Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 166



“Apa seburuk itu Papa di matamu? Mana mungkin aku menuntut menantuku sendiri,” elak Lord. Ia memang tak mengajukan tuntutan pada Marvel. Ia pun tak menyangka jika kejahatan menantunya dimasa lalu bisa terusut secepat ini. Padahal yang ia tahu, bahwa Jo—mantan orang kepercayaan Marvel yang tertangkap setelah Austin ditemukan.


“Ya! Seburuk itu Papa di mataku!” Rahang Gabby mengeras, tatapannya sangat marah, tangannya terkepal erat, dan dadanya naik turun. “Jika benar Papa yang melakukannya pada Marvel, aku tak akan pernah memaafkanmu! Jangan anggap aku anakmu! Aku tak sudi memiliki orang tua sepertimu! Egois!” Ia menunjuk Papanya sendiri tanpa sopan santun. “Aku membencimu! Aku menyesal terlahir dari orang tua seperti dirimu, bahkan tak ada kebaikan yang bisa ku contoh darimu!”


Gabby terus mengutarakan segala kebenciannya pada Papanya. Ia tak perduli dengan George yang terus mencoba menenangkannya. Bahkan ia menepis tangan pria itu. Tak perduli jika itu juga pria yang ia cintai. Yang ia pikirkan saat ini adalah nasib suaminya.


Lord merasa sakit dibenci oleh anaknya sendiri. Ia tak menyangka jika Gabby bisa mengatakan ujaran kebencian padanya. Ia juga tak tahu jika semua perbuatannya ternyata perlahan menanamkan kebencian di hati Gabby.


Lord mencoba meraih tangan anaknya.


Namun Gabby perhalan mundur ke belakang. “Jangan menyentuhku, aku tak sudi dipegang oleh manusia sepertimu,” sinisnya.


Tangan Lord akhirnya hanya bisa meraih udara saja. Sungguh kali ini ia tengah mendapatkan bumerang dari hasil didikannya sendiri. “Percayalah padaku, aku tak melakukan semua yang kau tuduhkan padaku.” Ia mencoba menjelaskan pada Gabby jika semua berawal dari Sanchez yang dijebloskan ke dalam penjara oleh Davis, lalu terusut hingga ke sindikat yang paling berhubungan langsung dengan Marvel.


Gabby perlahan mundur ke belakang, ia menjauh dari keempat orang disana. “Stop!” Ia memberikan perintah untuk George agar berhenti saat pria itu hendak mengikutinya.


Gabby melayangkan tatapan tak suka pada Lord, kemudian beralih ke Davis, George, dan Diora.


“Kalian semua.” Tangannya menunjuk mereka semua. “Kalian tega menghancurkan kehidupanku! Apa salahku pada kalian? Kenapa kalian tega membuat hidupku menderita terus menerus!” raungnya.


“Kau!” Telunjuknya mengarah pada Lord. “Kau orang tua terburuk sepanjang masa!”


Diora mulai tak suka jika Gabby membenci orang tua mereka, ia ingin membela Lord—Papanya juga. “Gab, kau harus ingat. Dia Papamu, tak sepantasnya kau membencinya. Tanpa dia, kau tak akan ada di dunia ini,” ujarnya dengan lembut karena tak ingin memantikkan api ke bubuk mesiu itu.


Gabby mengalihkan pandangannya kepada kakaknya dan juga sahabatnya itu. “Diam kau! Tahu apa kau tentang hidupku? Kau tak tahu apa-apa! Bahkan, aku berharap tak terlahir di dunia ini jika aku tahu hidupku akan berakhir seperti ini! Aku tak pernah mengharapkan terlahir dari orang tua seperti dirinya! Kau juga harus tahu. Jika bukan karena Papamu yang memaksaku untuk selalu melindungimu, aku tak akan terjerumus dibidang yang tak pernah aku sukai! Aku ingin menjadi ilmuwan dibidang sains, tapi apa? Aku harus mengikutimu dibidang arsitektur. Papamu yang kau agung-agungkan itu, dia tak memikirkan masa depanku! Dia hanya memikirkanmu!” Ia mengeluarkan segalanya.


Gabby menitikan air matanya saat ia mengatakan semua yang mengganjal di hatinya.