Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 135



Gabby bersembunyi di balik dinding, ia tak memunculkan wajahnya ke depan orang-orang yang sedang menunggu di depan ruang operasi. Ia tak tahu siapa yang ada di dalam ruangan itu. Tapi, jika dilihat, pasti Diora. Sebab, hanya sahabatnya itu yang tak terlihat di sana. Ia tak tahu apa penyebabnya.


Tak lama, dokter terlihat keluar dari ruang operasi itu. Gabby menajamkan indera pendengarannya.


“Bayi di dalam kandungannya harus segera dikeluarkan, tuan. Jika tidak, maka tak akan ada yang selamat.” Jika mendengar penjelasan Dokter, Gabby bisa menyimpulkan bahwa kondisi Diora sedang tak baik-baik saja. Ditambah semua yang menunggu terlihat tegang.


*Kenapa aku masih tetap merasa sakit*, saat melihat semua orang terkhusus Papaku sangat menghawatirkan Diora. Apa Papaku juga tak menghawatirkanku selama aku pergi tanpa kabar?


Gabby kembali menajamkan pendengarannya.


“Lakukan! Tak perduli berapapun biayanya akan aku bayar, asal semuanya selamat,” pinta Davis.


“Ada satu masalah lagi, tuan. Istri anda mengalami pendarahan dan butuh donor darah. Kebetulan golongan darahnya sangat langka. Mungkin ada anggota keluarganya yang memiliki golongan darah sama?”


Davis terlihat melirik ke arah Lord. Lord paham dengan tatapan itu. “Darahku sama, tapi sudah ku campur dengan darah Natalie. Aku tak tega membiarkannya menderita atas kesalahanku sendirian, aku memilih merasakannya juga. Agar adil,” lirihnya menjelaskan.


“Shit!” umpat Davis mengusap kasar wajahnya. “Jadi, kau juga sudah terkena HIV?”


Lord mengangguk, ia juga ingin merasakan apa yang diraskan oleh istrinya—wanita yang ia cintai. Lagi pula, itu juga karena ulahnya.


Deg!


Baru saja Gabby pulang ke kotanya, sudah mendapatkan kabar buruk saja.


Secinta itu Papa dengan Mama Diora? Hingga rela mencampur darah yang terpapar HIV AIDS ke dalam tubuhnya? Mengapa Papa tak pernah menanyakan pendapatku tentang sesuatu yang sangat penting ini? Apa aku sungguh tak dianggap sebagai anaknya? Apa pendapatku tak penting?


Air matanya mengalir, ia sedih. Sangat sedih. Sampai tak bisa disampaikan lagi dengan kata-kata bagaimana rasa sedihnya.


Mendengar namanya disebut, Gabby kembali menajamkan pendengarannya.


“Dia pergi entah kemana!”


“Aku akan mencoba mencarinya lagi.” Setelah mengucapkannya, George langsung pergi begitu saja. Ia yakin jika Gabby pasti masih berada di Finlandia. Sebab tak ada perjalanan atas nama Gabby selama sembilan bulan terakhir ini. Ia memantau transportasi umum yang keluar masuk dari dan ke negaranya.


Melihat George pergi, Gabby semakin bersembunyi agar tak terlihat. Ia masuk ke dalam toilet yang paling dekat dengan posisinya.


“Berarti, Diora sedang membutuhkan darahku?” gumamnya.


Meskipun ia sempat kecewa dengan Diora, Gabby tak ingin menjadi wanita yang jahat. Ia pun pergi ke ruang untuk mendonorkan darahnya.


Setelah memastikan darahnya telah dibawa ke ruang operasi. Gabby memutuskan untuk pergi. Ia masih belum ingin menampakkan wajahnya. Apa lagi pada Papanya. Sungguh, kali ini dia sangat kecewa dengan Papanya.


HIV? Huft ... bahkan itu tak ada obatnya.


Gabby menuju tempat parkir di mana mobilnya berada. Langkahnya gontai seolah tak ada jiwa yang bersarang di sana. Bahkan, ia tak melihat jika di samping mobilnya sudah ada George yang menunggu di sana.


George, saat ia pergi ke tempat parkir. Ia melihat mobil yang ia kenal. Ia kenal itu mobil Gabby karena ia mengingat pernah mengikuti Gabby dengan mobil itu ke pemakaman.


“Kau dari mana saja selama ini?”


Suara itu mengagetkan Gabby, ia pun menaikkan kepalanya untuk melihat sang pemilik—hatinya.