Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 151



“Kenapa kau tak ada usahanya untuk memperjuangkan cintamu!” kesal Lord dan Davis bersamaan. Helaan nafas kasar dan gelengan kepala tak pernah henti-hentinya mereka lakukan.


“Kata siapa aku tak berjuang? Aku sudah mencoba mendekatinya, aku mencoba melakukan yang terbaik untuknya. Tapi dia memilih orang lain. Lalu, aku harus berbuat apa? Melarangnya? Mana mungkin, dia itu keras kepala, jika sudah berkata A maka tak akan merubah pendiriannya. Aku hanya menghargai keputusannya saja,” jelas George panjang lebar. Ia mengatakan semua alasannya.


Menepuk jidat bersamaan, Lord dan Davis lagi-lagi bergeleng kepala.


“Kau itu sudah ditikung jauh oleh sainganmu, dan kau masih saja santai. Kau bukan seperti George yang aku kenal, George yang mau menjadi unggul diantara yang lainnya,” ujar Davis yang mulai tak mengenali sahabatnya itu.


George berangsur memajukan tubuhnya. Tangannya ia letakkan di atas meja dengan jemari yang saling bertautan. “Dengarkan aku,” ujarnya dengan nada sangat serius. Tatapannya seolah mengisyaratkan agar dua orang di hadapannya itu mendekat.


Davis dan Lord mengikuti gaya George. Mereka saling mendekatkan kepala dengan tangan di atas meja juga.


“Kalian harus tahu.” George terdiam dan melirik Lord lalu beralih ke Davis.


Dua pria yang diajak bicara, mengangguk mengerti. Mereka sudah menajamkan indera pendengaran masing-masing. Siap untuk menerima informasi dari George.


Wajah ketiganya serius dan datar.


“Gabby, anak Lord itu—”


Mengangguk lagi Lord dan Davis. “Apa? Cepat katakan!” Mereka sudah tak sabar.


“Dia itu sangat keras kepala,” ujar George dengan memukul meja mengingat wanita yang sangat sulit dia takhlukkan itu.


Davis dan Lord mendesah sebal, mereka menjauhkan tubuhnya dengan mengeluarkan decakan dari mulutnya.


“Kalian saja tahu jika wanita itu sangat keras kepala. Coba saja kau tanya Papanya, apa dia bisa melunakkan kepala anaknya yang keras itu?” George juga sesungguhnya frustasi menghadapi Gabby yang tak bisa ia gapai.


Lord terdiam, ia memang mengakui hal itu. Dirinya juga tak bisa melawan anaknya yang teguh dengan pendiriannya. Ia bergeleng kepala memberikan jawaban.


“Ini juga salahku, aku yang mendidiknya hingga menjadi wanita yang seperti itu. Sekarang, aku sedang merasakan hasil dari didikanku sendiri.” Lord memijit pelipisnya yang mulai berdenyut pusing.


George menengadahkan tangan kanannya seolah memberikan isyarat ‘lihat’ dengan tangannya itu. “Bukan salahku Gabby tak memilihku, aku sudah mencoba sebisaku untuk menakhlukkannya. Papanya saja tak bisa melawan keangkuhannya, apa lagi aku,” decaknya.


“Diam!” sentak Lord. “Lebih baik kalian membantuku berpikir,” pintanya.


“Apa?” Davis dan George bertanya bersamaan.


“Bantu aku untuk menggagalkan pernikahan Gabby dan Marvel,” celetuk Lord.


George membelalakkan matanya mendengar permintaan dari seorang Lord itu. “Apa kau gila? Biarkan mereka menikah! Biarkan dia bahagia dengan pilihannya! Kau sudah terlalu lama mengatur hidupnya. Biarkan anakmu itu menentukan jalan hidupnya sendiri. Aku tak setuju dengan permintaanmu itu,” tolaknya.


Davis menatap aneh pada sahabatnya. “Kau itu bagaimana? Seharusnya kau senang jika orang yang kau cintai tak jadi menikah, kau masih bisa mendapatkannya. Bukannya pasrah seperti ini,” kesalnya.


“Siapa yang pasrah? Aku justru sakit saat tak bisa mendapatkan hatinya. Tapi apa boleh buat, aku tak bisa memaksakan masalah hatinya. Bukankah titik tertinggi dalam mencintai adalah merelakannya hidup bahagia bersama dengan pilihannya sendiri? Selagi dia bahagia, aku tak masalah,” jelas George.


“Justru karena aku memikirkan kehidupannya kedepan, aku tak setuju jika dia hidup bersama dengan Marvel.” Ucapan Lord membuat George dan Davis fokus ke pria tua itu.


“Kenapa? Kenapa kau tak setuju dengannya?”