
Rasa aneh yang belum pernah Gabby rasakan mulai menjalar disekujur tubuhnya. Sensasi panas menggairahkan membuat wanita itu duduk tak tenang dengan meremas ujung kemeja maroon yang ia kenakan.
Meneguk segelas air es pun tak menghilangkan hawa panas di dalam tubuh. Tangannya mulai membuka kancing kemeja bagian atasnya.
“George, tolong antarkan aku pulang. Di sini panas sekali,” pinta Gabby dengan suaranya yang sudah parau.
Hawa itu juga dirasakan oleh George, ia paham betul apa yang sedang melanda dirinya. Sekuat tenaga ia melawan hasratnya. Tak ingin bermain layaknya hewan yang tak memiliki moral.
George memalingkan wajahnya untuk melihat Gabby sejenak. Menelan salivanya saat melihat sesuatu yang menantang untuk didaki.
“Kau mau telanjang di sini?” Suara George yang parau mengomeli Gabby yang terus membuka kancing kemejanya.
“Panas ... aku tak tahan,” keluh Gabby tak menghentikan tangannya membuka kancing kemejanya.
Dengan kesadaran yang tak seberapa banyak itu, George mengulurkan tangannya untuk mengancing kembali kemeja Gabby. Ia tak ingin Gabby menelanjangi diri sendiri di sana. Tak sengaja ia menyentuh sesuatu yang empuk di balik kemeja itu.
“Ah ....” Desahan itu keluar dari mulut Gabby. Wanita itu menjadi sensitif sekali, padahal hanya tersentuh permukaannya saja sudah semakin menyalurkan hasrat yang mendalam.
Gabby meraih tangan George, ia memegang tangan yang masih berada di kemejanya itu. Menatap wajah tampan di hadapannya dengan tatapan sayu. Otak normalnya sudah menghilang entah kemana.
Gabby menarik George untuk mendekat, ia menempelkan bibirnya pada George. Ciuman panas yang belum pernah ia lakukan, mendadak menjadi ahli melakukannya.
Meskipun George menginginkan lebih, tapi ia mendorong tubuh Gabby. Pria itu mencoba menyadarkan dirinya, ia sampai menggigiti bibirnya sendiri.
“Kenapa? Kenapa kau menolakku?”
George tak menjawab, ia menarik tangan Gabby untuk mengikutinya. Sebelum kesadarannya hilang seperti wanita yang berada di genggamannya itu, sebelum berbuat hal tak senonoh di tempat umum. George mengajak Gabby untuk ke kamar yang ia pesan.
George kembali menemui Gabby, ia menarik lagi wanita itu menuju kamar mandi.
“Berendamlah.”
Gabby mulai masuk ke dalam bathup, sedangkan George memilih mengguyur tubuhnya dengan shower. Keduanya masih menggunakan baju yang utuh.
Keterlaluan kalian! Bisa-bisanya menjebak kami! George memukul dinding di sampingnya dengan kesal.
Sungguh sial, entah apa yang diberikan oleh pak tua dan menantunya itu. Air dingin yang sudah membasahi keduanya tak membuat hasrat panas di dalam tubuh mereka hilang.
Gabby bangkit dari bathup, ia mendekati George dan memeluk pria yang berada di bawah guyuran shower itu.
“Aku menginginkanmu,” bisik Gabby dengan suara yang sudah sangat parau dan mendambakan sentuhan.
George mengurai pelukan Gabby, ia membalikkan tubuhnya. Hasratnya kian menggebu saat melihat Gabby sudah tak menggunakan kemejanya lagi.
Bisikan setan mulai memenuhi otak keduanya yang sudah sama-sama menginginkan penyatuan.
George sudah tak bisa menahannya lagi, ia menyambar bibir Gabby dengan rakusnya. Keduanya saling membalas satu sama lain.
Menggendong tubuh semampai itu untuk ke atas ranjang, Keduanya saling melepaskan kain pembungkus masing-masing hingga polos.
Setan semakin mendominasi pikiran mereka, hingga tanpa sadar mereka sudah terbuai dengan kenikmatan itu.