
George dan Marvel berteriak bersamaan menyerukan nama Gabby saat melihat wanita itu mulai mencondongkan tubuhnya ke depan secara perlahan.
“Gabby ...!”
Gabby yang mendengar suara teriakan itu menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari motor boat dari sebelah kanannya. Ia menyunggingkan senyumnya saat melihat siapa yang datang. Lalu ...
Byur ...
Dia menceburkan dirinya ke dalam air dengan kedalaman lima ratus meter itu yang sudah masuk ke dalam kategori laut zona batial atau laut dalam karena kedalamannya lebih dari dua ratus meter. Biasanya juga disebut dengan twilight zone karena dikedalaman itu, sedikit cahaya yang masuk.
George semakin menarik tuas gas hingga penuh. Sesampainya di speed boat tempat Gabby menceburkan diri tadi, George melepaskan pelampungnya.
“Kau kendalikan motor boat ini, kau jaga dirimu sendiri baik-baik. Jangan sampai kau terjatuh di laut, karena aku tak bisa menyelamatkan dua orang sekaligus,” titah George. “Aku akan masuk ke dalam, menyelamatkan Gabby,” imbuhnya.
Meskipun ragu, Marvel tetap menganggukkan kepalanya. Karena ia tak akan bisa menyelamatkan Gabby. Uh! Kenapa harus di laut!
“Pegang setangnya! Aku akan masuk ke air setelah kau memegangnya.” George memberikan instruksi kepada Marvel.
Kedua tangan Marvel gemetaran, memegang setang itu. George masih di posisi depan dalam kungkungan Marvel.
Melihat Marvel yang tegang, George hanya bisa menggelengkan kepala. Badan saja berotot, bertatto, tapi dengan air saja takut.
“Kau relax saja, jaga dirimu baik-baik! Jika dalam waktu satu menit, aku dan Gabby tak juga keluar dari dalam air, segera cari bantuan.”
Tangan kanan Marvel diangkat, memberikan jalan pada George untuk menceburkan diri ke laut.
Byur ...
George mempercepat berenangnya saat melihat Gabby yang menuju ke dasar laut. Ia tak memiliki banyak waktu, karena dia bukanlah ikan yang kuat berenang lama di dalam air. Tanpa bantuan oksigen, ia bukanlah apa-apa. Ia harus segera membawa Gabby ke atas untuk menghirup oksigen, sebelum paru-paru semakin mendesak untuk meminta asupan.
George semakin mendekati Gabby, tak memperdulikan ikan-ikan di laut yang berenang ke sana ke mari. Asal tak ada ubur-ubur saja. Ia sangat menghindari hewan itu, menghindari sengatannya.
George menyentuh pundak Gabby saat ia berhasil menyusul wanita itu.
Gabby pun melihat ke arah George. Ia tak dapat membuka mulutnya untuk bersuara, sebab air akan masuk ke dalam paru-parunya jika ia melakukan itu. Ia sangat ingin bertanya ‘kenapa kau menyusulku?’ Namun tak bisa terucap.
Tangan kiri George memegang pergelangan tangan kanan Gabby. Ia memberikan isyarat dengan jempol kanannya menunjuk ke arah atas, mengajak Gabby untuk naik.
Gabby yang paham dengan isyarat itu pun menggelengkan kepalanya, ia menunjuk dasar laut dengan telunjuk kirinya.
George tak mengizinkan Gabby ke dasar laut, apa lagi tanpa bantuan oksigen. Ia tak bisa berlama-lama di sana. Tanpa persetujuan Gabby, ia berenang sekuat tenaga dengan menarik Gabby.
Gabby memikirkan keselamatan George, jika dia melawan maka akan semakin berat beban George untuk naik. Ia tak ingin membahayakan orang lain, meskipun ia benci dengan George. Entah itu benar-benar cinta atau benci yang sesungguhnya.
Gabby ikut berenang ke atas, sesekali ia melihat ke dasar laut. Entah apa yang ia lihat di sana.
George tak melepas sedikitpun genggamannya, justru semakin kuat.