Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 173



Marvel meminta Gabby untuk meninggalkan dirinya dan George berdua. Dia ingin berbicara hal serius dengan George.


Meskipun berat dan penasaran dengan pembicaraan dua pria itu, Gabby tetap menurutinya. Gabby menunggu di ruang tunggu yang ada di ruangan berbeda. Ia tak bisa mendengar sedikitpun apa yang diobrolkan oleh Marvel dan George.


“Terima kasih kau sudah membantuku,” ujar Marvel tulus.


George mengangguk. “Maaf, aku tak bisa membantu banyak. Aku sudah mencoba meringankan hukumanmu, tapi bukti yang dimiliki oleh jaksa penuntut sangatlah kuat,” sesalnya.


Selama persidangan Marvel, George sungguh menepati perkataannya dengan Gabby yang akan membantu Marvel. Ia sudah mencoba sebisa mungkin mengerahkan pengacara terhebat untuk membantu Marvel. Tapi tetap saja, hukumannya tak berkurang.


Marvel mengulas senyumannya setulus mungkin. “Aku boleh meminta bantuanmu? Untuk yang terakhir kalinya,” pintanya.


George mengangguk menyetujui. “Katakan, apa yang bisa ku bantu?”


“Tolong, jaga Gabby. Bahagiakan dia, jangan buat dia bersedih. Aku tahu kau sangat mencintainya, ku mohon jangan sakiti dia. Dia wanita yang sangat berharga untukku, dan untukmu juga. Kita mencintai wanita yang sama. Aku lega jika ada orang lain yang juga mencintainya. Aku bisa pergi meninggalkan dunia dengan tenang.” Marvel mengutarakan permintaannya pada George.


George lagi-lagi mengangguk. “Aku pasti akan melakukan semua yang kau ucapkan itu. Aku juga baru menyadarai, ternyata dia juga duniaku.”


“Aku bersyukur memiliki pesaing cinta sepertimu, kau bahkan rela membantuku,” kelakar Marvel.


“Sudah sepantasnya kita saling membantu, kita sama-sama memperjuangkan kebahagiaan wanita yang sama,” sahut George.


“Bisa aku meminta satu hal lagi padamu?”


George mengangguk lagi sebagai jawaban. “Katakan saja. Jika aku bisa membantu, aku pasti akan lakukan semampuku.”


“Aku ingin kau dan Gabby datang di hari terakhirku. Saat hukuman matiku. Aku ingin melihat orang yang aku cintai untuk terakhir kalinya. Dan aku ingin menyerahkannya padamu saat itu,” pinta Marvel.


“Akan aku usahakan,” balas George.


Waktu menjenguk pun habis, petugas sudah menjemput Marvel untuk kembali ke ruang tahanan.


...........


“Apa yang kau bicarakan dengan Marvel?” tanya Gabby penasaran.


Mereka kini sudah berada di dalam mobil dan siap untuk kembali ke kartel Lord.


George mengalihkan pandangannya dari jalanan ke wajah cantik wanita hamil di sampingnya. Ia melayangkan senyum menawannya. “Biasa, urusan pria,” kelakarnya.


Gabby mencubit lengan George yang keras karena berotot. “Jangan membuatku penasaran,” protesnya.


“Nanti kau juga akan tahu,” balas George. Tangannya mengacak-acak rambut Gabby dengan Gemas.


George menjalankan kembali mobilnya saat lampu sudah berubah menjadi hijau.


...........


Suasana kartel itu sangat sepi, biasanya Lord sedang duduk santai di kursi goyang sambil menikmati acara televisi. Namun kali ini kosong.


“Papaku di mana?” tanya Gabby pada George saat mereka sudah sampai di tempat tujuan.


George mengedikkan bahunya. “Mungkin sedang tidur,” jawabnya.


Gabby mengangguk, ia lalu berjalan menuju kamarnya. Sedangkan George mengantarnya hingga ke depan kamar dan kembali ke kamarnya sendiri yang berada di samping Gabby.


Hari mulai gelap, malam ini Mereka akan mengadakan pesta perayaan wisuda Gabby dan Diora. Gabby sudah siap. Ia sekarang mulai belajar menggunakan baju dress karena perutnya yang membuncit. Dress dengan ukuran besar sangat nyaman untuknya di saat hamil.


Gabby mengetuk pintu kamar Papanya karena Lord tak juga keluar. Sudah hampir lima belas menit, tapi tak juga di buka.


Gabby panik, dia takut terjadi hal buruk dengan Papanya di dalam sana. Ia lalu menghampiri George untuk membantunya membuka pintu yang terkunci itu.