
Gabby, Davis, dan Diora pun menatap ke arah bawah George. Ketiganya tak kuasa menahan tawa, hingga akhirnya mereka serempak menertawakan George.
George langsung reflek menutupi bagian yang menonjol itu dengan kedua tangannya. Matanya menatap tajam ke arah Gabby, rahangnya mengeras menahan gejolak emosi dan juga hawa panas di tubuhnya.
“Oh astaga ... kau bergairah tak tahu tempat sekali,” ejek Gabby disela tawanya.
“Kau sungguh mempermalukan, George.” Davis bergeleng kepala.
“Kenapa bisa seperti itu?” tanya Diora penasaran.
George berusaha biasa saja meskipun ada rasa malu yang sangat amat dalam pada dirinya. Ia berdehem sejenak. “Kau tanyakan saja pada sahabatmu itu apa yang sudah dia lakukan padaku,” ucapnya begitu tenang.
Kini tatapan mereka beralih kepada Gabby. “Kau melakukan apa dengannya?” selidik Diora.
Gabby mengedikkan bahunya. “Aku tak melakukan apa-apa.” Masih dengan menahan tawanya.
“Sudahlah, aku sudah tak mood untuk jalan-jalan. Aku pulang, kalian lanjutkan saja tanpa aku,” pamit George. Ia pun melenggangkan kakinya setelah sesuatu yang mengeras tadi sudah kembali pada posisi semula. Namun seketika ia berhenti dan berbalik. “Kau, ayo kembali! Kita menggunakan motor yang sama!” ajaknya pada Gabby.
“Pulang saja kau sendiri, lagi pula kuncinya ada padaku,” tolak Gabby.
“Oh ya?” George mengambil sesuatu di kantung celananya, lalu mengeluarkan benda yang sangat amat penting. Kunci. “Lalu ini apa?”
Gabby mencari-cari di pakaiannya. “Sial, pasti itu terjatuh.”
“Ku tunggu tiga puluh detik, jika kau tak segera menyusul, maka akan ku tinggal!” ancam George tak main-main.
Gabby mencebikkan bibirnya. “Aku duluan, kalian jika masih ingin jalan-jalan, berdua saja tak apa, kan?” Diora mengangguk.
Gabby pun segera menyusul George yang sudah kembali berjalan.
“Tunggu, aku harus mengembalikan pakaian ini dan berganti,” ujar Gabby ketika ia sudah sejajar dengan George.
Tak berselang lama, Gabby sudah keluar mengenakan pakaiannya sendiri.
Mereka berdua langsung berjalan menuju tempat parkir.
“Kenapa kau melakukan itu padaku? Dasar wanita penggoda!”
“Cih! Bahkan aku tak melakukan apapun padamu, milikmu saja yang mudah terbangun!”
George menghentikan langkahnya, membiarkan Gabby berjalan mendahuluinya. Dia tatap punggung wanita itu sejenak. Ia tak tahu mengapa tubuhnya begitu mudah merespon dengan wanita jenis satu itu, padahal tak ada feminim-feminimnya sama sekali. Bahkan dengan mantan kekasihnya pun responnya tak secepat ketika bersama Gabby.
George pun menggelengkan kepalanya lalu berjalan kembali.
“Bagaimana rasanya dipermalukan di depan umum? Enak bukan? Jika kau tak ingin lebih ku permalukan lagi, maka jangan mengusik hidupku dan enyahlah,” ujar Gabby memberikan ancaman pada George yang berada di belakangnya.
“Aku tak akan mengusikmu, asal kau mengatakan maksud perkataanmu beberapa saat lalu,” sahut George.
“Perkataan apa? Bahkan aku sudah lupa dengan apa yang aku katakan,” bobong Gabby.
“Tentang kau yang mengataiku pria ingkar janji, apa maksudmu itu?” George memperjelas maksudnya.
“Aku tidak merasa mengatakannya, telingamu pasti salah dengar!” tampik Gabby.
Mereka pun sampai di tempat parkir. Gabby langsung naik ke atas motor. “Mana kuncinya.” Ia menengadahkan tangannya. “Aku tak akan mengerjaimu lagi,” imbuhnya meyakinkan, karena George tak kunjung memberikan kunci.
“Aku akan memberikannya setelah kau mengatakan tentang ucapanmu tentang diriku yang ingkar janji.”
Gabby tak menanggapi, ia memilih mundur duduk di belakang dan membiarkan George yang mengemudi. Bisa saja ia langsung mengatakan tentang janji yang mereka buat, namun rasanya tak adil baginya jika hanya dirinya yang selalu mengingat hal itu. Ego wanita itu cukup tinggi.