Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 162



Wanita cantik dengan gaun pengantin itu mengulas senyumnya saat melihat pantulan dirinya di cermin. Penata rias baru saja menyelesaikan tugasnya untuk memoles wajah yang sudah cantik itu menjadi semakin cantik dengan balutan riasan natural.


Klek!


Pintu ruangan pengantin itu terbuka, menyembulkan tiga orang anggota keluarganya. Satu demi satu memasuki ruangan itu dan mendekati calon pengantin.


“Kau sudah mantap dengan pilihanmu?” tanya sang Papa yang tak lain adalah Lordeus.


Gabby, sang calon pengantin masih enggan berbicara dengan Papanya. Ia masih marah jika mengingat kejadian saat hilangnya kehormatan dirinya. Ia hanya mengangguk memberikan jawaban. Senyum yang tadi mengembang perlahan memudar.


“Kau masih marah dengan Papa?” tanya pria tua yang tubuhnya semakin lemah digerogoti penyakitnya.


Gabby menggeleng, lalu ia manjawab, “hanya kecewa.”


Lord sadar dengan kesalahannya itu, berkali-kali ia meminta maaf pada Gabby. Namun anaknya tetap tak mau berbicara dengannya. Baru sekarang Gabby membuka suaranya untuk menjawab pertanyaan Papanya. Lord merasa teriris hatinya saat diabaikan oleh anaknya sendiri. Gabby selalu menghindarinya, meskipun tinggal di bawah atap yang sama, namun mereka layaknya orang asing di sana.


“Aku minta maaf, aku hanya menginginkan yang terbaik untuk putriku, sebelum aku meninggalkan dunia ini,” ujar Lord.


“Jangan rusak hari pentingku, ini hari pernikahanku. Diam dan ucapkan selamat padaku! Sama seperti yang aku lakukan saat pernikahanmu dulu,” balas Gabby dengan matanya melihat ke cermin besar di depannya yang juga memperlihatkan Papanya.


Lord mulai lebih mendekat ke anaknya. “Aku hanya bertanya tentang keputusanmu itu, aku tak akan mencampurinya. Aku hanya berharap, apapun yang kau pilih, kau bisa bahagia. Aku ingin kau bahagia dengan pilihanmu sendiri. Keduanya sama-sama mencintaimu, hanya saja berbeda dalam memperlakukanmu. Aku percaya dengan pilihanmu, dia pasti akan melindungimu dan membuatmu bahagia.” Ia menatap putrinya dari pantulan cermin, tak lupa mengelus pundak yang putih bersih itu.


Gabby tak menjawab lagi, ia hanya diam tanpa mengulas senyumnya. Bisa saja Papanya itu berbuat hal licik lagi di hari pernikahannya. Ia tak ingin terbuai dengan kelembutan Papanya, sama seperti saat malam itu.


“Hei aunty, selamat. Akhirnya akan menikah juga.” Diora mensejajarkan tubuhnya dengan Gabby untuk memberikan anaknya ke pangkuan Gabby.


Selama satu bulan, Diora selalu membawa anak-anaknya untuk menemani Gabby. Menemani penyembuhan wanita itu dari depresi karena rasa bersalahnya kepada Marvel serta karena kehidupannya yang pelik selama ini. Dan anak pertamanya yang selalu menjadi pilihan Gabby.


Seperti saat ini, Gabby terlihat bahagia saat bayi itu menggenggam erat tangannya. Ia berceloteh banyak untuk membuat bayi itu mau mengoceh dengannya.


...........


Pria gagah, tampan, dan rupawan itu sudah berdiri di altar. Helsinki Catheral itu sudah di sulap menjadi tempat untuk saksi bisu pengucapan janji suci sepasang pria dan wanita itu. Ulasan senyum bahagia mengembang di wajahnya saat melihat calon pengantinnya sedang berjalan ke arahnya.


Lordeus mengandeng Gabby dan menyerahkannya pada pria pilihan anaknya.


Kedua calon pengantin itu saling melempar senyuman. Terlihat sangat bahagia, apa lagi calon pengantin pria.


“I’m Marvel Salvatrucha—” Pria itu mulai mengucapkan janji sucinya dengan lantang dan lancar.


Begitu juga dengan Gabby, dia mengucapkan janji sucinya dengan lancar juga.


Mereka kini resmi menjadi sepasang suami istri.


Gabby memilih Marvel, ia tak ingin menyakiti hati pria yang sangat tulus mencintainya. Ia tak ingin membuat perjuangan Marvel sia-sia. Ia tak ingin seperti Papanya yang tak membalas cinta Mamanya. Ia tahu betapa sakitnya diabaikan. Ia tak ingin memperlakukan Marvel seperti itu. Apa lagi, pria itu menerimanya apa adanya. Bahkan dirinya yang tak memiliki kehormatan lagi pun tetap diterima oleh Marvel, pria itu tetap mencintainya. Bagaimana bisa dia mengabaikan orang setulus itu.