Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 138



Jalanan Kota Helsinki yang lenggang seolah tak memberikan hambatan untuk Gabby pulang ke aprtemen yang ia sewa. Ia segera turun dari mobilnya saat sampai di basement.


Gabby tak mampir ke mana pun, ia langsung pulang karena terapis Marvel sudah menyampaikan agar terus memantau pria itu dan jangan sampai ada hal yang membuat pria itu ingin kembali menyentuh barang laknat lagi.


Gabby tak ingin Marvel berpikiran yang macam-macam jika ia tak kunjung pulang. Ia ingin Marvel tetap tenang pikirannya.


Klek!


Gabby membuka pintu dan langsung melihat Marvel yang tengah berkutat di dapur.


“Kau sudah pulang?” Marvel menengok ke arah pintu saat mendengar suara dari sana.


Gabby mengangguk. “Maaf, lama, ada urusan mendadak tadi,” sesalnya. Ia tak menyampaikan jika bertemu dengan George. Ia meletakkan tasnya di sofa, lalu ia duduk di kursi meja makan. Mengamati Marvel yang sangat mahir memasak. “Apa kau baru saja keluar? Kenapa berpakaian rapi?” tanyanya kemudian, setelah mengamati penampilan Marvel.


Marvel melihat pakaiannya. Ia baru sadar jika lupa tak mengganti dengan pakaian santai. “Tidak, aku sedang ingin berpakaian rapi,” elaknya. “Urusan apa memangnya yang membuatmu lama?” Meskipun Marvel sudah tahu dan melihat sendiri, namun ia ingin mendengar langsung dari Gabby.


Gabby mengambil buah apel di atas meja dan menggigitnya. Kunyahan di mulutnya membuat jawabannya tak jelas.


“Telan dulu jika sedang makan, aku tak mendengar jelas,” nasihat Marvel.


Gabby menelan buah apel yang sudah halus setelah ia kunyah. “Bukan urusan penting, hanya orang yang selalu menggangu saja hingga membuatku lama.” Mengganggu pikiranku!


Gabby paham dengan apa yang tengah dirasakan oleh Marvel. Terapis Marvel sudah memberitahukan jika setelah pemutusan obat, Marvel akan menjadi mudah tak percaya diri.


Gabby berangsur berdiri dan beranjak mendekati Marvel. Ia berdiri di samping Marvel dengan tangannya yang mengelus punggung pria itu yang masih terlihat kurus.


“Jangan terlalu banyak berpikir, apapun yang ku lalui, aku tak akan merubah keputusanku.”


Menengok ke kanan dan menatap lekat wajah Marvel yang tetap tampan meskipun bulu-bulu di wajahnya semakin lebat. Senyuman menenangkan ia ukir di wajah cantiknya.


Marvel juga menatap Gabby. Hatinya lumayan tenang saat melihat wajah yang meneduhkan itu. Wajah yang tadinya terlihat galak, kini sangat ramah di matanya.


Bukannya mengalihkan pandangannya, Marvel justru mengulas senyum lebarnya. “Mau ku ajari memasak?” tawarnya.


“Boleh,” balas Gabby.


“Tunggu sebentar.” Marvel meninggalkan Gabby. Ia mengambil sesuatu di samping kulkas.


Gabby melihat aktifitas yang dilakukan oleh Marvel. Ia hanya berdiri saja dan menunggu.


Marvel kembali, mendekat ke arah Gabby mengikus jarak diantara keduanya. Tangannya terulur memakaikan apron berwarna coklat itu.


“Aku bisa sendiri.” Gabby mencegah Marvel yang hendak melingkarkan tangan untuk mengikat tali apron.


“Izinkan aku melakukannya untukmu,” mohon Marvel.


Gabby membiarkan pria di hadapannya itu mengikat tali apron. Ia menahan nafasnya saat tak ada jarak diantara dirinya dan juga Marvel. Mematung seperti batu, hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia mencoba memegang dadanya, merasakan adrenalin jantungnya. Ternyata, tak berdegup kencang seperti saat bersama George.


“Selesai.” Binar kebahagiaan hanya karena hal kecil terlukis di wajah Marvel. Pria itu banyak tersenyum sekarang. Tersenyum dengan Gabby tentunya.


“Terima kasih.” Gabby membalas ulasan manis di bibirnya. Ia bisa kembali bernafas lagi sekarang. “Jadi, apa yang harus aku lakukan?”


“Tunggu sebentar.”


Lagi-lagi Gabby harus menunggu. Tapi ia tak masalah, selagi melihat orang lain bahagia karena dirinya. Ia juga aka mencoba demikian.


“Berbaliklah.” Marvel memutar posisi Gabby sehingga membelakanginya.


Gabby hanya menurut, ia tak ingin membuat kecewa orang yang sudah berjuang mati-matian untuknya jika ia menolaknya.


Marvel menyatukan surai yang tergerai itu. Ia menguncirnya menjadi satu. “Agar tak rontok dan terjatuh di masakan kita.”