
Seorang pria muda, tampan, gagah, dan tak kalah berkarisma dari George tengah mendengarkan laporan anak buahnya dari balik earphone yang tersemat di telinganya.
Pyar!
Bunyi pecahan gelas yang berhamburan di lantai memperjelas betapa marahnya pria itu saat ini. Wine yang belum sempat ia minum itu sudah membasahi marmer.
Anak buahnya yang berada di ruangan itu hanya mampu menunduk tanpa berani menatap tuannya.
“Jo!” serunya.
“Ya, Tuan?” sahut pria bernama Jonathan itu. Ia segera menegakkan tubuhnya dan menatap lawan bicaranya. Tuannya tak suka jika lawan bicaranya tak memandangnya.
“Segera cari tahu tentang pria itu!” perintahnya tanpa mau dibantah sedikitpun. Ia melemparkan iPad berisi foto Gabby dan George pada Jo.
Jo gelagapan, untung saja ia berhasil meraih iPadnya. Jika tidak, maka tangannya akan dipenggal karena dianggap tak cekatan oleh tuannya. “Baik, Tuan.” Ia membungkuk memberikan hormat sebelum melakukan tugasnya.
“Satu menit waktumu untuk mencari tahu semuanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun!” titahnya lagi dengan sorot mata tajamnya. “Kau tahu kan akibatnya jika tak memenuhi standar kerjaku?”
“Laksanakan, Tuan.” Jo tak bisa membantah tuannya, semua yang diucapkan harus terpenuhi.
Jo segera keluar, tak ingin membuang waktunya yang hanya sebiji pakcoy. Benar-benar hanya satu menit, Jo kembali lagi ke ruangan tuannya dengan membawa informasi yang diminta.
“Ini, Tuan.” Ia menyerahkan kembali iPad yang sudah berisi informasi tentang George.
Pria itu membanting iPadnya. “Untuk apa mereka ke toko perhiasan, Jo?” Rahangnya mengeras, amarahnya memuncak. Ia tak rela wanita yang ia cintai bersama pria lain.
“Sepertinya membeli cincin, Tuan,” celetuk Jo. Ia langsung mengatupkan mulutnya. Sepertinya sebuah kesalahan telah mengucapkan hal yang membuat tuannya murka.
Pyar!
Sebuah vas bunga melayang di udara, hampir mengenai kepala Jo. Namun tuannya sengaja membuat vas itu melintasi kepala Jo saja.
“Siapkan mobil sekarang juga! Kita ke sana!” titahnya penuh ketegasan.
...........
Sementara itu, George dan Gabby yang masih berada di dalam mall tengah berada di salah satu toko perhiasan ternama. Mereka tak mengikuti Davis dan Diora pergi. Tadinya Gabby berfikir bahwa dirinya hanya diajak untuk mengekori sepasang suami istri itu. Ternyata tidak. George mengajaknya mendekati etalase dimana cincin bertabur berlian dipajang di sana.
“Pilihlah, cincin mana yang kau suka,” perintah George membuat Gabby menatapnya penuh tanya.
“Untuk apa? Kau ingin memamerkan padaku jika kau itu sangat kaya?” tuduh Gabby. “Tak perlu kau itu memperlihatkan padaku seberapa kayanya dirimu!”
“Pilih saja, model mana yang paling kau suka. Aku tak ada maksud memamerkan kekayaanku padamu. Bukankah aku sudah mengatakan ingin membuktikan sesuatu? Inilah yang ingin aku buktikan,” ujar George.
“Bukti apa? Bukti kesombonganmu?”
George menghembuskan nafasnya. Sabar! “Pilih saja, apa susahnya memilih?”
“Aku tak suka perhiasan!”
“Oke, kalau begitu biarkan aku saja yang memilih,” tawar George.
“Terserah!” sahut Gabby malas.
“Berikan cincin yang terbaik di sini,” titah George pada pegawai toko perhiasan yang sedari tadi menjadi saksi pertengkarannya.
Tak lama, pegawai itu keluar membawakan apa yang diminta oleh George. George pun langsung menyetujui dan membayarnya.
“Kita makan dulu,” ajak George. Ia menggandeng tangan Gabby yang malas mengikutinya.
Keduanya kini duduk berhadapan di restoran Ravintola. Restoran terbaik dan terenak di sana. Sembari menunggu pesanan datang, George mengeluarkan kotak cincin yang baru saja ia beli.
“Inilah yang ingin aku buktikan padamu. Keseriusanku, aku ingin melamarmu dan membuktikan bahwa aku bukanlah pria yang ingkar janji.” Ia membuka kotak perhiasan itu dan memperlihatkan isinya kepada Gabby. Cincin dengan berlian berwarna biru tua. “Maukah kau menerima lamaranku?”