
Selepas keluar dari Cathedral, Gabby menyuruh anak buah Marvel untuk turun dari mobilnya. Ia masuk ke dalam dan mengunci seluruh pintunya agar dua pria itu tak bisa masuk. Ia langsung melajukan kendaraannya, meninggalkan si brewok dan si klimis.
Tujuan Gabby yaitu pemakaman Mamanya. Sesuai bajunya saat ini. Air matanya masih terus mengalir di sepanjang perjalanan. Masih teringat jelas ekspresi Lord tadi.
Gabby segera turun dari mobilnya setelah sampai. Kakinya buru-buru menuju di mana makam Mamanya. Menumpahkan segala kesedihannya di sana.
“Ma, aku datang lagi.”
“Ma, hari ini hari ulang tahunku, Papa memberiku kado yang sangat tak terlupakan. Rasa sakit. Sakit sekali ma rasanya saat melihat tatapan itu, aku hanya ingin Papa tak melupakan Mama. Itu saja.”
Gabby menghembuskan nafasnya, menjeda ucapannya sejenak.
“Mereka tak ada yang mengingat ulang tahunku, Ma. Hari ini aku menginjak dua puluh tahun, sepertinya hanya Mama yang mengingat itu.”
“Tapi tak apa ma, aku sudah biasa dikesampingkan. Mungkin mereka terlalu senang dengan pernikahan yang baru saja berlangsung.”
“Sudahlah ma, kita jangan membahas Papa. Hanya membuatku sakit saja.”
“Biasanya Diora selalu mengingatnya, tapi sepertinya dia lupa. Mungkin efek hamil bisa membuatnya lupa. Iya kah ma? Apa hamil bisa membuat orang juga pelupa? Ah mungkin dia sedang banyak pikiran. Aku tak mengharapkan dia mengingat juga. Dia sudah memiliki keluarga kecilnya sendiri dan hidup bahagia.”
“Ma, aku sedang bingung dengan perasaanku. Ada dua orang yang membuatku pusing untuk memilih. Aku bingung harus memilih siapa. Marvel atau George. Marvel sudah jelas mencintaiku, namun George belum.”
“Marvel sudah bertekad untuk berhenti dan memenuhi segala persyaratanku, dia menyetujui dan akan membuktikan bahwa dia mencintaiku, Ma.”
“Tapi George, dia juga akhir-akhir ini sangat baik padaku. Bahkan dia mengambilkan ponselku yang karam di dasar laut dalam.”
“Ma, aku sungguh bingung.”
Gabby berdialog dengan batu nisan itu, tak perduli tulang belulang di balik tanah itu mendengarnya atau tidak. Dia hanya ingin mencurahkan isi hatinya pada orang yang ia cintai itu.
“Tapi, jika aku memilih bersama orang yang aku cintai, aku takut hanya bertepuk sebelah tangan saja.”
“Cinta ini sungguh membingungkan.”
Gabby merebahkan tubuhnya di rumput itu. Menatap langit sore. Menikmati kesunyian yang menenangkan itu. Ia terus bercerita hingga tak ada lagi yang ingin ia ceritakan.
“Ma, aku pulang dulu. Malam ini mereka mengajakku pesta barbeque. Mungkin ini juga rencana Diora untuk merayakan ulang tahunku. Aku harus bersiap-siap.”
Setelah berpamitan, ia kembali ke mobilnya. Melajukan kembali kendaraan roda empat itu menuju apartemennya.
George, ia sedari tadi mengamati Gabby dari jauh. Ia hanya memastikan Gabby aman dan baik-baik saja. Ia tak mendengar semua yang diucapkan oleh Gabby. Ia juga mengikuti Gabby hingga ke apartemen. Setelah memastikan Gabby sampai, ia baru pergi. Nanti ia akan kembali lagi untuk menjemput.
...........
Gabby merebahkan dirinya di sofa, tubuhnya lelah, hatinya juga. Mengapa hidupnya sangat miris. Helaan nafas kasar itu terus menerus keluar dari mulutnya. Matanya terpejam dengan tangan yang menutupinya.
Ting ... tong ...
Bel unitnya berbunyi berulang kali, membuatnya mau tak mau harus membukakan pintu karena terganggu.
“Selamat ulang tahun ....”
Letupan konveti mengamburkan kertas berwarna warni ke tubuh Gabby. Mengotori pakaian dan juga lantai.
Gabby tak menyangka jika ada yang mengingat ulang tahunnya, ia kira semuanya melupakannya. Hatinya menghangat kini. Ia tak sepenuhnya dilupakan. Sepertinya, dia harus mempertimbangkan pria yang ada di hadapannya kini.