Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 155



Gabby memalingkan pandangannya saat jantungnya semakin berdetak tak karuan. Ia selalu menanamkan dalam pikirannya bahwa dirinya dan Marvel sudah akan menikah, sehingga dia harus membuang perasaannya pada George. Ia tak boleh mengkhianati Marvel, tak boleh melupakan perjuangan Marvel, tak boleh melukapan segala sesuatu yang sudah diberikan dan dilakukan oleh Marvel. Ia kembali menyentuh garpu dan pisau untuk menghabiskan makanannya.


“Kebetulan, aku dan George baru selesai meeting. Semua meja sudah penuh dan ternyata ada kalian di sini. Boleh kami bergabung?” Karena tak mendapatkan jawaban, Davis mengulangi izinnya dengan menjelaskan kronologinya. Padahal, itu adalah rencananya.


Lord melihat ke arah Gabby untuk melihat ekspresi anaknya. Ia mengulum senyumnya saat melihat anaknya sedang salah tingkah yang terlihat dari pundaknya terus naik turun seirama nafas yang terbuang dari mulutnya. “Boleh,” jawab Lord tanpa memalingkan pandangannya dari Gabby.


Mendengar jawaban Papanya, Gabby langsung mendongakkan kepalanya. Mendelik ke arah Lord sebagai pertanda dirinya tak suka. Namun bibirnya tak bisa berucap.


Davis lalu duduk di samping Lord, dan George duduk di samping Gabby. Mereka memesan makanan pada pelayan.


Gabby memilih diam tak mengeluarkan suara saat ketiga pria itu asik berbincang. Ia hanya akan menjawab ketika ditanya saja. Dan tentunya jawaban singkat dan langsung pada intinya yang ia lontarkan.


Pelayan datang menghantarkan pesanan Davis dan George. Mereka tak ada yang berbincang lagi.


George melirik ke arah Gabby yang terus saja menunduk tapi tak juga menyelesaikan makannya. Tangannya yang memegang garpu dan pisau terulur untuk mengambil asparagus dan basil dari piring Gabby.


Gabby menoleh ke arah George saat pria itu memindahkan sayuran di piringnya ke piring milik pria kaku itu. George mengulas senyumnya pada Gabby.


“Kenapa kau mengambil sayuran miliknya? Apa milikmua masih kurang?” tanya Lord yang juga ikut menyaksikan.


Tanpa memalingkan pandangannya dari Gabby, George menjawab, “anakmu tak suka sayuran yang berwarna hijau, ia akan muntah-muntah jika memakannya.” Lalu ia kembali tersenyum pada Gabby.


Gabby mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Bagaimana dia bisa tahu?


Mereka melanjutkan makan dengan tenang, hanya Lord yang sudah menyelesaikan makannya. Lord pun izin untuk ke toilet, namun itu hanyalah dalihnya saja. Ia sesungguhnya menuju dapur untuk memberikan obat perangsang pada pelayan agar mencampurkan pada gelas milik George dan Gabby.


Lord kembali duduk di tempatnya semula.


Tak berselang lama, pelayan yang diberikan perintah oleh Lord juga datang membawa empat gelas berisi coktail.


“Minumlah, aku yang mentraktir kalian hari ini,” ujar Davis seraya mengangkat gelas miliknya.


Davis dan Lord meminum secara perlahan dengan mata yang terus melirik gelas dua orang di hadapannya.


Habiskan! Lord dan Davis bergumam di dalam hati mereka, tak lupa senyum samar menghiasi bibir.


Tuk!


Gelas kosong itu diletakkan bersamaan di atas meja. Tak lupa menyeka sisa minuman di bibir dengan sapu tangan juga.


Davis dan Lord semakin tersenyum gembira.


“Apa kau sudah memesan kamar untuk menginap? Dini hari kita harus segera terbang ke Belanda, tak ada waktu jika harus pulang. Kolega kita juga menginap di sini, kita akan pergi ke Belanda bersama dengan mereka,” tanya Davis pada George.


George mengangguk. “Sudah.” Ia mengeluarkan kunci kartu dari sakunya.


“Bagus.” Davis tersenyum penuh makna terselubung. Begitu juga dengan Lord.


Mereka kembali berbincang hanya sekedar basa-basi.


Ponsel Lord dan Davis tiba-tiba saja berbunyi bersamaan. Mereka langsung mengangkatnya. Wajah keduanya terlihat panik, membuat Gabby bertanya-tanya.


“Aku harus segera pergi.” Kedua pria yang memiliki ide licik itu berucap bersamaan.


Tanpa menunggu jawaban dari George dan Gabby, Lord dan Davis langsung berdiri dengan wajah yang panik.


“George, aku titip Gabby. Tolong kau antarkan pulang. Aku harus menjemput Natalie di penthouse Davis,” ujar Lord.


“Memangnya ada apa?” Gabby menjadi ikut panik juga.


Lord tak menjawab. Ia langsung beranjak pergi bersama Davis. Setelah keluar dari area restoran, mereka justru saling bertepuk tangan karena berhasil menjalankan rencana. Mereka akan memantau perkembangan rencana dari jauh. Tak mungkin George dan Gabby dapat menghilangkan efeknya kecuali dengan penyatuan. Lord dan Davis tak henti-hentinya tersenyum saat membayangkannya.