Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 125



George menyempatkan untuk melihat ke arah Gabby saat mobilnya berhenti di lampu merah. “Karena Davis menawariku sahamnya lima persen jika mau melakukan permintaan istrinya.” Ia kembali melihat ke depan.


Saat itu juga, Gabby menengok ke arah George. Kau terlalu berharap lebih Gabby! Apa yang kau harapkan? Kata cinta? Sepertinya memang tak ada cinta untukmu, kau hanya bertepuk sebelah tangan.


“Apa kau tahu? Itu adalah ciuman pertamaku, dan kau mengambilnya tanpa izin!” Gabby kesal, ia kecewa dengan harapannya sendiri.


“Bagus, berarti aku yang pertama untukmu.” George menengok ke samping dengan tangan terus memegang stir kemudi. Keduanya saling berpandangan.


“Tapi, aku bukan yang pertama bagimu!”


“Ya, memang benar. Tapi, bagaimana jika kau yang terakhir untukku?”


Diam, atmosfer di dalam mobil itu menjadi memanas. Bahkan ac mobil yang mengeluarkan udara dingin itu pun tak menyejukkan untuk Gabby. Gabby tak bisa menanggapinya. Ia memalingkan wajahnya, tak ingin melihat mata tajam George yang masih menelisiknya.


Tin ... tin ...


Kendaraan di belakangnya mulai bersahut-sahutan membunyikan klakson karena lampu Sudah hijau, namun George tak melajukan mobilnya.


George kembali fokus ke jalan. Ia tak memaksa Gabby untuk menjawabnya. Keduanya saling diam hingga mobil sampai di aprtemen Gabby.


“Sudah sampai,” ujar George, ia membuka lock door mobilnya.


Gabby langsung membuka seatbeltnya. Ia sudah membuka pintu, kakinya pun sudah keluar satu dan siap beranjak pergi.


“Pikirkan baik-baik pertanyaanku tadi,” ujar George sebelum Gabby benar-benar keluar.


“Dan, pikirkan baik-baik pertanyaanku saat di Ravintola,” balas Gabby. Ia langsung keluar dan membanting pintunya. Ia berjalan masuk ke gedung tinggi itu tanpa berbalik sedikitpun.


Menghembuskan nafasnya sejenak, sungguh sulit memahami wanita satu itu. George melajukan mobilnya lagi untuk kembali ke apartemennya.


...........


Di dalam kamarnya, Gabby mulai memasukkan pakaian ke dalam kopernya. Tekadnya sudah bulat akan pergi tanpa jejak. Lagi pula, semuanya sudah bahagia. Tak ada lagi yang membutuhkanya. Papanya sudah menemukan cintanya dan berbahagia, Diora sudah bersama orang yang mencintainya dan hidup bahagia. Kini gilirannya mencari kebahagiaan bersama orang yang mencintainya juga.


Dan juga, tak ada yang mengingat hari penting dan bersejarah untuknya. Kecuali Marvel yang sudah jelas memang mencintainya.


“Diora saja bisa membalas cintanya pada Davis, aku pasti juga bisa membalas cinta Marvel padaku! Aku pasti akan hidup bahagia bersamanya. Buktinya, Diora juga bahagia kan bersama orang yang mencintainya! Untuk apa aku mengharapkan cinta dari manusia yang tak peka seperti George, harus berapa kali aku mengatakan padanya agar memikirkan posisiku di hatinya? Lelah juga lama-lama menunggunya sadar.” Gabby terus berdialog dengan dirinya sendiri hingga selesai mempacking pakaiannya.


Gabby menghubungi Marvel jika dia sudah siap untuk pergi. Ia juga mengingatkan pada Marvel agar meretas semua CCTV dan jangan meninggalkan jejak sedikitpun. Marvel pun melakukannya, ia juga mengatakan akan segera menjemputnya.


Wanita itu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, merebahkan tubuhnya untuk istirahat sejenak. Setelah puas bersantai, ia kembali duduk untuk menatap kamarnya dari sudut hingga ke sudut dan berhenti pada sebuah papperbag yang diberikan oleh George.


Gabby berdiri dan berjalan untuk melihat isi papperbag itu. Ia mengambil ponsel lamanya, melepas gantungannya untuk dia bawa pergi. Lalu meletakkan benda pipih yang sudah rusak itu di atas meja karena yang ia inginkan hanya gantungan cincin miliknya.


Tangannya kembali melihat isi papperbag itu. Ada box ponsel keluaran perusahaan California yang sama persis dengan milik Gabby yang baru. Ia ingat ucapan George untuk melihat isinya. Ia hendak mengambilnya, namun ponselnya berbunyi. Ia pun mengurungkan niatnya untuk membuka pemberian George itu.


Gabby mengangkat telefon dari Marvel. Pria itu menginformasikan bahwa sudah sampai di apartmen Gabby. Gabby segera mengangkat kopernya. Ia turun untuk menemui Marvel dan pergi ke pedesaan tempat rehabilitasi Marvel akan dilakukan. Ia tak ingin menunda kepergiannya dan tak ingin membuat Marvel menunggu.


Gabby belum sempat melihat pemberian George. Ia meninggalkan begitu saja di atas meja. Ia hanya membawa gantungannya saja yang ada cincin peninggalan Mamanya.


Padahal, di dalam box itu ada kartu ucapan selamat ulang tahun dari George. Pria itu sengaja tak langsung memberikan ponsel Gabby yang sudah rusak. Ia menunggu ulang tahun Gabby untuk memberikannya sebagai kado yang mungkin terindah untuk Gabby karena sangat berharga.