
Gabby sudah berpikiran buruk saja kepada suaminya. Ia kira George akan mengajarkan anaknya menjenguk adik seperti yang ada di dalam pikirannya. Ternyata tidak.
George mengajak anak dan istrinya untuk ke dokter kandungan. Ia ingin melakukan USG dikehamilan yang menginjak enam bulan. Ingin mengetahui jenis kelamin calon anaknya yang kedua dan ketiga. Istrinya sedang mengandung anaknya kembar dua.
“Kau lihat, Marvel. Itu adik-adikmu,” ujar George yang tengah memangku putranya. Ia menunjuk monitor yang memperlihatkan dua buah hatinya.
Marvel mengangguk dengan senyum lucunya yang menggemaskan. “Yeay ... aku akan memiliki adik banyak seperti Danesh.” Ia tak memalingkan matanya dari monitor itu.
Danesh—anak pertama Davis dan Diora.
“Apa sudah bisa dilihat jenis kelaminnya, Dok?” tanya George pada Dokter kandungan yang membantu Gabby melahirkan Marvel.
Dokter itu mengangguk. “Sudah. Satu paket. Laki-laki dan perempuan,” jelas Dokter itu.
Semuanya nampak bahagia. Keluarga kecil itu terus mengulas senyum hingga ke dalam mobil pun masih berbinar.
Gabby mengusap foto hasil USG nya. “Akhirnya, program hamil kembar kita berhasil.”
“Tak sia-sia uangku keluar banyak demi memiliki anak kembar.”
Gabby, George, dan Marvel saling berbincang ringan sepanjang perjalanan. Mereka tertawa saat George lagi-lagi menjahili anaknya.
“Daddy ... aku mau main ke gedung itu.” Marvel menunjuk sebuah mall paling besar di Kota Helsinki.
“Karena Daddy sedang bahagia. Dan Daddymu orang yang baik hati, aku akan menuruti kemauan putraku tercinta.” George melihat anaknya yang duduk di car seat di belakang melalui spion yang menggantung di depan.
“I love you, Daddy.” Begitu gembiranya Marvel saat George menuruti permintaannya.
“Daddy aja? Mommy tidak?” Gabby mulai tertular suaminya yang sering menggoda anaknya.
“I love you more, Mommy.”
“I love you my little kids.” George dan Gabby berucap bersamaan.
Mobil pun berhenti di basement mall itu. George membukakan pintu untuk istrinya, lalu ia menggendong anaknya untuk keluar mobil.
“Mau ke mana kita?” tanya George saat mereka berada di dalam lift.
“Super park.” Marvel menyebutkan salah satu nama taman bermain di dalam mall itu.
Lift itu berhenti di lantai tempat yang disebutkan oleh putranya.
George menurunkan Marvel dan membiarkan putranya bermain sesuka hati. Ia dan Gabby hanya mengawasi dari jauh.
“Mommy ... Daddy ... hungry.” Dari kejauhan, Marvel berlari merengek lapar dengan kedua orang tuanya setelah satu jam bermain.
George dan Gabby langsung berdiri menghampiri anaknya. George menangkap tubuh mungil itu dan menggendongnya.
“Kita makan,” ajaknya.
Mereka pun berjalan menuju restoran terkenal di sana.
“George ...,” panggil seseorang saat keluarga kecil yang terlihat bahagia itu menginjakkan kaki di dalam restoran.
George dan Gabby menghentikan langkah dan menengok ke sumber suara. Mereka melihat ada pria yang sudah mulai keriput namun tak terlalu terlihat karena kulitnya yang putih.
Gabby lalu beralih menatap raut wajah suaminya. George memudarkan senyumnya yang tadi mengembang.
“Are you okay?” Gabby menanyakan keadaan suaminya, suasana hati tepatnya. Ia tahu siapa yang memanggil suaminya.
“I’m fine.” George mengulas senyum pada istrinya. “Kita cari tempat duduk.” Ia kembali menggandeng Gabby dan mengajak istrinya untuk mencari tempat yang kosong.
Pria tua itu berdiri hendak menghampiri George saat George dan Gabby hendak pergi tanpa membalas sapaannya.
“George, duduklah denganku, di mejaku. Semua meja sudah penuh,” ajak pria tua itu.
Gabby mengusap lembut lengan suaminya saat George terlihat mengela nafas dan memejamkan mata dengan kedua alis yang sedikit terangkat. “Berdamailah dengan masa lalu,” ujarnya.
Marvel hanya diam saja. Ia tak paham dengan yang diobrolkan oleh kedua orang tuanya.