
Satu minggu telah berlalu, selama itu George disibukkan dengan persiapan pembukaan perusahaan baru yang Davis bangun untuk Diora. Ia tak memiliki waktu untuk bertemu dengan Gabby. Ia hanya bertemu Gabby ketika di hari peresmian perusahaan. Setelah itu, ia sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk.
Satu minggu berikutnya, ia baru bertemu lagi dengan Gabby di rumah sakit ketika menjenguk Diora yang hampir saja tertabrak mobil dan harus dirawat karena sedang hamil muda. George sangat marah ketika mendengar Gabby mengatakan tak ingin menikah dan jika ingin hamil, lebih baik menyewa seorang pria.
George masih belum tahu bagaimana perasaannya dengan Gabby. Tapi ia sangat tak suka mendengar ucapan Gabby itu. Pria itu sungguh aneh. Ia begitu pandai mencari strategi pemecahan masalah Davis—sahabatnya, namun ia terlalu bodoh untuk menghadapi masalah hatinya sendiri. Padahal siapa saja yang melihat sorot matanya akan tahu jika ia memiliki perasaan dengan Gabby. Bukan hanya sekedar sebuah janji saja.
George, Davis, dan Lord yang sempat membuat keributan di dalam kamar rawat Diora pun memilih keluar dari rumah sakit untuk mengobrol di cafe.
Keributan itu terjadi karena George menjawab Lord yang menyuruhnya untuk segera menikahi Gabby, dimana Lord melihat George menyukai putrinya setelah Lord beberapa kali mengobrol dengan George. George menjawab jika ia sudah mengecewakan Gabby sehingga sangat sulit untuknya mendapatkan hati Gabby.
“Apa maksudmu sudah mengecewakan anakku? Apa yang kau lakukan padanya?” cecar Lord saat mereka sudah duduk bersama di cafe dengan masing-masing pesanan kopi di hadapan mereka.
Sebelum menjawab, George menyempatkan dirinya untuk menyeruput cappuchinonya.
“Aku bertemu dengannya empat belas tahun yang lalu di danau sebelah pemakaman mendiang Mamanya. Saat itu, aku sangat kacau karena keluargaku.”
“Anakmu menghiburku dan memberiku nasihat hingga aku bisa melupakan kemarahan serta kesedihanku itu. Aku merasa nyaman dengannya, ku janjikan padanya jika sudah besar nantinya aku akan menikahinya.”
“Ternyata, aku mengingkarinya. Aku tak langsung mencari putrimu. Aku malah menjalin hubungan dengan wanita lain dan putrimu ternyata mengetahui itu.”
“Kemudian aku baru mencari putrimu itu setelah aku merasa terikat dengan janjiku sendiri. Aku baru bertemu dengan putrimu lagi saat di acara pernikahan Davis dan Diora. Aku sudah merasa ada sesuatu yang berbeda dengan wanita itu. Namun ku tampik karena aku masih mencari gadis kecil bernama G2, yang ternyata itu adalah putrimu Gabby Gabriella.”
George menjelaskannya sedetail mungkin.
Lord berdiri dan langsung mendekati George yang masih duduk.
Bugh! Bugh! Bugh!
Dua tinju melayang ke wajah tampan George hingga membuat dua sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan darah. Serta satu tinjuan Lord layangkan pada perut George.
Lord mendengus. “Kau pantas mendapatkannya, kau memang salah. Itu untuk balasan karena kau sudah melupakan janjimu sendiri, tak mengenali putriku, dan perbuatan kasarmu dengan putriku!” Ia pun kembali duduk setelah puas menghajar George.
George mengambil tisu dan membersihkan darah di bibirnya, ia tak membalas karena sadar diri. “Aku tahu aku salah. Lalu, aku harus bagaimana untuk bisa mendapatkannya dan meluluhkan hatinya?” tanyanya meminta saran.
Lord dan Davis saling melemparkan tatapan seolah sedang berkomunikasi untuk menjawab apa atas pertanyaan George itu. Kemudian mereka bersamaan menatap George. “Itu masalahmu, bukan masalahku,” kelakar mereka bersamaan. Keduanya saling tertawa ketika George melayangkan tatapan tak suka.
“Aku selalu membantu permasalahan kalian, sekarang aku memiliki masalah, kalian malah tak ada yang membantu,” kesal George. Ia menyilangkan kedua tangannya dan memasang wajah sebalnya.
Lord dan Davis menepuk pundak George bersamaan. “Kami hanya bercanda.” Mereka masih menahan tawa melihat ekspresi George.