
“Jo! Kenapa kau tak mengatakan sedari tadi jika ponsel Gabby tak bisa dilacak karena mati!” Marvel berseru tepat di telinga Jo. Ia begitu kesal dengan orang yang sudah bekerja dengannya lebih dari lima tahun itu, setelah ia membaca isi pesan Max.
“Maaf, tuan. Aku masih menunggu Max mengerahkan kemampuannya hingga mendapatkan hasil yang memuaskan.” Jo mencoba menjelaskan alasannya.
“Kau tahu apa artinya jika ponsel mati?”
Jo mengangguk mengerti.
“Apa?”
“Tak akan bisa diretas ataupun dilacak, tuan,” jawab Jo.
“Itu kau tahu! Jika kau bilang sedari tadi, kita tak akan membuang-buang waktu di sini terlalu lama!” sentak Marvel. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi. Membuang nafasnya melalui mulutnya dengan kasar.
“Aku hanya menunggu untuk memberi jawaban pasti, mungkin saja Nona Gabby menghidupkan ponselnya.” Jo mencoba memberikan alasan yang menurutnya masuk akal.
“Argh ....” Marvel mengeram dengan kedua tangan memegang kepalanya.
Jo panik dengan tuannya yang berteriak seperti itu. Ia melepaskan seatbelt dan berpindah ke kursi di belakang. “Tuan sakit?” tanyanya ikut memegang kepala tuannya.
Marvel menepis tangan Jo dengan kasar dan matanya tajam menghunus. “Ya! Aku pusing dengan anak buahku yang ada saja kelakuannya hingga membuat pelipisku selalu berdenyut!”
“Maaf, tuan. Aku tak bermaksud membuatmu pusing.” Jo menunduk penuh penyesalan.
Marvel berangsung menggeser pantatnya agar menjauh dari Jo. “Kembali ke tempatmu!” titahnya. “Hubungi George sekarang juga! Kita tak bisa menunggu lebih lama tanpa tahu kondisi Gabby,” imbuhnya. Akhirnya Marvel mengesampingkan egonya demi keselamatan Gabby.
Jo mengangguk, ia kembali ke kursi untuk pengemudi. Ia menegok ke belakang menatap tuannya.
“Apa lagi?” tanya Marvel dengan nada tinggi.
“Ponselku, tuan.” Jo menunjuk benda yang ada di samping tuannya.
Marvel melemparkan ponsel Jo hingga tepat terjatuh di paha pria itu.
Jo membuka kuncinya, namun jarinya tak juga bergerak menggulirkan layar ponselnya. Ia justru melihat lagi ke arah tuannya yang tengah menatap ke luar jendela dengan tangan kiri memijit pelipis. “Em ... tuan?”
“Hm?” sahut Marvel tanpa memalingkan pandangannya.
“Aku tak memiliki nomor Tuan George, apakah Tuan Marvel punya?” Hati-hati Jo bertanya.
Marvel tetap pada posisi semula, namun matanya bergerak melirik Jo. “Kau pikir untuk apa aku menyimpan nomor sainganku?”
“Argh ....” Marvel mengacak-acak rambutnya. “Kau itu pintar menasehatiku tapi kenapa kau itu bodoh sekali hanya masalah nomor! Sepertinya, semua anak buahku harus belajar lagi agar pintar!” berangnya frustasi menghadapi kelakuan anak buahnya. Beberapa waktu lalu ia dibuat bergeleng kepala oleh kebodohan Jack, kali ini Jo.
“Hubungi nomor perusahaan tempatnya bekerja! Bilang ada urusan penting dan mendesak dengan George agar kau disambungkan ke intercomnya!”
Jo mengangguk dan mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.
“Kau tahu kan di mana dia bekerja?” Jo menjawab dengan anggukan.
“Kau tahu kan di mana harus mencari nomornya?”
“Di web Triple D Corp, tuan,” jawab Jo.
“Bagus! Segera lakukan sekarang juga! Kita sudah terlalu lama terjebak di sini tanpa tahu kondisi Gabby.”
Jo mulai mengetikkan nomor perusahaan Triple D Corp dan menekan tombol hijau. Panggilan itu pun langsung diangkat oleh resepsionis perusahaan.
“Selamat siang, dengan perusahaan Triple D Corp, ada yang bisa dibantu?”
“Halo, selamat siang. Bisa tolong sambungkan dengan Tuan George?”
“Loudspeaker!” titah Marvel agar ia juga bisa mendengar.
Jo pun menuruti tuannya.
“Maaf, saya sedang bicara dengan siapa?”
“Marvel.” Sang pemilik suaralah yang menjawab.
“Baik, Tuan Marvel, mohon ditunggu. Saya akan menanyakan terlebih dahulu dengan sekretarisnya.”
Tak berselang lama, resepsionis itu kembali berbicara. “Maaf, tuan. Tuan George sedang ada rapat.”
Marvel meniup rambutnya yang menyentuh keningnya. “Katakan padanya, bahwa ini adalah urusan penting menyangkut keselamatan orang yang dia cintai dan tidak dapat ditunda lagi! Aku tak dapat menghubungi nomor George karena ponselnya mati,” ujarnya memberikan alasan.
Mendengar alasan Marvel yang terdengar sangat penting, resepsionis itu kembali menghubungi sekretaris George.
“Halo?” sapa George.