
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun telah berlalu. Gabby menjalani hidupnya seperti biasanya. Ia kini tinggal di rumah yang dibelikan oleh Marvel untuk hadiah pernikahannya dengan Marvel.
Gabby masih menggeluti profesinya sebagai seorang content creators di youtube. Semua peralatan untuk menunjang karirnya itu sudah dipindahkan ke rumah sederhana namun terlihat elegant bangunan interiornya dan asri halamannya.
“Mommy ...,” rengek bocah kecil berusia dua setengah tahun itu.
“Ya?” Gabby yang tengah asik membuat desain di depan MacBook nya menghentikan aktivitas tangannya dan menatap anaknya.
“Hungry ....” Bocah laki-laki itu merengek kelaparan sambil memegangi perutnya. Ia menarik-narik ujung dress yang dipakai oleh Mommynya.
Gabby terkekeh, anaknya itu sangat manja dengannya. Anaknya tak mau makan jika bukan masakannya. Ia sudah belajar memasak, sehingga tak akan takut jika masakannya gosong sama seperti saat pertama kali ia belajar Memasak dengan Marvel.
“Oke, ayo kita turun. Mommy akan memasak untukmu dan juga Daddy.” Gabby menyimpan file hasil ia mendesain dan mematikan MacBook nya. Ia lalu berdiri dan hendak menggandeng anaknya. Tapi ...
“Gendong.” Bocah itu merentangkan tangannya meminta Mommy nya untuk membopongnya.
Gabby terkekeh gemas dengan anaknya. Ia mencubit pipi bulat itu sebelum akhirnya menggendong anaknya untuk turun ke bawah.
Gabby menurunkan anaknya setelah sampai di dapur. Ia mengambil apronnya untuk berperang bersama dengan bahan-bahan masakan.
“Tunggu di sini, ya? Mommy masak dulu,” pinta Gabby dengan lembut. Ia mengusap rambut yang masih sangat halus itu.
Gabby mulai bekerja dengan pisaunya.
“Mommy, aku mau main di depan.” Anak laki-laki itu sungguh bosan menunggu Mommy nya memasak. Ia meminta izin dengan gaya bicaranya khas anak seumurannya.
Gabby menengok sejenak ke anaknya. Ia mengangguk memberikan izin. “Jangan keluar pagar.”
“Okay.” Tubuh mungil itu segera turun dari kursi. Ia lalu keluar pintu dan bermain di halaman depan, tempat saat Marvel ditangkap oleh polisi.
Gabby tak menggunakan jasa babysitter, ia juga tak memiliki asisten rumah tangga. Semua ia lakukan sendiri. Gabby begitu menikmati perannya menjadi seorang Mommy, istri, dan wanita karir.
Seorang pria tampan menyembul keluar dari kendaraan roda empat itu. Ia langsung membuka pagar dan berjalan dengan mengulas senyuman.
“Hei ... Jagoan, kenapa sendirian? Di mana Mommymu?” tanya pria itu. Ia menghampiri tubuh kecil yang dikelilingi oleh ratusan mainan hadiah ulang tahun kedua.
Ikut duduk bersimpuh di atas rerumputan itu. Dua pria beda generasi saling bermain bersama.
“Daddy punya hadiah untukmu,” ujar pria itu.
“Sungguh?” Bocah kecil itu terlihat antusias.
“Tentu saja. Kau mau lihat?”
“Mau ... mau ....” Bocah itu begitu senang akan mendapatkan hadiah.
Pria itu kembali ke mobilnya untuk mengambil sebuah bingkai besar yang tertutup oleh kertas coklat dan juga beberapa papperbag berisi mainan. Ia kembali ke anaknya.
“Ini untukmu.” Ia memberikan papperbag itu kepada anaknya.
“Yeay ....” Anak itu terlihat gembira menerimanya. Ia bahkan melompat kegirangan. Padahal ia sudah sangat sering mendapatkan hadiah. “Itu untuk siapa?” Ia bertanya menunjuk bingkai berukuran besar.
“Ini untuk Mommy.”
Gabby yang sudah menyelesaikan masakannya pun keluar untuk menghampiri anaknya. Ia berhenti sejenak di ambang pintu saat melihat anaknya tak sendiri.
“Marvel ...,” panggil Gabby.
Dua pria beda generasi itu sama-sama menengok ke sumber suara. Keduanya melemparkan senyuman saat wanita yang mereka cintai terlihat mendekat ke arah mereka.
“Kau sudah pulang?” tanya Gabby pada suaminya.