Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 25



Gabby berusaha memberikan jarak agar tak terlalu menempel dengan George. Ia memilih duduk sangat mepet ke belakang.


Hembusan angin begitu kuat karena George sangat kencang mengendarai motornya. Sekuat tenaga Gabby menahan tubuhnya agar tak terhuyung ke belakang.


George tak memperdulikan Gabby yang tak mau berpegangan dengannya. Toh jika jatuh yang sakit bukan dia.


George akhirnya berhasil menyusul Diora dan Davis yang sedang berhenti di lampu merah. Ia berhenti tepat di samping pasangan suami istri itu.


“Gab, kau harus pegangan ... jika tidak, kau bisa terjungkal ke belakang.” Diora memberikan peringatan kepada sahabatnya.


“Tidak, aku tak sudi berpegangan dengannya,” tolak Gabby melipatkan tangannya di dada.


Cih! Rasakan buah dari keangkuhanmu itu.


Bruk!


Benar saja, tubuh Gabby terjungkal ke belakang ketika George dengan sengaja menarik gas sedikit menyendat.


“Aw! Shit! Sialan kau manusia dingin!” raung Gabby yang lagi-lagi ia terjatuh pantatnya terlebih dahulu.


Ini adalah kali ketiga pantatnya terjatuh dahulu karena ulah George.


George hanya menoleh ke belakang tanpa berniat membantu, karena sudah ada Diora yang menolong Gabby untuk berdiri.


“Aku kan sudah bilang, kau tidak percaya.” Diora mengulurkan tangannya.


Gabby menerima uluran tangan itu dan berdiri dibantu oleh Diora.


“Lagi pula kenapa harus satu motor berdua, sudah tau badan kita ini lebih besar daripada penduduk disini, masih saja memaksakan,” gerutu Gabby.


“Salahkan saja George, yang menyewa motornya kan dia,” jelas Diora membantu membersihkan pakaian Gabby yang kotor.


Manusia itu pasti sengaja melakukannya! Awas kau ya! Tekad Gabby akan membalas perbuatan George.


“Sudah, cukup. Aku bisa membersihkan sendiri.” Gabby memberhentikan tangan Diora.


“Tidak, tenang saja.” Untung saja wanita itu tak terluka parah, hanya lecet sedikit dibagian telapak tangan karena ia gunakan sebagai tumpuan dan beberapa luka kecil di kaki serta tangannya. “Kita lanjutkan perjalanannya, kembalilah ke motormu.”


“Baiklah, jika kau baik-baik saja.” Diora berjalan kembali ke suaminya. Dan mereka berdua langsung berjalan terlebih dahulu.


Gabby berdiri di samping George. “Kau sengaja, ya?” tudingnya yakin seratus persen.


George menatap Gabby dan menaikkan kedua alisnya sebagai jawaban iya.


“Kurang ajar!” Gabby semakin kesal dan membenci George. Pria itu seolah tak merasa bersalah sudah menjatuhkan dirinya dengan sengaja.


“Berisik! Cepat naik, atau aku tinggal kau di sini.” titah George disertai dengan ancaman.


“Turun, aku yang di depan dan kau di belakang, kita bertukar.” Gabby memaksa George dengan mendorong tubuh kekar itu agar turun.


“Tidak, kau pasti akan membalasku.” George sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Gabby. Wanita seperti itu pasti akan melakukan balas dendam dengan hal yang sama padanya.


“Sembarangan kau ya menuduhku, aku hanya tak ingin terjatuh seperti tadi lagi,” elak Gabby tak terima dengan tuduhan George.


“Tidak akan, cepat naik! Aku hitung sampai tiga, jika tak naik, ku tinggal kau,” ancam George tak main-main.


“Satu.”


“Tiga.” Gabby yang mengucapkannya ketika ia sudah duduk di motor.


Sesuai perkataan George, Gabby tak terjatuh lagi. Karena pria itu duduk lebih ke depan dan memberikan jarak untuk Gabby agar tak terlalu kebelakang. Sebenarnya tak nyaman George duduk seperti itu, namun ia akan menepati perkataannya.


Mereka sudah sampai di destinasi pertama. Pantai Pandawa.


David dan Diora sudah berada di tempat parkir. George memberhentikan motornya tepat di depan mereka berdua.


Gabby segera turun dari motor yang sudah berhasil menyiksanya itu.


“Kalian pergilah dulu, aku ada urusan sebentar.” Tanpa menunggu jawaban, George langsung melajukan lagi motornya entah kemana tujuannya.