengungkapkan cintanya malam itu. Bukan menyesal karena dia mengucapkannya, tapi karena Gabby mengatakan semua itu terlambat. Gabby juga mengatakan cinta pada George, namun sudah tak ada gunanya semua itu.


Kini George hanya bisa melihat Gabby dan Marvel di atas altar itu. Melihat kedua orang itu mengucapkan janji suci mereka.


Marvel mulai membuka kain yang menerawang menutupi wajah mempelai wanita.


George melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Marvel dan Gabby mulai menyatukan bibir mereka. Hatinya semakin nyeri menyaksikannya. Namun dia tetap mencoba bahagia dengan keputusan Gabby yang tak memilihnya. Meskipun sekuat apapun dia meyakinkan Gabby untuk memilihnya dan menyatukan cinta mereka.


Gabby selalu mengatakan jika ia tak ingin melukai Marvel yang telah berjuang untuknya.


George mulai berdiri saat kedua mempelai turun dari altar dan anggota keluarga lainnya berkerumun untuk saling mengucapkan selamat kepada pengantin baru itu.


Dengan gagah dan menutupi semua perasaannya yang sedang tak baik-baik saja, George menghentakkan sepatu pantofelnya mendekat ke sana.


George menunggu semua orang selesai mengucapkan selamat dan doa kepada pengantin. Lord, Diora, Davis saling bergantian mengucapkannya.


Pernikahan itu hanya dihadiri oleh anggota keluarga saja. Namun tak ada anggota keluarga Marvel yang datang. Bahkan, Jo yang diundang oleh Marvel pun tak menampakkan batang hidungnya di sana.


George mencoba mengulas senyumnya, senyum kakunya yang terpaksa. “Selamat atas pernikahanmu, akhirnya kau yang terpilih.” Ia mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Marvel.


Marvel membalas uluran tangan itu. “Terima kasih, semoga kau akan menemukan cintamu yang lainnya. Semoga kau hidup bahagia, dan jangan lupa untuk mengatakan cinta pada orang yang kau cintai. Jangan hanya menunjukkannya saja.”


Marvel dan George pun saling berpelukan dan menepuk pundak satu sama lain. Hanya untuk sesaat, mereka langsung mengurainya lagi.


Gabby menatap tangan itu, tangan yang masih menggantung di udara. Ia beralih mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah pria yang sudah memporak porandakan hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat senyuman di wajah George.


“Tanganku sangat pegal,” seloroh George saat tak juga jabatan tangannya dibalas.


Gabby menunduk, ia menitikan air matanya dan membalas uluran tangan itu. “Maaf.” Ia tak enak sudah menolak George.


Ingin rasanya George memeluk tubuh itu, namun ia sadar bukan siapa-siapa lagi.


George menarik tangannya. “Sudahlah, kita sedang berbahagia. Jangan ada yang menangis,” kelakarnya saat melihat ada cairan bening yang menetes di lantai.


George lalu melirik ke Marvel. “Haruskah aku melakukan seperti adegan difilm You’re The Apple of My Eye?”


Marvel langsung menutup mulutnya. “Jangan coba-coba kau menciumku, aku masih normal.”


Semuanya terkekeh saat candaan dari George dilontarkan. Pria itu sedang mencoba menghibur hatinya sendiri.


George lalu beralih menatap wanita yang masih tertunduk itu. “Atau, haruskah aku melakukan seperti yang dibayangkan oleh Ko Ching-Teng di akhir film itu?”


...........


...Ternyata belum tamat guys. Sinetron ini masih berlanjut. Kayanya mau jadi kaya Tersanjung ini gak tamat-tamat....