
Gabby mengendarai sepeda motornya dengan ugal-ugalan. Ia sangat kesal dengan Papanya. Selalu mengatur kehidupannya, mulai dari sifatnya yang harus seperti apa yang Lord inginkan, pendidikannya yang sesungguhnya ia tak ingin berkecimpung dibidang arsitektur tapi harus mengambilnya hanya karena demi menjaga anak Lord satunya, Diora yang lemah dan tak berdaya. Sekarang? Bahkan masalah kehidupan masa depan rumah tangganya pun Papanya ikut campur. Masalah hati dan perasaannya pun diatur.
“Kalian semua egois! Tak ada yang memahami perasaanku!” raungnya di balik helm fullface yang dibelikan oleh George saat itu.
Gabby menangis sepanjang perjalanan. Ia sangat kecewa dengan Papanya. Apa tak bisa, satu kali saja tak mencampuri urusan Gabby? Cukup mendukung Gabby, ia juga ingin hidup sesuai dengan apa yang dia inginkan. Bukan hidup layaknya boneka hidup yang dikendalikan oleh Papanya.
Pikirannya kacau sepanjang perjalanan, bahkan ia tak terlalu fokus dengan jalan yang ia lalui. Hingga dia harus menghindar saat bertemu kendaraan lain, karena ternyata jalur yang ia lewati berlawanan arah.
Brak!
Kendaraannya tak bisa langsung berhenti, Gabby yang menghindari mobil dari arah depannya pun akhirnya membanting stang motornya dan menabrak bangunan ruko di pinggir jalan.
Tak ada korban lain selain wanita yang sedang kacau itu.
Darah segar keluar dari kepala Gabby, bahkan dari telinga wanita itu juga perlahan keluar cairan berwarna merah. Saking kacaunya dia, hingga lupa untuk mengunci helmnya. Sehingga saat dia menghantam bangunan ruko dengan kencang, benda bulat yang tak sempurna itu lepas dari tempat yang seharusnya dilindungi.
Gabby tak langsung kehilangan kesadarannya, matanya masih sayup-sayup melihat sekitarnya yang terlihat buram kemerahan. Darah sudah mengalir melewati matanya.
Sakit ... wanita itu merasakan sakit disekujur tubuhnya. Luar dan dalam. Semua terasa sakit. Hatinya sakit, fisiknya juga seperti itu.
Gabby membalikkan tubuhnya yang miring untuk menatap langit malam yang tak bertabur bintang. Tangannya merentang seolah ia siap menerima ajalnya saat itu juga.
“Jika memang ini akhir dari perjalanan hidupku, maka bahagiakanlah semua orang yang aku sayangi. Jangan buat mereka bersedih karena kepergianku,” gumam Gabby sebelum akhirnya ia memejamkan matanya.
Entah terbuat dari apa hati wanita itu. Dalam keadaan seperti itu pun, dia tetap memikirkan perasaan orang-orang yang ia sayangi. Orang-orang yang bahkan sudah membuatnya kecewa dan sakit hati.
Tak bisakah mereka yang disayangi dan dicintai oleh Gabby, memahaminya? Memahami perasaannya yang begitu terluka. Selama dua puluh tahun, hidup dalam kepalsuan. Pura-pura kuat. Pura-pura baik-baik saja. Lelah rasanya hidup dalam kepalsuan.
Jalanan malam yang tak ramai kendaraan berlalu lalang itu membuat Gabby tergeletak di bahu jalan tanpa seorang pun yang menolongnya.
Kendaraan roda empat yang wanita itu hindari pun tak berhenti sedikitpun. Pengendaranya terus melajukan mobilnya, hanya melihat sekilas dari kaca spionnya. Ia tak berani turun dan menolong, sebab tak ingin disalahkan atas kecelakaan itu.
Udara malam yang dingin silir berganti melewati tubuh yang tak berdaya itu. Bahkan sang pemilik raganya pun sudah tak dapat merasakannya.
Jalanan yang sepi di malam hari akhirnya menampakkan sebuah mobil yang melewati jalan itu, sang pengendara menghentikan laju kendaraannya saat melihat ada seseorang yang tergeletak di sana.
Orang itu langsung mengecek denyut nadinya. Tanpa pikir panjang, ia pun membawa masuk ke dalam mobil dan membawa ke rumah sakit.