
Gabby nampak ragu untuk turun dari mobil George. Ia tak bergerak sedikitpun padahal George sudah membukakan pintu untuknya.
“Kenapa tak juga turun?” tanya George, ia mensejajarkan tubuhnya dengan Gabby yang duduk di dalam mobil.
Gabby menggigit bibir bawahnya. “Aku malu.”
“Kenapa harus malu? Ini kan rumah Papamu sendiri,” timpal George.
“Aku malu karena sudah tak sopan dengannya saat itu. Aku sudah berkata kasar, menuduhnya, dan tak menghormatinya,” jelas Gabby masih menunduk.
“Papamu pasti akan mengerti, kau saat itu sedang shock. Sehingga pikiranmu jadi sempit. Kau bisa minta maaf dengan Papamu jika merasa bersalah,” ujar George meyakinkan. “Ayo.” Ia mengulurkan tangannya sebagai pegangan Gabby.
Dengan sedikit ragu, Gabby meraih tangan George. Ia mulai keluar dari mobil Tesla warna abu-abu itu. Mobil satu-satunya milik George.
George akhirnya mengajak Gabby untuk pulang ke kartel Lord. Tempat itu menjadi pilihan yang tepat menurutnya untuk mempermudahkannya menjaga Gabby dan calon anaknya. Di sana, mereka tak akan tinggal berdua. Ada Lord dan juga para penjaga. Kamar di kartel Lord juga banyak.
“G2, akhirnya kau pulang. Aku sangat senang melihatmu baik-baik saja.” Lord langsung menyambut Gabby dengan pelukan. Ia memeluk erat tubuh putrinya. “Aku bersyukur, saat itu kau pingsan dan belum sempat mengiris nadi di lehermu.”
Gabby ragu-ragu untuk membalas pelukan Papanya. Namun saat ia mendengar pria tua itu mengatakan maaf berkali-kali dan mengucapkan penyesalannya, ia mulai membalas memeluk Lord.
Gabby menangis, kini ia mengeluarkan suaranya. Tak seperti biasanya ketika ia menangis tanpa suara. “Aku juga minta maaf, aku sudah tak sopan padamu, saat itu,” sesalnya.
Lord mengurai pelukannya, ia memegang pundak putrinya dan menggelengkan kepalanya. “Aku tahu saat itu kau pasti sangat terkejut.”
Gabby mengangguk membenarkan.
“Kita lupakan masa lalu, biarkan semua itu menjadi pembelajaran untuk kita kedepannya,” ujar Lord. Ia merangkul putrinya dan mengulas senyumnya.
“Kau belum makan?” tanya Lord dan dijawab gelengan kepala oleh Gabby.
“Ayo kita makan bersama, aku sudah membelikan makanan enak untuk menyambut kepulanganmu,” ajak Lord.
Tanpa melepas rangkulannya, Lord membimbing Gabby untuk menuju meja makan.
George kembali bergabung dengan Gabby dan Lord. Ia memilih duduk di kursi samping Gabby. Di sana, mereka hanya makan bertiga.
Gabby berdehem untuk menanyakan sesuatu yang mungkin sensitif untuk Papanya. “Pa,” panggilnya.
Lord yang sedang fokus dengan makanannya pun menghentikan aktivitas tangannya. Ia mengalihkan pandangannya untuk menatap putrinya. “Ya?” jawabnya lembut.
“Bagaimana kondisi Mama Diora?” tanya Gabby. Ia sudah lama tak melihat Natalie.
George dan Lord berpandangan. Lord bertanya pada George dengan sorot matanya untuk meminta persetujuan. George menjawab dengan anggukan.
“Natalie, dia telah menghembuskan nafas terakhirnya. Tepat saat kami membawamu ke rumah sakit,” jelas Lord. “Maaf, aku tak bisa menjenguk dan merawatmu di rumah sakit karena aku harus mengurus pemakamannya,” sesalnya.
Gabby meraih tangan Papanya untuk memberikan kekuatan. “Maaf, aku tak bermaksud membuatmu sedih.” Ia menepuk beberapa kali punggung tangan yang memiliki ruam.
“Sudah, sudah. Kenapa kita jadi bersedih seperti ini. Ayo kita lanjutkan makannya,” ajak Lord. Ia ingin mengalihkan perhatian anaknya agar tak terlalu banyak pikiran.
Mereka pun kembali menyantap hidangan di atas meja. Sunyi, tanpa ada yang bicara lagi.
“Bagaimana kondisi kesehatan Papa?” tanya Gabby saat ia selesai menghabiskan makanannya.
Lord lagi-lagi menatap George, ia ingin meminta izin pada pria itu untuk menjawab pertanyaan Gabby. George menjawab dengan gelengan kepala.
Lord kembali menatap Gabby. “Baik, Tuhan masih memberiku umur panjang untuk memperbaiki kesalahanku di masa lalu,” jawabnya.
Gabby merasa aneh, kenapa Papanya selalu melihat ke arah George saat dirinya mengajukan pertanyaan. “Ada yang kalian sembunyikan dariku?”
Lord dan George kompak menggelengkan kepala mereka. “Tidak.”
Mata Gabby memicing tak percaya. “Jangan harap kalian bisa mengelebuhiku lagi.”