
Lord memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut. Dua manusia yang memperebutkan Gabby kini malah berdebat saling mendeklarasikan bahwa Gabby adalah milik mereka.
“Dia sudah setuju mau menerimaku dan menemaniku dari nol! Dia milikku, bukan milikmu!” ujar Marvel.
“Tapi, aku sudah lebih dulu melamarnya! Artinya, dia milikku, bukan milikmu!” ucap George.
Tak ada yang mau kalah diantara keduanya. Baik George maupun Marvel, semuanya sama-sama keras kepala.
Marvel menyeringai, “tapi kau belum diterima oleh Gabby, sedangkan aku? Dia sudah menerimaku, dia setuju akan mendampingiku!” serunya penuh penekanan yang terdengar jelas di akhir kalimatnya.
George berdecak meremehkan, “selagi namamu dan namanya belum tercatat di buku yang sama, kau dan dia bukanlah apa-apa!” tegasnya.
“Cukup!” sentak Lord menggelengkan kepalanya. Kedua calon menantunya sama-sama kekanak-kanakan dia rasa. “Kalian membuatku pusing! Lebih baik kalian pulang saja!” usirnya.
“Gara-gara, kau!” George dan Marvel kompak menyalahkan satu sama lain.
“Pergi!” Sekali lagi Lord mengusir mereka.
George dan Marvel bergeming.
“Jadi, siapa yang akan kau pilih untuk menjadi menantumu?” Kedua pria tampan itu serempak bertanya. Membuat keduanya saling melempar tatapan tak suka.
“Tidak ada, kalian tunjukkan kemampuan kalian untuk mengambil hatinya. Maka ku serahkan semuanya pada pilihan putriku,” jelas Lord yang tak mau ambil pusing.
“Kau gila, Paman! Jika aku mengambil hatinya, dia akan mati. Aku memang penjual organ manusia, tapi aku tak mungkin mengambil dari orang yang aku cintai,” tolak Marvel.
Plak!
Bunyi geplakan dari tangan George pada kepala belakang Marvel terdengar sangat kencang.
Membuat Marvel reflek mengelus kepalanya. “Sakit! Bodoh!” sentaknya menatap tajam sang pelaku.
George berdecak, “kau yang bodoh! Bisa-bisanya kau itu mengartikan mengambil hati Gabby dengan tindakan kriminal! Pria bodoh sepertimu tak cocok bersanding dengan Gabby!” hinanya.
“North!” Suara baritone Lord berseru memanggil tangan kanannya.
Orang yang dipanggil langsung menghampiri tuannya. “Saya, Tuan.”
“Baik, Tuan.” North memberikan hormat. “Mari, ku antar,” ajaknya.
Geroge dan Marvel menurut juga, kehadiran mereka sepertinya sudah tak diinginkan oleh Lord. Daripada tak mendapatkan restu sama sekali karena membangkang. Lebih baik mereka angkat kaki saja.
Dua pria itu bersamaan berdiri dan mengibaskan jas yang mereka kenakan.
“He! Kau menirukanku!” seru mereka bersamaan.
“Lama-lama, ku nikahkan kalian berdua!” ancam Lord yang sudah tak sabar.
George dan Marvel bergidik geli membayangkan jika sungguh mereka akan dinikahkan. “Hi ... tak sudi,” ujar mereka lagi-lagi bersamaan dan membuang mukanya. Bahkan mengelus lengannya pun sama.
Hentakan kaki yang menimbulkan bunyi pertemuan sepatu pantofel dengan lantai itu terhenti sebelum keduanya meninggalkan area rooftop. Lord memanggil mereka dan berbalik melihat sang pemilik suara.
“Bersainglah dengan sehat,” nasihat Lord, dijawab anggukan.
Kini, Lord tersisa sendiri. “Siapapun yang dipilih oleh anakku, asal dia bahagia menjalaninya. Aku akan merestui,” gumamnya.
...........
Di halaman kartel Lord, dimana dua mobil mewah terparkir di sana. Perdebatan masih saja berlangsung.
“Ingat! Dilarang menggunakan cara licik!” George mengingatkan.
“Kau pikir mukaku ini menggambarkan pria licik?” Marvel merasa dirinya terhina dan dipandang rendah.
“Orang yang berbisnis di dunia gelap sepertimu tak akan jauh dari cara-cara licik,” terang George.
“Sembarangan, kau! Bedakan antara licik dan strategi!” Marvel tak terima dengan tuduhan itu.
“Tak ada bedanya,” sahut George santai. Ia langsung masuk ke dalam mobil, dimana anak buah Cosa Nostra sudah siap untuk mengantarkannya pulang.
Marvel meraung dan menendang udara. “Awas, kau! Ku pastikan kau akan kalah.”