Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 164



George sudah memicingkan matanya menatap Gabby. Ia hendak maju untuk menjadi sebagaimana imajinasi Ko Ching-Teng difilm You’re The Apple of My Eye.


“Eits ... dia sudah menjadi milikku, dilarang keras menciumnya.” Marvel langsung merengkuh tubuh Gabby dengan posesif.


Marvel lalu mengajak mereka semua ke rumah barunya yang sengaja ia beli sebagai hadiah pernikahan untuk Gabby.


Rumah sederhana dengan halaman yang luas ditambah pepohonan yang menjulang tinggi, membuat suasana rumah itu menjadi asri apa lagi saat musim semi seperti saat ini.


Di halaman yang luas itu, Marvel sudah menyiapkan semuanya. Pesta barbeque hanya untuk perayaan kecil-kecilan dengan keluarga barunya.


Mereka duduk di kursi kayu yang tersedia di sana. Cukup jika untuk enam orang dewasa.


Anak-anak Diora dijaga oleh babysitter di dalam rumah. Sedangkan Natalie sudah tak lagi berdaya dan tak bisa apa-apa, hanya terbaring tak berdaya di atas ranjang saja dengan bantuan alat medis untuk penyambung hidupnya.


“Biar aku yang memanggang untuk kalian,” ujar George mengajukan dirinya. Ia sedang ingin mengindari kemesraan pengantin baru itu. Hatinya tak cukup kuat ternyata.


Tanpa menunggu jawaban, George langsung berdiri dan menuju alat pemanggang. Ia memanggang semua daging yang tersedia di sana.


Davis berinisiatif untuk membantu sahabatnya, ia mengambil capitan dan membalikkan daging yang sudah matang di satu sisinya.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Davis tanpa mengalihkan pandangannya dari pemanggang.


George mengedikkan bahunya. “Entahlah, aku lega setelah mengatakan cinta padanya. Tapi aku juga sakit saat dia tak memilihku,” jawabnya.


George mendengus mendengar omelan Davis untuknya. “Aku tak tahu jika kata cinta ternyata sangat dibutuhkan oleh wanita. Jika aku tahu, pasti akan aku lakukan.”


Ingin rasanya Davis memukul kepala George, namun ia urungkan. Mengingat suasana hati George yang sedang galau. “Kau harus belajar masalah cinta denganku.”


George melirik Davis dengan tatapan tak sukanya. “Belajar denganmu? Belajar terobsesi dengan wanita dan memaksakan kehendak untuk memilikinya dengan menghalalkan segala cara? Itu maksudmu?”


Davis menggelengkan pelan kepalanya seraya berdecak. “Jangan lupakan jika kau juga ikut andil dalam rencanaku itu,” kelakarnya mengingatkan.


George kembali melihat daging yang ia panggang. “Menyesal aku membantumu.”


Selesai memanggang semua bahan yang tersedia, George dan Davis membawa hidangannya ke atas meja.


Lagi-lagi George bertemu pandang dengan Gabby. Ia mengulas senyum untuk wanita itu.


Hidangan itu mulai disantap, Marvel menyuapi Gabby dengan penuh cinta. Begitu juga dengan Gabby, ia pun menyuapi Marvel.


Aku lega melepasmu jika kau bahagia. George bergumam di dalam hatinya. Ia lalu melanjutkan makannya tanpa mendongakkan kepalanya. Ia ingin menghindari melihat kemesraan di depan matanya.


Saat semua sedang makan dengan penuh suka cita, bunyi derap langkah beberapa orang dari pinggir jalan terdengar menuju ke arah halaman rumah Marvel di mana pesta itu dilangsungkan.


Semuanya bersamaan menatap ke arah suara itu. Terlihat beberapa orang menggunakan baju berlengan panjang berwarna navy dengan senjata laras panjang yang mereka bawa di depan tubuh masing-masing.