Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 39



George langsung duduk setelah mendorong tubuh Gabby. Keduanya kini saling berhadapan.


Gabby tak henti-hentinya mengejek George yang sudah termakan dengan perkataannya sendiri.


“Berhenti mengatakan omong kosong, aku tak bergairah sedikitpun denganmu!” George masih terus mengelak. “Lihat!” Ia menunjuk sesuatu di pangkal pahanya. “Tak terlihat menonjol.” Ia memberikan bukti konkrit untuk menguatkan statementnya.


“Oh ya?” Gabby melipat kedua tangannya di dada dan meragukan sanggahan yang diberikan oleh George. “Lalu kenapa jantungmu berdetak cepat dan tubuhmu sangat panas?”


Otak George berfikir keras untuk mencari alasan menyangkal pertanyaan yang menyudutkannya itu. “Cuaca disini begitu panas, tentu saja kulitku ikut panas.”


“Oh ya?” Lagi-lagi Gabby menyudutkannya. “Tapi sekarang sedang mendung, tuh.” Ia menunjuk langit yang sudah mulai menghitam.


George ikut melihat ke atas. Sial! Alasan apa lagi aku, harga diriku akan terinjak-injak, kenapa wanita ini tak polos dan tak bodoh dengan hal dewasa? Ia merutuki Gabby yang ternyata di luar dugaannya, jika memiliki banyak pengetahuan tentang hal-hal seperti itu.


Gabby mengetuk-ngetuk jam tangannya dengan jari telunjuknya seolah tengah menunggu jawaban dari George. “Sulit ya untuk mencari alasan lagi?” ejeknya.


“Cih! Siapa yang mencari alasan, aku hanya sedang berfikir,” elak George.


“Berfikir mencari alasan agar harga dirimu tak terinjak-injak olehku?” tebak Gabby.


George menatap Gabby dengan sorot mata yang seolah mengatakan ‘darimana kau tahu?’


“Hati-hati jika berbicara, kau bisa ku laporkan atas tindak pencemaran nama baikku.” George pun ikut berdiri.


“Cih! Sok punya harga diri! Apa aku juga harus mengatakan jika merasakan milikmu yang tadi sempat mengeras agar kau mengakuinya?”


George membelalakkan matanya, wanita di hadapannya ini sungguh fulgar sekali mengatakan hal seperti itu.


George hendak melayangkan elakan lagi, namun Gabby telah membuka suaranya terlebih dahulu. “Bicara saja dengan angin atau daun yang bergoyang, berikan saja sanggahanmu pada mereka yang mungkin percaya dengan alasan palsumu itu. Di mataku kau tetaplah tak memiliki harga diri, terlebih kau adalah seorang pria yang ingkar janji hingga membuat harapan seseorang itu runtuh dan memilih untuk mengubur hidup-hidup rasa yang pernah ada.” Sadar dengan apa yang diucapkan, ia pun langsung meninggalkan George.


Kalimat terakhir Gabby membuat George mematung, fikirannya melayang pada empat belas tahun silam. Satu-satunya janji yang pernah ia ucapkan saat itu dan satu-satunya janji yang pernah ia lupakan. Darimana Gabby tahu? George hanya bisa menduga sesuatu yang tak pasti.


“Tidak mungkin!” George menggelengkan kepalanya, menampik apapun yang ada difikirannya.


George ingin menanyakan pada Gabby langsung, apa maksud dari kalimat yang diucapkan wanita itu padanya. Apa wanita itu tahu sesuatu tentangnya? Buru-buru ia menyusul Gabby yang sudah menjauh.


“Tunggu!” George menghentikan langkah kaki Gabby.


Gabby berdecak. “Apa lagi? Kau itu bisa tidak, tak mengganggu hidupku terus? Dasar pria pengacau!” Pengacau hatiku, pengacau ketentramanku, pengacau hidupku.