Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 89



“Iya, aku ingat,” balas Gabby.


Membuat George penasaran dengan apa yang ditanyakan oleh sang penelfon. Ia mencoba menajamkan indera pendengarannya. Namun tetap saja tak berhasil. Ingin rasanya George mendekatkan telinganya ke ponsel Gabby, tapi itu tak ia lakukan. Ia harus menjaga imagenya, jangan sampai terlalu terlihat ingin tahu.


“Bersiaplah, aku akan segera menjemputmu di apartemen,” pinta Marvel. Meskipun ia tahu Gabby di apartemen George. Ia hanya berpura-pura, setidaknya Gabby akan cepat pulang.


“Em ... aku ingin ke rumah sakit terlebih dahulu, suami sahabatku sedang sakit. Aku harus melihat bagaimana kondisi mereka saat ini,” alasannya. Tapi memang benar ia ingin ke rumah sakit, untuk mencari kunci motornya sekaligus membawakan makanan untuk Diora. Ia yakin jika sahabatnya akan lupa membeli makanan karena sedang sedih.


“Aku bisa mengantarmu ke tempat sahabatmu itu, aku akan menjemputmu.” Marvel teguh, ia harus cepat bertemu Gabby. Tak ingin memberikan waktu berlama-lama untuk George dan Gabby berduaan.


Gabby menghela nafasnya. “Kau jemput aku di apartemen saja jam dua belas siang. Aku masih ada urusan penting,” tawarnya. “Sudah, ku tutup. Sampai jumpa.” Ia langsung memencet tombol merah secara sepihak.


Gabby memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Kau mau mengantarkanku ke rumah sakit untuk mencari kunciku, atau tidak? Jika tidak, aku akan menggunakan taksi,” tanyanya ketika George terlihat tak bergerak sedikitpun sedari tadi. Terus mengamantinya.


“Tunggu sebentar, aku akan membersihkan diri terlebih dahulu. Jika kau ingin membersihkan dirimu, kau bisa gunakan kamar mandi di sana.” George menunjuk sebuah pintu yang berada di samping kamarnya.


“Tidak, aku akan mandi di apartemenku sendiri,” tolak Gabby.


“Baiklah.” George pun beranjak pergi. Ia langsung membersihkan dirinya.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, George sudah siap.


Gabby langsung berdiri, ia tak membuka suara sedikitpun.


Sesampainya di rumah sakit, mereka malah tak sengaja melihat adegan panas yang tengah dilakukan oleh sepasang suami istri di dalam sana.


George sigap menutup mata Gabby agar tak melihat adegan tak senonoh itu. Padahal Gabby juga sudah sempat sedikit melihatnya. Lalu pintu kembali mereka tutup, membiarkan pengantin baru itu menjalankan tugas mereka.


“Ku kira Diora akan sedih berlarut-larut hingga lupa makan. Ternyata dia sudah makan dengan anaconda panjang,” gerutu Gabby.


George dan Gabby duduk di kursi tunggu yang ada di luar ruangan. Keduanya hanya diam tak ada yang mau memulai percakapan. Hingga pintu kembali terbuka dan George masuk ke dalam.


Sedangkan Diora keluar menemani Gabby yang sudah membawakannya makanan.


“Apa kau menemukan kunci terjatuh di sekitar ruang rawat suamimu?” tanya Gabby.


Diora menggelengkan kepalanya, “tidak, aku hanya menemukan kunci yang masuk ke dalam lubang milikku saja,” kelakarnya.


Gabby menautkan alisnya, ia paham kemana arah pembicaraan itu. “Bukankah kau bilang milik suamimu itu anaconda? Kenapa sekarang kau menyebutnya kunci?”


“Karena kunci kan harus pas dengan lubangnya sehingga bisa membuka sesuatu yang terkunci. Kunci kan harus dimasukkan dulu ke dalam lubang, begitu juga dengan itu. Dia harus masuk ke dalam lubang yang pas juga,” seloroh Diora seraya jari telunjuk dan jempol di tangan kirinya membentuk lingkaran, kemudian telunjuk kanannya ia gunakan untuk dimasukkan pada lingkaran itu seolah memperagakan maksud dari ucapannya.


Gabby menepuk jidatnya. “Kenapa setelah menikah kau jadi mesum.”


Diora terkekeh dan berbisik, “enak, kau harus mencobanya. Pasti akan ketagihan.”