
“Aku bukan supir kalian! Beraninya kalian berdua duduk di belakang semua!” raung George ketika Sophie dan Gabby memilih duduk di kursi belakang. Ia membalikkan tubuhnya untuk menatap kedua wanita di belakangnya. “Kau!” tunjuknya pada Gabby. “Pindah depan!” titahnya.
“Dih! Lebih baik aku naik taksi daripada duduk sampingmu!” tolak Gabby melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh.
“Kalau begitu, turun saja kau!” gertak George tak serius.
“Oke, dengan senang hati aku akan turun dari mobil murahanmu ini.” Tangan Gabby sudah meraih tuas untuk membuka pintu mobil, namun tak bisa. Mobil itu sudah dikunci central oleh George, sehingga tak bisa sembarang dibuka jika bukan dari tuas pengemudi. Ia pun mencoba meraih lock door, namun tak bisa. “Buka bodoh, pintunya! Aku tak bisa keluar jika kau kunci central!” berangnya pada George.
“Memangnya aku mengijinkanmu untuk turun?” balas George dengan mendelik kesal. Wanita yang ia tatap saat ini sungguh tak bisa ditantang sedikitpun. Ia tak mengijinkan Gabby untuk turun dari mobilnya sebelum ia mendapatkan jawaban ‘pria ingkar janji’ yang masih teringat terus di kepalanya.
“Tadi kau menyuruhku untuk turun! Aku ingin turun, kau halangi! Selain bermulut sampah ternyata kau juga tak konsisten!” hina Gabby. “Pantas saja kau melupakan janji itu,” gumamnya pelan.
“Apa? Kau mengatakan apa Barusan? Jangan berbisik jika berbicara!” ujar George yang sedikit mendengar kata janji namun tak terlalu jelas.
“Diam! Kau bisa diam tidak? Dan cepat jalankan mobilnya!” titah Gabby yang sudah tak sabar. “Dan kau, Sophie. Pindah depan! Temani pria bermulut sampah itu!” Ia melipat kedua tangannya, menyandarkan kepalanya, memakai kembali earphonenya, dan memejamkan matanya. Mengacuhkan George yang tak terima dengan keputusannya.
“Jadi bagaimana, tuan? Apakah aku harus duduk di depan?” Hati-hati Sophie bertanya agar tak dimakan oleh singa jantan.
“Tidak perlu, kau di belakang saja, dan berikan aku alamat rumahmu!” titah George tanpa memandang Sophie sedikitpun. Ia hanya ingin Gabby yang duduk di sampingnya, tapi wanita itu ternyata sungguh membencinya hingga menolak perintahnya.
George menghembuskan nafasnya setelah Sophie memberitahukan alamat rumahnya. Ia mulai menghidupkan mesin mobilnya, lalu menginjak pedal gas perlahan.
Jalanan Kota Helsinki hari ini cukup padat, George tak bisa melajukan mobilnya dengan kencang. Sesekali matanya mencuri pandang pada Gabby melalui kaca spion depan.
Gerak gerik itu sangat terbaca oleh Sophie. Rasa penasarannya begiu membuncah, ia sangat yakin dengan apa yang ia fikirkan saat ini. “Tuan, jika aku tak salah, sepertinya kau memiliki perasaan dengan nona Gabby?” celetuknya. Mulutnya sungguh-sungguh tak bisa dikontrol jika sudah terlalu penasaran.
“Apa maksudmu?” tanya George dingin namun terdengar tegas.
“Maaf jika penilaianku salah, tapi aku seperti merasa jika tuan selalu mencari cara agar dekat dengan nona Gabby, meskipun itu dengan cara berdebat, memaksa, dan cara lainnya yang tak lazim untuk mendekati seorang wanita. Hanya saran, jika memang tuan menyukainya, dekatilah dengan lembut. Meskipun nona Gabby terlihat angkuh, namun dia tetaplah seorang wanita yang pastinya akan luluh dengan kelembutan.”