
George membantu Marvel untuk ke speed boat, mereka bertukar tempat. Ia tak akan membiarkan Gabby mengendarai speed boat itu sendirian.
George melajukan motor boatnya ke dermaga untuk meminta bantuan seseorang yang bisa mengendarai motor boat. Sebab, Gabby masih terus menangis. Ia ingat kejadian saat dirinya membawa Gabby ke kapal pesiarnya, wanita itu sangat lama jika sudah menangis.
Sesampainya di tempat Gabby berada, George meminta Marvel untuk berpindah ke motor boat.
“Kenapa kau di sana?” tanya Marvel saat dirinya dan George lagi-lagi bertukar tempat.
“Kenapa? Apa kau mau mengendarainya?” tawar George.
“Ku kira, kau akan menggunakan motor boat ini bersamaku seperti tadi,” elak Marvel.
“Jika aku bersamamu, lalu siapa yang menjaga Gabby? Jika dia berbuat nekat seperti tadi, bagimana?”
Marvel terdiam, ia tak bisa menanggapi itu. Ia merutuki dirinya sendiri yang memiliki kelemahan. Takut air dengan volume yang banyak.
Marvel dan seorang pria yang diminta pertolongan oleh George mulai meninggalkan tengah laut dan menuju dermaga.
George pun demikian. Ia mulai menghidupkan speed boat dan melajukan dengan kecepatan yang tak terlalu kencang. Membiarkan Gabby masih terus tenggelam dalam kesedihan. Untuk kedua kalinya ia melihat itu, tetap saja hatinya ikut sakit, seolah merasakan apa yang wanita itu rasakan.
Setelah sampai di dermaga, George tak langsung turun. Ia menunggu Gabby tenang terlebih dahulu, namun yang ditunggu tak kunjung tenang.
“Apa kau ingin menambah volume air laut dengan air matamu itu?”
Mendengar cibiran George, Gabby menganggkat wajahnya yang sudah basah semua. “Aku ini sedang sedih, jangan mengajakku ribut dulu!” balasnya.
“Siapa yang mengajakmu ribut? Aku hanya ingin kau turun dan pulanglah ke apartemenmu. Apa kau tak malu jika semua orang melihat ke arahmu yang kacau itu?”
George benar, Gabby tak ingin semua orang melihatnya yang sedang kacau.
Gabby dan George pun akhirnya turun. Tak lupa, George membawakan tas ransel milik Gabby yang sepertinya wanita itu tak pernah ganti. Itu terus tas yang dibawa. Mereka menemui Marvel yang sudah menunggu kedatangan mereka.
“Kau.” George yang tegas, dan penuh wibawa itu menunjuk ke arah Marvel.
“Apa?” Marvel yang merasa dipanggil pun menjawab.
“Antarkan dia, pastikan dia sampai ke apartemennya. Jangan biarkan dia mengendarai motornya sendiri!” titah George. Meskipun ia ingin mengantarkan Gabby, namun ada hal yang lebih penting daripada itu.
Marvel, dengan senang hati pria itu menerimanya. Justru ia sangat senang bisa mendapatkan waktu untuk menghibur Gabby.
George memberikan tas Gabby pada Marvel. “Cari kunci motornya di dalam tasnya, jangan berikan tas itu padanya. Gunakan itu sebagai jaminan agar dia mau kau antarkan pulang. Ku serahkan dia padamu. Jaga dia baik-baik.”
Setelah mengucapkan itu, George berlalu meninggalkan Marvel dan Gabby.
Gabby sedang tak bisa bersuara apapun. Ia hanya menatap kepergian George.
Apakah urusannya sangat penting? Hingga dia tak memperdulikan aku yang sedang bersedih? Bukankah dia mengatakan akan menghiburku jika aku sedang bersedih? gumam Gabby dalam hati.
Gabby mengingat ucapan George saat di kapal pesiar.
Gabby menghembuskan nafasnya, ucapannya tak ada yang bisa ku percaya, semuanya dusta!
Gabby pun akhirnya ikut bersama Marvel. Ia membonceng di belakang tanpa penolakan.
Sepanjang perjalanan, mereka tak ada yang berbicara. Gabby tak akan menanyakan mengapa Marvel tak seperti George yang menceburkan diri ke laut, karena ia tahu akan ketakutan Marvel.
Marvel juga tak menanyakan dan membahas soal kesedihan Gabby. Tanpa ia tanya pun, ia sudah bisa menyimpulkan sendiri penyebab Gabby bersedih.
Sesampainya di basement apartemen Gabby, Marvel tak langsung pulang. Ia memastikan Gabby sampai masuk ke dalam unitnya. Meskipun Gabby sudah menolak, tapi ia tak perduli.
Marvel sesungguhnya ingin membahas tentang waktu penyembuhannya, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat jika saat ini ia bahas.
“Em ... Marvel.” Gabby membuka kembali pintunya yang tadi sempat ia akan tutup.
Marvel, untung saja dia belum pergi. “Ya?” Ia melihat ke arah mata sendu itu.
“Boleh aku meminta sesuatu padamu?”
Marvel menjawab dengan anggukan. “Katakan saja.”
“Tolong, jangan katakan pada siapapun tentangku yang menangis dan kacau hari ini. Biarkan ini menjadi rahasia kita bertiga,” pinta Gabby.
Marvel tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Tenang saja, rahasiamu aman.”
Marvel senang bisa melihat sisi lain Gabby, ternyata wanita yang ia kira selama ini kuat, memiliki kelemagan juga. Itu tak masalah baginya. Sebab, jika Gabby terlalu sempurna, justru membuat wanita itu tak membutuhkan siapapun untuk bersandar.