
Meja paling ujung restoran itu menjadi pilihan terbaik untuk kedua pria itu berbincang hal yang sepertinya serius. Pria yang menemui Marvel sengaja memilih meja yang paling jauh dari Gabby duduk. Tak ingin perbincangan terdengar oleh wanita itu.
“Bagaimana kabarmu, Jo?” tanya Marvel pada mantan orang kepercayaannya itu.
“Baik, tuan,” jawab Jo.
“Jangan panggil aku tuan, aku bukan tuanmu lagi.”
“Baik, tuan ... eh, Marvel.”
“Kau sekarang bekerja di mana? Bagaimana mantan anak buahku yang lain? Apakah mereka semua mendapatkan pekerjaan baru?”
“Semua sudah berpencar ke negara-negara berbeda, aku sudah jarang mendapatkan kabar lagi setelah kau memutuskan untuk berhenti.”
Marvel mengangguk, ada perasaan tak enak pada ratusan orang yang ia pecat karena keputusannya berhenti itu. “Maafkan aku, aku hanya ingin memperjuangkan cintaku,” sesalnya.
“Tak masalah, memang kita hidup butuh seorang pendamping untuk menemani masa tua kita, kelak.”
Marvel mengangguk setuju. “Aku akan segera menikah dengan Gabby, datanglah jika kau senggang.”
“Aku turut bahagia, tapi—” Jo nampak ragu untuk mengatakan sesuatu. Ia tak ingin merusak kebahagiaan Marvel yang baru saja didapatkan setelah sekian lama tak terlihat bahagia.
“Tapi, apa? Katakan saja,” desak Marvel yang mulai penasaran.
Jo menggelengkan kepalanya. Ia tak boleh merusak kebahagiaan mantan tuannya itu. Lebih baik ia menyimpannya sendiri saja dan melindungi dari jauh. “Aku lupa ingin mengatakan apa,” kilahnya. “Sepertinya tak terlalu penting, sehingga aku melupakannya,” imbuhnya.
“Kau itu, membuatku penasaran saja,” kekeh Marvel.
“Kau sungguh sudah berhenti, kan?” Jo ingin memastikan hasil dari penyembuhan Marvel.
Marvel mengangguk. “Aku sudah sembuh, tapi masih dalam pengawasan,” jawabnya.
Marvel terkekeh. “Kau memang menggangu, Jo. Tapi tak masalah, kita sudah lama tak bertemu.”
“Aku minta nomor barumu. Agar kita mudah untuk berkomunikasi.” Jo memberikan ponselnya pada Marvel agar menuliskan nomornya.
“Sudah? Apa kau menemuiku hanya untuk meminta nomorku?”
Tidak, ada hal penting lagi, tapi aku tak ingin menghancurkan kebahagiaanmu. Jo tak bisa mengatakannya, ia berdialog di dalam hatinya.
“Iya, aku rindu dengan omelanmu,” kelakar Jo.
Membuat Marvel bergidik geli. “Segeralah cari pasangan, agar kau itu tak menggelikan seperti itu.”
“Aku hanya bercanda, aku memang merindukanmu. Karena sudah terbiasa bekerja denganmu, bukan merindukanmu karena aku suka denganmu.” Jo meluruskan tuduhan Marvel yang berpikiran negatif tentangnya.
“Jika tak ada yang ingin kau sampaikan lagi, aku mau kembali ke wanitaku.” Marvel menatap penuh cinta ke arah Gabby yang belum juga memulai makan karena menunggunya.
Jo mengangguk dan mempersilahkan Marvel untuk kembali.
...........
Area pemakaman yang terletak di samping danau itu menjadi destinasi selanjutnya oleh calon suami istri yang sudah mantap untuk menikah. Mama Gabby dan orang tua Marvel dimakamkan pada komplek pemakaman yang sama.
“Ma, aku datang lagi. Sekarang, aku datang tak sendirian lagi seperti biasanya,” ujar Gabby.
Setelah meminta restu pada orang tua Marvel yang bahkan sudah tak dapat mendengar ucapan mereka, kedua manusia itu beralih ke makam Mama Gabby yang sama halnya tak akan dapat mendengar apa yang disampaikannya.
Gabby menatap Marvel, pria itu menyunggingkan senyum manis dan menawannya. “Aku akhirnya menentukan pilihanku, Ma. Pria di sampingku ini. Akhirnya aku memilihnya.”
Gabby terisak saat mengatakannya, tak tahu apa yang membuatnya menangis. Entah itu air mata kebahagiaan karena akan menikah dengan orang yang mencintainya, atau air mata kesedihan karena tak mendapatkan cintanya.