
Gabby sudah siap untuk menghadiri acara barbeque. Ia sudah berpikiran bahwa itu adalah salah satu acara yang sengaja dibuat oleh Diora untuk merayakan ulang tahunnya juga.
Bertepatan dengan bel apartemennya berbunyi. Ia pun langsung membukanya karena ingin keluar juga.
“Ada apa kau ke sini?” Gabby terkejut dengan kehadiran George yang tanpa angin tanpa hujan, tiba-tiba ada di hadapannya. Seperti jailangkung saja.
“Menjemputmu untuk ke pesta barbeque,” jawab George.
Gabby tak menolak dijemput oleh George, ia juga tak mendebat seperti biasanya. Rasanya tak enak jika terus berseteru dengan George, sedangkan pria itu sudah mengambilkan barang berharga miliknya.
Sepanjang perjalanan, hanya kesunyian yang menemani keduanya. Tak ada pembicaraan. Gabby masih terasa canggung akibat ulahnya saat di Cathedral yang tiba-tiba memeluk George.
Sedangkan George, dia juga bingung mau mengobrol apa. Dia tak tahu obrolan yang menarik seperti apa. Daripada salah bicara lagi seperti sebelum-sebelumnya. Ia memilih diam.
Bosan juga rasanya hanya diam-diaman seperti orang asing. Gabby melirik ke arah George yang terus fokus melihat jalan. Mengapa hatinya bisa tak pernah berubah, mengapa masih saja ada perasaan untuk George.
George merasa dilihat, ia pun melirik sekilas ke Gabby. “Ada apa?” Ia kembali lagi fokus ke depan.
Gabby menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku hanya ingin berterima kasih sekali lagi padamu,” ujarnya basa-basi yang sangat basi. Padahal ia sudah berterima kasih tadi.
“Tak masalah. Apa kau sudah melihat isi di dalam papperbag itu juga?” tanya George.
Gabby menggeleng. “Belum.”
“Bukalah jika kau pulang nanti.”
Tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya. Hingga mereka sampai ke basement penthouse Davis dan Diora.
Keduanya langsung menuju rooftop, tempat di mana akan berlangsung pesta barbequenya.
Di sana, semuanya sudah siap. Mulai dari pemanggang, daging, bara api yang sudah panas. Tikar sebagai alas mereka untuk duduk pun sudah tergelar di sana.
Semua duduk berdampingan, Lord dengan Natalie, Diora dengan Davis. Eits, ternyata tidak semua. Gabby dan George berjauhan.
“Tidak! Biar aku saja, di sana banyak asap,” tolak Davis. Diora pun menurutinya.
Davis mengajak George dan Lord untuk membantunya memanggang daging kualitas premium yang ia beli tadi setelah dari Cathedral.
Selama menunggu ketiga pria itu asik memanggang, Gabby melihat interaksi antara Diora dan Natalie. Terlihat sangat bahagia. Ia ikut mengulas senyumnya sedikit, ikut merasakannya.
Andai Mama masih di dunia, pasti kita sedang seperti itu saat ini. Ia membayangkan yang dilihatnya saat ini adalah dirinya dan Mamanya.
...........
“Silahkan dinikmati,” ujar Davis setelah makanannya selesai.
Ketiga pria itu menaruh piring berisi daging panggang yang masih mengepulkan asapnya.
Semua mulai menyantapnya. Terutama Diora yang sedang hamil empat anak sekaligus, sangat rakus melahapnya.
Setelah hidangan habis, Davis beranjak sebentar untuk memantikkan korek dan menghidupkan kembang api yang sudah disiapkan olehnya. Dan segera bergabung kembali.
Davis langsung kembali sebelum kembang api itu mengudara meletupkan keindahan yang menghiasi langit malam itu.
“Kembang api.” Diora menunjuk langit dengan hiasan kerlap kerlip yang begitu indah. “Aku ingin berciuman ketika ada itu,” selorohnya.
Jika masalah seperti itu, otak Davis—sang suami langsung bekerja dengan cepat. Ia langsung menempelkan benda kenyalnya dengan istrinya.
Lord dan Natalie pun tak mau kalah, mereka juga melakukan hal yang sama.
Hanya George dan Gabby yang nampak diam.
Gabby mengamati sekilas kedua pasangan itu, lalu kembali menatap langit yang masih terlukis kerlap kerlip oleh kembang api.
Mereka sudah bahagia, aku juga harus bahagia. Bukankah kebahagiaan dari diri sendiri? Aku sudah pernah mengatakannya saat kecil pada pria yang ku temui di danau saat itu. Lalu, untuk apa aku bersedih? Hidup hanya sekali, mari kita bahagia Gabby. Gabby berdialog dengan hatinya sendiri.