Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 189



George, Gabby, dan Marvel pun duduk di meja itu. Meja yang sama dengan pria tua yang memanggil George.


“Bagaimana keadaanmu George?” tanya pria tua itu.


“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja,” jawab George dengan ekspresinya yang datar.


Pria itu merasakan nyeri di hatinya saat George menjawabnya seperti itu. Ia sadar dengan kesalahannya selama ini, tapi ia tak menyangka jika putranya sungguh membencinya sampai saat ini. Ya, pria yang memanggil George adalah Giorgio—Papa George.


Giorgio lalu melihat Marvel dan Gabby. “Kau sudah menikah?”


George mengangguk. “Seperti yang kau lihat.”


Gabby melirik suaminya yang datar, lalu ia menatap mertuanya yang terlihat sedih. “Aku Gabby, istri George.” Ia berinisiatif memperkenalkan diri sendiri karena ia yakin suaminya tak akan berbasa basi dengan orang yang sudah menghancurkan hati seorang anak. “Dan ini anak pertama kami, Marvel.” Ia membelai rambut putranya.


Giorgio tersenyum ramah pada Gabby. Ia tak menyangka jika menantunya terlebih dahulu memperkenalkan diri. Ia tak akan membahas mengapa dirinya tak diundang saat putranya sendiri menikah, ia cukup sadar diri dengan kesalahannya selama ini.


“Aku Giorgio, Papa George.”


Gabby mengangguk. “Aku sudah tahu.” Ia tersenyum ramah. Sekarang Gabby sudah tak segalak dulu, ia lebih sering tersenyum semenjak memiliki keluarga bahagianya.


Marvel menarik lengan dress Mommynya. “Mommy, Papa George apa artinya?”


Gabby dan Giorgio terkekeh mendengar pertanyaan Marvel. Sedangkan George tetap diam tak berekspresi.


“Artinya, aku adalah grandpa Marvel,” jelas Giorgio.


Marvel menatap tiga orang itu bergantian. “Grandpa? Bukankah Grandpa Marvel sudah meninggal semua?” Ia bingung sendiri.


Gabby menggelengkan kepalanya. “Tidak semua. Marvel masih punya Grandpa dari Daddy.”


Marvel mengangguk, ia seolah paham dengan penjelasan Mommynya.


Gabby pun keluar bersama anaknya.


“George, Papa ingin kau meneruskan bisnis keluarga. Papa sudah tua dan butuh penerus,” pinta Giorgio.


“Terima kasih atas tawarannya, Tuan Giorgio. Tapi aku tak tertarik meneruskan perusahaanmu. Silahkan kau berikan kepada istri-istri dan anak-anakmu. Aku tak ingin mencampuri sedikitpun hartamu. Aku sudah memiliki perusahaanku sendiri,” tolak George. Ia enggan memanggil pria di hadapannya itu dengan panggilan Papa. Hatinya sangat sakit dan sudah sangat kecewa.


Setelah menikah dengan Gabby, George memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan Davis. Ia mendirikan perusahaannya sendiri dari nol, tapi tetap dibantu oleh Davis.


“Mereka tak ada yang berkompeten dibidang bisnis. Aku takut perusahaan yang ku besarkan akan hancur jika dikelola oleh mereka,” jelas Giorgio.


George tersenyum sinis. “Aku sudah katakan sejak awal kalian bercerai. Aku tak ingin sepeserpun dari hartamu. Bahkan, aku tak perduli dengan kelanjutan perusahaanmu. Aku tak sudi jika nantinya aku hanya menjadi tulang punggung istri-istri dan anak-anakmu. Enak saja, aku yang bekerja, mereka yang menikmati.”


George mengetahui semua kehidupan Papanya. Ia tahu Papanya sekarang memiliki dua istri muda dan banyak anak dari kedua istri itu. Ia juga mengetahui kehidupan Mamanya yang sudah bahagia dengan suaminya dan tinggal di Belanda. George tetap memantau kondisi orang tuanya, sebenci apa pun dia.


“George, kenapa kau di sini? Kau kenal dengan suamiku?” Suara seorang perempuan yang langsung duduk di samping Giorgio itu menyapa George.


Giorgio menatap istri termudanya dan anaknya bergantian. “Dia anakku dari mantan istriku,” jelasnya.


“Apa? Mana mungkin? Jika dia anakmu, kenapa dia menjadi asisten orang lain?” Wanita itu terkejut, matanya bahkan melotot seolah ingin keluar dari tempatnya.


George menyunggingkan senyum sinisnya. “Kenapa? Bukankah kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan? Catherine.” Ia berucap seolah mengejek mantan kekasihnya.


Pria penghangat ranjang Catherine adalah Giorgio—Papa George. Bagaimana George tak membenci Papanya yang seperti seorang penjahat kelamin. Sudah memiliki istri, masih saja bermain dengan wanita lain.


“Aku sudah tak berselera lagi untuk makan. Aku permisi, Tuan Giorgio,” pamit George. Ia langsung pergi meninggalkan Papanya dan mantan kekasihnya.


George memilih mencari anak dan istrinya. Mengajak mereka pulang untuk makan di rumah saja. Ia bukannya cemburu, namun ia tak ingin emosi dengan jilatan mantan kekasihnya setelah mengetahui siapa dirinya sesungguhnya.